Pavilion of Women oleh Pearl S. Buck

Ketika mertuanya yang laki-laki mengetahui bahwa dia pandai membaca dan menulis, dia membawanya ke kamar bacaan ini dan menunjukkan semua buku-buku yang ada di sini… kemudian sambil menunjuk ke buku-buku yang dibungkus dengan kertas biru dan letaknya terpisah, dia berkata, “Buku-buku yang ini bukan untukmu, Anakku.”

“Apakah karena saya seorang perempuan?” tanya Madame Wu waktu itu.

Dia mengangguk lalu menambahkan, “Tapi putraku sendiri pun tak kuizinkan membacanya sebelum dia berumur lima belas tahun.”

“Jadi, sudahkah suami saya membacanya?” tanyanya lagi.

Mertuanya terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kurasa sudah. Aku tak pernah bertanya. Tapi kurasa semua orang muda sudah membacanya; sebab itu kukatakan kepada putraku waktu itu, ‘Jika kau mau membaca buku ini, tunggu sampai kau berumur lima belas. Tapi harus kaubaca dalam kamar ini, jangan disembunyikan dalam buku pelajaranmu.’” Buku-buku itu memang tak pernah disembunyikan.

Madame Wu bertanya lagi, “Ayah, apakah menurut pendapat Ayah, pikiran saya ini tak mungkin bisa berkembang melebihi pikiran suami saya ketika dia berumur lima belas tahun?”

Mertuanya mengerutkan dahinya dan diam lagi sejenak sebelum menjawab, “Aku bisa melihat bahwa engkau memang melebihi kecerdasan wanita biasa,” katanya. “Aku malah bisa berkata, bahwa seandainya otakmu itu berada dalam tengkorak laki-laki, kau pasti akan bisa mengikuti ujian negara, untuk kemudian bisa menjadi pegawai negara. Tapi otakmu tersimpan dalam tengkorak wanita, jadi darah wanita lah yang mengalir ke dalamnya dan detak jantung wanita pula lah yang sampai ke sana, dan….. dia harus pula memengaruhi seluruh hidup kewanitaannya. Tak baik bagi seorang wanita kalau perkembangan otaknya melebihi tubuhnya.”

Sehubungan dengan kata-kata mertuanya itu, sebenarnya ada suatu hal yang ingin ditanyakannya, tetapi karena menurut pertimbangannya pertanyaannya itu terlalu ‘kasar’, apalagi karena dia yakin, bahwa mertuanya sayang padanya dan tentu mengerti bagaimana perasaannya, maka dia hanya bertanya, “Jadi Ayah, apakah itu berarti bahwa bagi seorang wanita tubuhnya lebih penting daripada otaknya?”

Mertuanya mengeluh mendengar pertanyaan itu. Orang tua itu duduk di kursi jati. Kini Madame Wu sendiri duduk di kursi itu mengenang masa yang sudah lama berlalu itu. Sebelum dia menjawab, mertuanya mengusap janggutnya yang putih dan wajahnya murung ketika berkata, “Sebagaimana terbukti dalam kehidupan, memang tubuh wanita lebih penting daripada otaknya. Hanya wanita lah yang dapat menciptakan hidup baru. Tanpa wanita, umat manusia akan punah. Alam telah memberikan kehidupan dalam tubuhnya. Sebab itu tubuhnya amat berharga bagi kemanusiaan. Laki-laki hanya punya bibit; wanita lah yang akan menjadikannya bunga dan buah dalam bentuk yang lain daripadanya sendiri.”

Madame Wu yang waktu itu baru berumur enam belas tahun berdiri di hadapan mertuanya dan mengikuti dengan baik-baik apa-apa yang dikatakannya, kemudian bertanya lagi, “Lalu untuk apa saya punya otak? Bukankah saya hanya seorang wanita?”

Mertuanya menggeleng dan sambil menatapnya menjawab, “Entahlah… Engkau sebenarnya malah tak butuh otak… engkau begitu cantik.” Keduanya tertawa.

