Pindah

Seperti yang dapat dibaca baca laman perihal, aku mulai menulis di blog ini sekitar lima tahun lalu. Namanya—Out of Cave—pun menggambarkan apa yang saat itu tengah aku hadapi. Aku keluar dari rumah, berpindah tempat tinggal, sendirian. Aku tidak tahu bagaimana orang lain menghadapi hal semacam ini, tapi bagiku rasanya sangat… ugh, tidak menyenangkan. Aku merasa seperti kehilangan nutrisi. Setiap saat terasa melelahkan. Kehadiran teman dan suasana ramai justru membuat sepi semakin menjalar-jalar.

Awalnya aku tinggal di asrama. Tidak sampai sebulan berdiam di kamar baru, aku harus berpindah ke kamar di gedung lain. Jaraknya agak jauh. Mengangkut barang-barang memang cukup melelahkan, tapi aku merasakan kelelahan yang lebih berat secara mental. Malam itu aku menangis.

Beberapa bulan berselang, aku bisa merasa nyaman dengan kamar itu. Sayangnya, perbaikan lorong membuat aku harus berpindah kamar lagi ke gedung lain. Angkut-angkut lagi.

Sekitar enam bulan kemudian aku memilih untuk keluar dari asrama dan menyewa kamar kost. Angkut-angkut lagi..

Dua bulan kemudian, karena terlalu mahal dan terlalu jauh dari kampus, aku memutuskan berpindah kost. Kali ini aku harus ‘memarkirkan’ dulu barang-barangku di tempat seorang teman. Ini karena hingga tanggal sewa di tempat lama berakhir aku belum juga menemukan kost baru. Maka untuk kali ini angkut-angkutnya dobel…

Kamar kost yang kedua kutinggali sekitar tiga tahun. Lalu aku berpindah lagi.

Kamar kost yang ketiga ternyata tidak kutinggali lama-lama. Kurang dari dua bulan, dan aku pun mengepak barang-barang untuk berpindah lagi …ke sini.

Setiap kali mengepak dan mengangkut barang, terlintas di kepalaku: Nanti mau punya suami yang kaya aja ya Allah biar langsung punya rumah di tempat yang nyaman, nggak perlu ngontrak-ngontrak dan pindah-pindah….

Hahahah. Tentu saja itu cuma lintasan pikiran usil. Sebenarnya, semakin sering aku berpindah, pikiran usil itu pun semakin meredup. Kelelahan fisiknya tetap nyata, tapi kelelahan mentalnya sudah tidak seberapa. Berpindah-pindah, aku yakin, adalah bentuk latihan adaptasi yang baik. Mungkin kamu orang yang sudah dari sononya jago beradaptasi. Mungkin berpindah tidak pernah jadi urusan berat buatmu. Tapi bagiku berpindah adalah hal buesar. Berpindah melatihku jadi lebih pemberani, lebih siap menghadapi perubahan, dan lebih banyak belajar. ‘Lebih’ dari yang dulu lho, bukan lebih dari kamu. :)

Di atas semua itu, berpindah selalu mengingatkanku bahwa dunia yang aku pijak sekarang ini sebenarnya juga tempat singgah. Cepat atau lambat lagi-lagi aku akan berpindah. Dan untuk yang satu itu mungkin perjalanannya akan lebih jauh dari yang sudah-sudah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

3 thoughts on “Pindah”

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s