Nguping Bocah: Standar Ganda Ahimsa

Sekolah dasar di daerah urban yang beberapa hari ini kuceritakan berbeda dari sekolah dasar konvensional. Misalnya saja, kelas-kelas mereka bukanlah bangunan beton kubus yang dihiasi sekian jendela. Ruang kelas mereka kebanyakan adalah saung-saung kayu yang berdiri di atas kolam ikan. Tidak jarang ikan-ikan yang mulutnya ‘haub-haub’ itu mengalihkan perhatian anak-anak dari kegiatan kelas.

A: “Eh matiin ikan yuk.”
B: “Gak boleh tau matiin ikan. Matiin semut aja ga boleh.”
A: “Emang kenapa?”
B: “Gak boleh tau, dosa. Nanti di neraka kamu di.. di.. dianuin sama ikannya.”
A: “Aku matiin semut. Semut.. ini.. semut yang merah besar.”
B: “Oh kalo itu sih ga papa.”

Terdengar mirip dengan mereka yang berseru lantang ‘barbar sekali engkau memakan daging anjing sahabat manusia yang tidak berdosa’ sambil berkata santai ‘kalau ayam sih memang sudah nasibnya dibiakkan, digemukkan, dan dibantai secara massal, itu sih ga papa’.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

One thought on “Nguping Bocah: Standar Ganda Ahimsa”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s