Tentang Bagaimana Rasanya Pulang ke Rumah

“Kamu kangen nggak sama rumah? Aku nggak pernah meninggalkan rumah ini jadi aku nggak tau gimana rasanya.”

Itu pertanyaan dari kakakku kemarin, sebagai penutup obrolan tengah malam kami. Walaupun bentuknya pertanyaan, tapi selesai mengatakannya dia langsung masuk kamar tanpa menunggu jawabanku. Apa coba maksudnya? Dasar..

Pertanyaan itu membuatku kepikiran. Jadi aku akan coba menjawabnya di sini.

Terhadap rumah, tentu aku rindu sekali. Sebagai ‘perantau’, rumah sudah menjadi simbol sebuah kedamaian abstrak yang selalu kurindukan, apalagi selama empat bulan terakhir ini. Aku menjaga kesakralan simbol ini dengan menolak menyebut kegiatan kembali ke kamar kost sebagai ‘pulang’. Karena kamar itu bukanlah rumah, hanya tempat singgah.

Tapi aku merasakan suatu kejanggalan sejak kepulanganku yang pertama kali. Aku pernah menuliskannya di post yang ini. Saat itu tahun 2011. Pulang ke rumah ternyata tidak membuatku merasa damai. Sebaliknya, ada rasa cemas dan terasing. Pada kepulangan-kepulangan selanjutnya, aku mulai terbiasa dengan rasa-rasa itu. Aku pun mulai mengamati dan merenungkan apa-apa yang menyebabkannya.

Dan kesimpulanku begini..

Rumah ini, meskipun benda mati, ternyata tidak pernah diam. Ia berubah, sebagaimana aku yang pergi darinya dan orang-orang yang tetap di dalamnya pun berubah. Setiap aku kembali ke dalam bangunan ini, selalu ada yang berbeda dari sebelumnya. Tiba-tiba kamarku jadi terlalu rapi dan daun pintu kamar mandi sudah diganti. Letak lemari sudah berubah beberapa kali. Dan juga.. tiba-tiba ada bayi, yang pada kepulangan berikutnya tiba-tiba sudah bisa lari-lari. Begitulah. Rumah yang aku kenali sebagai ‘rumah’ pelan-pelan terkikis dan.. menghilang.

Empat tahun lalu aku tidak sadar bahwa begitu meninggalkan rumah aku tidak akan bisa sepenuhnya pulang lagi. Sekarang, ‘rumah’ menjadi simbol sebuah kedamaian abstrak yang hanya bisa kurindukan, tapi tidak bisa kutinggali. Di sisi lain, signifikansi rumah mungkin tidak akan pernah muncul kalau aku tidak meninggalkannya. Nah. Kok rasanya ruwet begini..

Dari segala renungan itu, bagiku ada satu kejelasan yang nyata. Bahwa kedamaian itu tidak akan bisa kudapat dari luar. Maka aku mulai (dan masih terus) membangun rumah di dalam diri sendiri. Dalam hati.

Omong-omong, ada satu yang tidak berubah. Atmosfer kamar ini selalu membuatku merasa ingin terjaga sampai dini hari.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

3 thoughts on “Tentang Bagaimana Rasanya Pulang ke Rumah”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s