Hamdalah, Basmalah.

Sekumpulan orang, puluhan, atau bahkan ratusan, berkumpul membentuk lingkaran berantakan. Tangan mereka terjulur ke pusat lingkaran, saling menyentuh, atau saling menjaga agar tidak menyentuh. Kemudian bersama-sama mereka menyerukan,

“Alhamdulillaahirabbil’aalamiin..”

yang segera disusul dengan,

“..Bismillaahirrahmaanirrahiim..”

Selanjutnya dilengkapi dengan berbagai jargon yang relevan, entah jargon generasi, jargon kepanitiaan, atau jargon organisasi.

Aku kembali merefleksi tradisi ini. Tradisi yang baru kukenal pada tujuh tahun yang lalu, di sebuah sekolah yang lokasinya dekat Grand City. Itu adalah sebuah tos. Umum dilakukan pada penghujung suatu kegiatan. Berguna untuk mendongkrak kembali semangat setiap orang.

Hari-hari ini, aku merasa tantangan hidup seolah ra uwis uwis. Ditolak, digertak, diabaikan, berganti topik, menyusun alat, menulis, bla-bla-bla, meragu sendirian, mengejar izin, sidang, membatalkan tiket, revisi, membereskan urusan perintilan..

Hari-hari ini, kalau berkumpul dengan teman aku banyak mendengar keluhan. Alat ukur tidak reliabel, dosen sibuk, penggantian variabel di masa kritis, psikosomatis, social comparison, ketakutan, kekesalan..

Hari-hari ini, aku merasa seolah kedamaian dan ketenangan itu cuma mitos yang kita kejar tapi tidak akan pernah kita dapatkan.

Lalu aku mengingat lagi tos-tos yang pernah kulakukan tujuh, enam, lima, empat tahun yang lalu. Di mana setiap hamdalah selalu disusul dengan basmalah.

Aku yakin, dan masih berusaha yakin, bahwa ini bukan perulangan yang sia-sia. Ada hal-hal baru yang aku rasakan, pelajari, pahami. Setiap keluar dari satu lingkaran, aku sudah dijemput oleh lingkaran lain. Pada saat itu aku-nya sudah berubah. Mungkin sudah ketambahan jurus baru, atau ketambahan sekian sentimeter lebaran dada. Berubah jadi semakin buruk juga mungkin saja. Dan transformasi diri ini saja lah yang perlu aku urusi. Memastikan bahwa diri sendiri keluar dari satu lingkaran dengan keadaan selamat, lebih baik dari sebelum masuknya.

Dan kemudian berucap, alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Berpuji pada Allah, Tuhan seluruh alam. Bersyukur atas apa-apa yang sudah terjadi dan yang sudah diusahakan.

Dan kemudian berucap, bismillaahirrahmaanirrahiim. Dengan nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Memulai lagi langkah-langkah perjuangan.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Hamdalah, Basmalah.”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s