Pohon Mangga yang Bermutasi dengan Ide-Ide Kita

untitled

Aku ingat pertama kali menggambar ‘ilustrasi’ di atas pada buku tulis, yang kemudian kusalin menggunakan aplikasi paint. File gambar itu ternyata tidak sirna bersama laptopku yang diterjang banjir. Gambar itu sudah aku simpan di atas awan Google Drive.

Gambar itu membantuku berpikir tentang sesuatu.

Aku membayangkan sebuah pohon yang seiring tumbuhnya terus bermutasi menjadi sesuatu yang bukan diri aslinya. Bayangkan saja ia bermula sebagai benih mangga. Entah karena kondisi tanah yang bagaimana, akar-akarnya tumbuh menjadi akar mangga dan akar jambu. Masih sama-sama tergolong akar tunggang, tapi tentu beda. Batangnya pun tumbuh mencabang menjadi seperti mangga dan jambu. Lebih aneh lagi ketika ranting-ranting kecil mulai tumbuh. Selain mangga dan jambu, muncul pula ranting durian dan apel. Daun-daunnya lebih beragam lagi: daun mangga, jambu, durian, apel, dan kini bahkan singkong serta pepaya. Bunganya menjelma warna-warni dari ontong sampai melati. Ragam buahnya pun mengalahkan pasar induk kramat jati. Ada buah kombinasi salak-sirsak, buah setengah duku setengah stroberi, bahkan campuran semangka-manggis-nangka.

Tapi, tetap, di antara semua mutasi itu masih ada garis pertumbuhan mangga yang sejati. Yang buahnya berupa mangga tulen, tidak sedikit pun menyelisihi mandat benihnya.

Nah sayangnya aku nggak jago menggambar. Akhirnya alih-alih pohon imajiner yang membingungkan itu, aku hanya menggores beberapa garis beserta tanda O dan X. Gambar itu berawal dari benih O yang terletak di atas, lalu bercabang menjadi O dan X.

Ketika itu aku sedang berpikir tentang bagaimana kita menilai sesuatu yang memiliki posisi sebagai buah, yakni hasil akhir dari garis panjang pertumbuhan selama sekian masa. Hasil akhir dari suatu benih yang terkubur.

Kita melihat buah mangga di antara bunga-bunga ontong dan merasa heran. Ini buah yang salah, harusnya nggak begini. Harusnya pisang. Padahal tidak. Mangga itu sudah benar. Ontong-nya lah yang merupakan kelainan.

Kita melihat buah kelapa di antara rimbunan janur dan blarak, lalu berpikir Oh, ini buah yang benar. Padahal tidak. Kelapa itu terlihat ‘benar’ karena kita hanya melihat sampai daun. Kita tidak merunut asal-usulnya dengan cukup jauh.

Bahkan ketika kita merunut hingga batang utama pohon dengan jeli, kita masih sangat mungkin salah. Nyatanya banyak orang kukuh menganggap bahwa ini pohon jambu.

Sementara itu segolongan besar orang lain.. Ah, ndak usah terlalu analitis la. Kita punya satu pohon dengan berjuta jenis buah. Petik dan makan saja mana yang kita suka. Kalau hari ini kepingin makan mangga ya petik mangga. Kalau besok kepingin makan rambutan, apa salahnya?

Memang sulit mengidentifikasi mana buah yang sejati benar. Benih itu sudah terkubur dan bertumbuh, tidak terlacak lagi. Dan lagi buah-buahan ini enak-enak semua kok.

…..

Apa kamu bisa memahaminya? Sejujurnya sampai sini aku merasa semakin bingung bagaimana cara menceritakan isi kepala. Mungkin harus diendapkan dulu untuk lain waktu dilanjutkan.

Terima kasih sudah bersabar membaca. :)

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s