whatsapp-image-2016-09-20-at-2-59-00-am

Cita-Citaku

“Tante Vivin cita-citanya pingin jadi apa?”

Itu bukan pertama kalinya Yuna, kelas 4 SD, bertanya soal cita-citaku. Kadang aku merasa pertanyaan macam ini sudah nggak cocok lagi untuk orang seumuranku. Oke, mungkin bukan nggak cocok. Semakin tua, pertanyaan ini menjadi semakin rumit untuk dijawab. Ketika SD mungkin pernyataan cita-cita hanyalah soal definisi identitas, individualitas. Sekarang cita-cita adalah soal tumpuk-tumpukan berbagai soal macam pertanggungjawaban, pengambilan keputusan, kesadaran diri, kekecewaan, persetujuan, kompromi, ‘takdir’… hmm apa lagi ya..

Aih. Begitulah. Cita-cita.

Malam itu, entah kesambet apa, aku lancar saja memberikan jawaban ini.

“Pingin jadi orang yang menyembuhkan luka hati orang lain.”

Pret. Mbelgedhes. Kata sebagian diriku di dalam…. :)

“Aah bukan gitu,” Yuna agak ragu menyalahkan. Mungkin dia menimbang apakah jawabanku masuk dalam kriteria cita-cita atau bukan. “Profesinya?”

Dan lisanku lancar menjawab, “Profesinya jadi pengangguran. Pengangguran profesional.” Jawaban yang sudah cukup sering asal kulontarkan pada teman-temanku. :))

Yuna jelas tampak tidak puas.

“Iya. Jadi orang yang pintar mengatur waktu sampai bisa punya waktu luang untuk nganggur. Terus nganggurnya dibuat untuk hal-hal bermanfaat. Kan ada tuh orang yang ngerasa sibuuuk terus setiap hari sampai nggak punya waktu luang. Padahal sebenarnya dia nggak ngapa-ngapain.”

Ha. Sebagian diriku sebenarnya agak ragu, ini bualan atau sungguhan.

“Jadi aku mau jadi pengangguran profesional. Bukan pengangguran amatiran.”

Gara-gara mengeluarkan istilah baru, Yuna menyambar dengan pertanyaan dan aku jadi kebingungan menjelaskan makna profesional, amatiran, serta perbedaan keduanya. Semoga nggak salah-salah amat.

Baik. Jadi… itulah sekelumit pengakuan tentang cita-citaku. Yah kalau Bu Septi Peni bisa mempopulerkan ibu profesional, maka aku akan mempopulerkan pengangguran profesional!!

 

 

 

 

 

..Halah.

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

3 thoughts on “Cita-Citaku”

  1. wkkkk <3 kalau aku, menceritakan cita2 abstrak kepada anak, walau kewalahan tapi kok rasanya asik asik aja ya.
    aku menemukan diriku kesusahan menjelaskan cita2 justru pada orang dewasa. gahaha.

    Like

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s