Sedekah Tak Sampai

Alkisah, hiduplah seorang anak perempuan yang lugu dan tidak banyak meragu. Di sela kesibukannya bersekolah di SD dekat rumah dan main ceblek nyamuk, anak ini juga mengikuti les aritmatika. Kebetulan les aritmatikanya memiliki muatan islami. Para peserta les tidak hanya diajari menjentikkan biji sempoa ke atas dan ke bawah, tapi juga hafalan surat pendek serta hadits sehari-hari.

Sore itu, si anak perempuan diajarkan sebuah hadits baru tentang senyuman.

Tabassumuka fii wajhi akhiika laka shadaqah.
Artinya, senyummu di wajahmu di hadapan saudaramu adalah shadaqah.

Begitulah kakak gurunya berkata perlahan. Dengan segera hadits itu terekam di kepala. Tidak hanya itu, ia pun bertekad untuk mempraktikkan hadits itu dalam keseharian. Ia ingin lebih banyak tersenyum. Tidak terbatas kepada kawan-kawan, tapi juga pada orang-orang asing, pohon, dan langit.

Maka, suatu hari ketika sedang berada di atas boncengan motor ibunya, di antara desel-deselan jalanan padat Surabaya, anak perempuan ini tersenyum. Senyumnya jatuh kepada seorang wanita tembem yang juga tengah mengendarai motor. Dengan senyum itu ia bermaksud menyampaikan pesan solidaritas, “Huft. Macet ya. Panas ya. Ndak papa ya bu. Kita sama-sama bersabar ya.”

Tapi pesan itu tidak sampai. Frekuensinya tidak sesuai.

Wanita yang disenyumi mengerutkan alis, lantas bertanya heran, “Siapa dek?”

Anak perempuan itu masih tersenyum saja. “Kita nggak saling mengenal, bu. Tapi kita sedang merasakan terik yang sama. Kita menjadi saudara tanpa perlu saling mengenal.” Barangkali begitulah bunyi puisi yang mendengung dalam kepalanya.

Tapi wanita tadi masih tidak paham. Ia bertanya dengan nada lebih serius, “Lho siapa dek? Kenal ta?” Kemudian sepertinya ia bicara pada orang yang sedang diboncengnya, “Adek iku nggak popo ta?” ‘Adik itu tidak apa-apa kah?’

Yang didengar oleh si anak perempuan adalah versi sedikit berbeda: “Gila ya kamu, kok senyum-senyum sendiri?”

Senyumnya pun terputus di tengah-tengah. Ia memalingkan wajah, kembali fokus pada tengkuk ibunya.

Mungkin sejak itulah anak perempuan kita menjadi lebih kikuk dalam ‘bersedekah’. Jadi kalau kini kamu mendapati dia tersenyum lebih lebar pada kucing ketimbang pada candaanmu, maklumi saja. Kalau senyumnya dibarengi dengan kata-kata sinis, terima saja. Kalau dia menceritakan pengalaman masa lalu dengan nada apologia, biarkan saja. Mungkin kata-kata si wanita tembem pengendara motor masih menggema dengan nada prihatin,

Nggak popo ta?

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

2 thoughts on “Sedekah Tak Sampai”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s