Nguping Bocah: Kenapa?

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, enam belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada jadwal spesifik yang sudah disiapkan untuk setiap kegiatan. Ada jam tertentu untuk berhitung, membaca, menulis, mewarnai, makan siang, dan lain-lain. Akan tetapi sebagian anak belum cukup terbiasa dengan model belajar ini. Bagi mereka, sangat mengherankan mengapa harus menahan diri dari melakukan hal yang  disenangi untuk sesuatu yang lain.

Seperti ini..

Guru: “Lho Ivan, sekarang waktunya kita mewarnai. Ayo buku ceritanya dimasukkan dulu.”
Ivan: (dengan ekspresi tersinggung dan nada tajam) “Kenapa?”
Guru: (tertegun)

.. Dan kadang, ketika dihadapkan pada anak-anak seperti ini, orang dewasa (untuk sesaat) tergerak untuk bertanya di dalam hati: Iya ya, kenapa? Memangnya kenapa harus?

Pola yang sama pernah kutemui di rumah dari interaksi kakakku dan anaknya yang berusia hampir tiga tahun.

Ibunya: “Lho Biq, kok stikernya ditempel-tempel di situ to?”
Anaknya: “Aku seneng kok.”
Ibunya: “… Oh.. yawes.”

Pada banyak hal yang ‘mubah’, orang dewasa sering kali sudah memiliki bingkai pikir yang kaku. Berinteraksi dengan anak-anak (dan menguping omongan mereka) kadang membuatku berpikir tentang apa yang esensial dan apa yang trivial. Begitulah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Nguping Bocah: Kenapa?”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s