Ia Tinggal Dekat Stasiun

Ia tinggal dekat stasiun. Lima menit berjalan kaki.

Setiap kali merasakan sesak hebat di dada, ia akan pergi ke stasiun. Ia pergi untuk melihat orang-orang yang melangkah terburu, pergi mengejar entah-apa. Kepergian-kepergian beruntun itu akan menghadirkan perasaan yang seirama dengan sesak dadanya. Itulah penjelasan yang ia pilih. Jadi ia bisa berkata pada diri sendiri, “Ah, aku ini sedih sekali karena ditinggalkan semua orang.” Kalau tidak begitu, kepalanya akan pusing, putus asa menganalisis penyebab sesaknya.

Kadang ia membawa serta jajanan untuk bahan kunyahan. Favoritnya adalah lidi super pedas. Setiap butir bumbu menghadirkan perih di sekujur lidah. Kalau ia berhenti perihnya malah semakin menjadi, berpadu dengan rasa hampa.

Kurang lebih, begitulah hidupnya.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

4 thoughts on “Ia Tinggal Dekat Stasiun”

    1. Dalam tulisan ini, aku membayangkan makanan pedas serta kunjungan ke stasiun sebagai suatu cara untuk menegaskan rasa sakit. Sama dengan tindakan menyilet-nyilet tangan. Ada rasa ‘thrilling’, ada kepuasan, ada penasaran.

      Like

  1. menurutku, perilaku “menambah rasa sakit” (seperti menyilet tangan, makan makanan amat pedas) itu untuk mengalihkan ‘perhatian otak’ dari sakit yang satu ke sakit yang baru. jadi pingin nyari artikel yang bahas beginian. haha

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s