Logbook K2N 2014 + 1 Tahun (Hari ke-4)

Pagi ini suasana mencekam. Kami duduk menghadap spageti masing-masing. Setiap orang dengan pikirannya masing-masing, diam.

Begitulah yang tertulis di logbook-ku pada 8 Agustus tahun lalu, hari ke-4 K2N UI 2014. Spageti? Iya, mengantisipasi harga yang mahal di Kalimantan, kami akhirnya membawa beberapa bahan makanan dari rumah masing-masing. Pagi itu, menurut ingatanku, kami masih sangat kukuh mempertahankan prinsip untuk makan bersama-sama setiap paginya. Kami belum mulai makan karena menunggu Pak Made yang masih mandi, entah sadar atau tidak bahwa tengah kami tunggui.

Di hari ke-4 itu aku masih rajin menulis logbook. Aku ingat betul bahwa di malam harinya, paragraf pertama di atas sudah tertulis. Aku menulisnya untuk mengingatkan diri sendiri tentang bagaimana ngerinya, dinginnya suasana pagi itu. Aku tidak ingat penyebabnya. Hanya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.

Malamnya, ketika aku memberanikan diri mengangkat masalah ini ke permukaan kesadaran teman-teman yang lain, sebuah pertanyaan filosofis menusukku. Kurang lebih seperti ini: “Kalau kamu tidak menuliskan tentang pagi itu, kalau kamu tidak mengingat suasananya, apakah masalah itu ada?”

Wow.

Bagiku ini pertanyaan yang sangat dalam dan mendasar. Nadanya seperti pertanyaan tentang apakah realitas itu. Tentang apakah sesuatu hanya nyata jika kita mempersepsinya. Tentang apakah pohon yang tumbang di tengah hutan rimba tanpa ada manusia dan hewan itu sesungguhnya.. tumbang.. atau tidak.

Pak Karyanto lah orang yang pernah menerangkan padaku tentang analogi air got dan air terjun. Air got itu kelihatannya tenang, tapi keruh. Sedangkan air terjun itu kelihatannya ramai bergemuruh, tapi jernih. Dengan analogi ini ia ingin menerangkan bahwa situasi yang tampak tenang-tenang saja itu tidak selalu baik. Bisa saja ketenangan itu menyembunyikan masalah yang pekat. Kita kadang membutuhkan konflik yang mengaduk-aduk, mengacaukan damainya suasana, tapi sesungguhnya menjernihkan. Dalam hal ini aku cukup setuju dengannya. Kita membutuhkan konflik.

Satu tahun kemudian, hari ini, aku menyaksikan dinamika sekelompok orang yang tiba-tiba harus hidup bersama. Bibit-bibit konflik bermunculan. Mereka bisa memilih jalan air got atau air terjun. Eh. Barangkali jika dibiarkan tenang, pekatnya masalah itu lama-lama akan mengendap juga, meninggalkan air yang jernih. Barangkali kita tidak selalu membutuhkan aduk-adukan konflik.

Malam ini, aku bertanya-tanya lagi. Apakah masalah itu sesungguhnya ada? Apakah kalau aku tidak pernah membahasnya, hasilnya akan berbeda? Apakah avoidance itu akan muncul kalau aku tidak mengusik ketenangan self-defence-nya? Mungkin saja.

Maafkan aku.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s