Tapi kemudian mertuanya berkata lagi dengan bersungguh-sungguh, “Tahukah engkau, bahwa pertanyaan yang kautanyakan tadi itu sering timbul dalam benakku sendiri? Lebih-lebih setelah kedatanganmu ke rumah ini. Kemudian ternyata bahwa engkau juga cerdas, hingga bolehlah aku berkata, bahwa pundi-pundi emas kami telah bertambah dengan sebuah permata lagi. Namun aku pun tahu bahwa sebenarnya dalam rumahku ini, kita tidak begitu membutuhkan kecerdasan, sedikit pun sudah cukup lah untuk memperhatikan pembukuan rumah tangga dan mengawasi para pembantu dan orang-orang bawahan.” …… “Tapi engkau cerdas sekali dan mempunyai pengamatan yang tajam. Apa yang akan kau perbuat dengan itu…. aku pun tak tahu. Jika yang memiliki kecerdasan dan pengamatan yang tajam itu seorang wanita yang rendah budinya, aku akan kuatir, karena dengan demikian dia akan mendatangkan kesulitan dalam rumahku ini. Tapi aku yakin engkau tidak demikian, karena meskipun masih sangat muda engkau bijaksana dan engkau dapat mengendalikan diri.”

Waktu itulah mertuanya itu baru sadar, bahwa selama itu dia berdiri saja di depan mertuanya dan lalu segera menyuruhnya duduk dan menambahkan, “Mulai sekarang engkau tak perlu berdiri ketika sedang bersamaku.” Tapi dia belum habis bertanya, sebab itu sambil mengambil tempat dia bertanya.

“Lalu apakah cinta suami saya akan berkurang karena keadaan saya yang demikian?” Mendengar pertanyaan itu mertuanya menatapnya, tangannya yang kurus dan kulitnya yang sudah berkerut itu kembali mengusap janggutnya.

“Aku sendiri pun ingin tahu akan hal itu,” jawabnya, kemudian mengeluh… “Kecerdasan adalah suatu pembawaan yang berharga sekali bagi manusia; namun juga suatu beban yang berat. Lebih daripada harta dan kemiskinan, kecerdasan itu memisah-misahkan manusia, hingga manusia mungkin jadi bersahabat atau bermusuhan oleh karenanya. Si Bodoh takut dan membenci si Pandai. Yang penting diketahui oleh seorang yang cerdas ialah bahwa dengan kecerdasan itu dia tak akan dapat memperoleh cinta kasih dari orang yang kurang pandainya.”

“Mengapa?” tanya Madame Wu yang menjadi ketakutan. Dia mula-mula merasa bangga, bahwa dia cerdas… tapi kini mertuanya berkata bahwa dia mungkin dibenci orang oleh karenanya.

“Sebab cinta yang utama dalam hati laki-laki adalah cintanya pada dirinya sendiri. Alam telah menempatkan cinta diri sendiri itu di tempat yang paling tinggi dalam hati laki-laki, untuk menjamin kemauan hidupnya, betapapun kesulitan yang mungkin dihadapinya. Nah, bila cinta diri itu dilukai tak ada satu pun cinta lain yang dapat tumbuh lagi. Dan jika cinta diri itu dilukai terlalu berat maka kemauannya untuk hidup pun akan lenyap.”

“Kalau begitu suami saya akan membenci saya kah?”

Meskipun mertuanya tidak mengatakannya, nyata baginya bahwa mertuanya tahu dia lebih cerdas daripada suaminya dan kini orang tua itu memberinya peringatan, “Anakku. Tak ada seorang laki-laki pun yang rela seorang perempuan lebih pandai daripadanya, apalagi kalau perempuan itu tinggal di rumahnya dan tidur setempat tidur dengannya. Mungkin dia berkata, bahwa dia memuja perempuan itu, tapi apalah artinya pemujaan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang laki-laki tak mungkin bisa mengawini seorang dewi. Dia tidak akan cukup kuat untuk itu.”

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Pavilion of Women oleh Pearl S. Buck”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s