Logbook K2N UI 2014 + 1 tahun

Apakah untuk memberdayakan orang lain, sekelompok masyarakat lain, kita bisa mengambil sudut pandang kesetaraan alih-alih diri sendiri menjadi sosok yang lebih tinggi? Kalau saya merasa tidak lebih tahu, dari mana akan timbul kesadaran untuk membagi pengetahuan? Sementara keinsafan bahwa diri lebih tahu adalah posisi yang sangat berbahaya.

Apa yang akan saya lakukan di sini?

Aku tidak tahu bagaimana rupa Kuliah Kerja Nyata di kampusmu. Kalau di tempatku, K2N adalah mata kuliah semester pendek pilihan berbobot 3 SKS yang bisa menjadi pengganti mata kuliah magang. Tahun lalu, saat mengikuti K2N aku ditempatkan di Desa Pembeliangan, Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. (Coba klik di sini untuk membaca beberapa post yang pernah kutulis mengenai Desa Pembeliangan.)

Setiap peserta K2N ditugaskan menulis catatan refleksi setiap hari dalam logbook. Penugasan ini terbukti sangat bermanfaat. Selain sebagai media penyaluran unek-unek dan laporan harian, logbook juga menjadi kotak penyimpan kenangan yang relatif objektif. Paling tidak dengan membacanya aku bisa menghindar dari kembang-kembang romantisasi masa lalu.

Kata-kata yang di atas sana adalah sepenggal paragraf yang aku tulis di logbook pada hari pertama K2N 2014. Sok-sokan. Serba penuh keraguan, seperti biasa.

Dan setahun tiba-tiba sudah berlalu. Saat ini aku kembali menghadapi K2N, tapi dalam posisi yang berbeda. Aku tidak lagi menulis-nulis logbook, malah membaca dan memparafinya. Aku seperti menyaksikan orang lain berada dalam posisiku, setahun lalu.

Maka hari ini, saat kembali membuka-buka logbook-ku, aku merasa sungguh bersyukur. Syukur untuk pengalaman menginjakkan kaki ke tanah yang jauh dari rumah, ya tentu saja. Tapi syukur yang lebih utama adalah untuk pertemuan dengan orang-orang ini: Firman, Zahrina, Fai, Tanto, Eva, Embun, Hani. Dalam posisiku saat ini yang menjadi ‘saksi’ dinamika sekelompok manusia, aku bersyukur memiliki mereka di tahun lalu. Syukur untuk setiap canggung, kesal, sungkan, dan gesekan. Syukur untuk kehangatan yang bertahan sampai sekarang. Yah, semoga awet, sampai selamanya.

Selamat setahunan, guys. :))

Zahrina, Eva, Hani, Aku, Embun, Fai, Tanto, minus Firman.
Zahrina, Eva, Hani, Aku, Embun, Fai, Tanto, minus Firman.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s