Hubungan Dunia Maya Kita, Dulu dan Sekarang

Suatu hari di tahun 2006 atau 2007, aku pulang dari sekolah dan pergi ke warnet. Just in case istilah ini mulai asing, warnet adalah warung internet. Untuk apakah aku pergi ke warnet? Untuk mengakses ilmu pengetahuan tanpa batas? Untuk menyebarkan petisi dari Green Peace? Untuk menyelamatkan dunia?

Bukan. Aku ke warnet untuk chatting.

Ew.

Ketika itu aku masih bersekolah di SMP dengan waktu luang yang sangat lapang. Kalau dipikir sekarang, aku juga tidak habis pikir bagaimana bisa bercakap tanpa substansi berarti dengan orang asing menjadi kegiatan yang rekreatif. Entahlah. Tapi seingatku chatting adalah kegiatan yang sangat umum di kalangan teman sebayaku.

Di zaman itu umumnya chatting dilaksanakan via mIRC. Aku menentukan suatu ID, bergabung dalam sebuah chatroom, dan secara asal memilih beberapa ID lain untuk diajak mengobrol. Sometimes it went wrong.. (bapak, ibu, mohon jaga anaknya masing-masing) . . sometimes it went dull. Tapi di antara lautan ID random itu, aku sempat berkenalan dengan satu manusia ‘betulan’. Namanya Fatkhi. Saat itu sedang berstatus mahasiswa.

Begini. Hubungan antara mahasiswa dan siswa SMP seperti ini kadang-kadang berjalan.. tidak sehat. Saat itu belum ada Tinder, tapi bukan berarti kopi darat yang berujung ‘romansa’ tidak ada. Beberapa temanku mengalaminya. Untungnya, dalam kasusku tidak ada hal aneh-aneh yang terjadi. Dari mIRC hubungan itu berlanjut melalui Friendster dan Yahoo Messenger. Kami tidak pernah bertemu dan tidak ada romansa, ew. :v

Aku tidak begitu ingat hal apa saja yang kami bicarakan. Seingatku dia berperilaku seperti orang tua, suka menasihati. Fatkhi adalah orang pertama yang mengenalkanku pada pemrograman sederhana menggunakan Pascal. Selanjutnya ia juga mengenalkanku pada temannya yang bernama Pungky.

Dengan mbak Pungky ini aku bahkan bertukar nomor telepon dan akhirnya bertemu… tanpa pamit pada orang tuaku! Waduh, coba bayangkan bagaimana nasibku kalau mereka ini sindikat pedagang manusia. Untung saja tidak. Aku pergi ke mall terdekat bersama Pungky untuk berfoto di photobox. Sebelum berpisah, Pungky menghadiahiku sekotak kue dan sebuah gantungan kunci. Keduanya buatan sendiri. Setelah memakan kuenya aku tidak keracunan atau hilang akal. Semua berjalan baik-baik saja.

Saat ini aku sudah kehilangan kontak dengan Fatkhi dan Pungky. Aku sudah mencoba meng-google nama mereka, tapi tidak mendapat hasil berarti. Kalau mengingat dua orang ini, aku merasa Allah sangat baik menjagaku di masa-masa labil itu. Selain itu Fatkhi dan Pungky menjadi penanda masa-masa awalku menggunakan internet.

Dulu, kita menggunakan identitas lain di internet. ID mIRC, alamat surel, nama Friendster, semua adalah alter ego. (Bukankah itu cara yang lebih aman ya?) Kini hal itu dikatakan ‘alay’. Sekarang, dengan memampang nama asli di Facebook, Twitter, Instagram, blog, Tumblr, semua orang bisa dengan mudah menggali informasi mengenai diri kita.

Dulu, kita menggunakan internet untuk menjangkau dunia di luar lingkaran kita, berkenalan dengan orang yang sama sekali baru. Dari layar komputer, kita bertemu di dunia nyata. Aku pertama kali mengenal Silvi melalui Friendster, dua tahun sebelum kami akhirnya duduk sebangku di SMA. Sekarang, sebaliknya, kita berkenalan di dunia nyata kemudian baru ‘mempertebal’ hubungan itu melalui pertemanan internet. “Eh, Path kamu apa? Sini aku add.” :v

Ah aku agak merindukan sensasi internet zaman dulu itu. Bagaimana kalau aku ganti nama menjadi pHinZ agar lebih eksotik? :3

Eh, kalau ada di antara kalian yang membaca ini dan tidak mengenalku di dunia nyata, mari berkenalan. :> (Kalau sebelumnya aku tidak menanggapi komentar kalian pada suatu post, percayalah itu karena aku terlalu bingung harus mengatakan apa…)

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

4 thoughts on “Hubungan Dunia Maya Kita, Dulu dan Sekarang”

  1. astaga… belajar pascal sewaktu SMP oleh teman mIRC. sungguh random sekali. wkwk
    aku rindu sensasi betapa langkanya internet waktu itu dan waktu di warnet yg tiap menitnya berharga, gegara sejam harus bayar 3000-5000an. (harga bensin seliter waktu itu Rp.4500an)

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s