Surat Buat Nirmala dan Pesan Buat Teman

Halo Nirmala. Apa kabarmu?

Aku teringat. Hari ini aku teringat pada hari terakhirku di DWO. Hari itu, di meja rapat, Dan Ji dan Ganesh Sir memberikan penghargaan, apresiasi tinggi kepadaku. Apresiasi itu masih tercetak rapi di atas selembar kertas berkepala-surat hijau, kop DWO. Kata mereka aku telah melakukan hal-hal yang baik. Bermanfaat. Berharga.

Orang-orang DWO memang orang yang baik atau bagaimana ya? Sempat aku takut mendapatkan ‘pelepasan’ yang dingin dari kalian. Aku tidak melakukan apa-apa. Aku tidak berguna. Tidak ada yang dapat kulakukan bagi kalian dan DWO. Eh ternyata kalian melepasku dengan sangat hormat.

Dengan menjaga senyum tapi tetap spontan mengerutkan alis, aku perhatikan lekat-lekat raut muka Dan Ji dan Ganesh Sir. Di wajah itu, mata itu, gurat garis itu, adakah ekspresi jijik lantaran berbohong? Adakah ekspresi ramah tamah demi formalitas yang santun?

Wajah Dan Ji menyebalkan, seperti biasa. Dan wajah Ganesh Sir tenang, dingin, apresiatif. Seperti biasa.

Tidak tahu aku mesti berterima kasih atau justru marah atas cara kalian melepasku. Penghargaan dan pujian yang terlampau tinggi itu membuatku merasa sangat artificial. Sangat palsu. Manipulatif. Aku merasa makin rendah, seolah kalian sedang berbaik hati ingin melindungi diriku, dari diriku sendiri.

Di sisi lain, jika saja kalian ‘mengusirku’ dengan bahu dingin hari itu, akankah aku selamat hari ini? Dapatkah aku pulang dengan diri yang utuh? Yang kini ingin kembali mengunjungi Khadka Ghaun?

Hari itu, Nirmala, aku mengatakan sejujurnya padamu. Bahwa aku tidak merasa pantas mendapatkan semua apresiasi itu. Bahwa aku tidak melakukan apapun bagi DWO.

Nirmala, baru hari itulah aku merasakan, atau menyadari ulang, bahwa kamu adalah perempuan yang lebih dewasa. Berjarak umur lima tahun lebih tua dariku. Kamu adalah seorang Didi. Saat itu tanpa banyak pilihan kata kamu langsung menyanggah kata-kataku. Dengan wajahmu yang kecil dan manis itu, alis berkerut seolah tidak habis pikir, seolah ada sesuatu yang nyata-nyata eksis tidak tertangkap oleh indra dan akalku.

Katamu, tentu saja aku berguna.

Nirmala Di, aku rasa itulah apresiasi yang menyelamatkan seluruh diriku. Aku tidak menerima sertifikat atau dokumen tertulis apapun darimu, tapi begitu kamu mengatakannya hatiku menjadi hangat. Paling tidak aku sudah bisa menjadi teman bagimu. Juga Mcala. Ya kan? Kalaupun bukan bagi DWO, aku sudah berguna bagimu. Ya kan? Aku memutuskan untuk menerima dan mempercayainya tanpa berpikir terlalu dalam.

Esoknya, saat aku tak lagi berjalan selama 40 menit menuju kantor, kamu menelepon. You miss me? Dan dengan tawa renyah kamu bilang, tentu saja, itu sudah jelas dan tidak perlu dikatakan lagi.

Didi, aku bahagia sekali di titik itu.


Aku menemukan surat-tidak-sampai yang nadanya menggantung ini di halaman belakang logbook ungu K2N. Aku rasa waktu itu aku menuliskan ini agar mendapatkan ketenangan sekali lagi dari kata-kata Nirmala.

Bahwa aku berguna, tentu saja.

Pola ini sudah menjadi bagian dari diriku sejak entah kapan. Aku ingat pernah melarang seseorang memujiku, karena dengan hal itu aku merasa semakin rendah. Belakangan aku belajar untuk berterima kasih ketika menerima pujian. Tidak perlu terlalu dipikirkan.


Pada permulaan dua hari lalu, seseorang mengirimkan pesan singkat padaku: Fin. Menurutmu, keunggulanku apa? 

Ini pertanyaan reflektif yang khas. Beberapa tahun lalu ada orang-orang yang kerap mengirim dan kukirimi pesan serupa: [masukkan nama orang di sini]minta evaluasi buat aku.

Kembali pada si pengirim pesan. Dia adalah seseorang dengan kecerdasan dan ke-grapyak-an yang selalu kukagumi. Yang selalu berusaha melampaui ketakutan khas bungsu yang menyelimutinya. Yang terlalu sering minta maaf atas hal yang bukan salahnya.

Daripada menyebutkan berbagai keunggulan yang dia miliki (dan, dengan cara itu, membuatnya merasa lebih baik karena ke-kurang-unggul-an orang lain), aku lebih ingin bilang padanya bahwa kita tidak perlu saling membandingkan.

Urip iku dewean. Mati yo dewean. Kita tidak pernah dituntut untuk jadi sehebat/lebih hebat dari orang lain.

Dengan itu, semoga hatinya jadi hangat biarpun sedikit.

Dan hatiku juga.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s