Lupa, Fragmen 1: Ayah

Ngambil rapor itu gimana sih?

Sejak seminggu yang lalu aku sudah mencari referensi tentang ‘mekanisme mengambil rapor anak SMP’ ke berbagai sumber. Jawabannya pun cukup sederhana. Aku hanya perlu datang, mencari kelas anakku, mengisi daftar hadir, dan menunggu giliran sampai wali kelas memanggil.

Biasanya wali kelas akan mendiskusikan hal-hal tertentu tentang si anak, memberitahu apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa diperbaiki. Dengan kata lain: basa basi. Aku tidak percaya wali kelas yang cuma bertatap muka (paling banyak) 3 jam dalam seminggu itu bisa mengingat kelakuan 30 anak di kelasnya.

Oke. Jadi sebenarnya cukup sederhana. Mengambil rapor tidak akan seribet mendaftar BPJS.

Tapi pagi ini pertanyaan itu kembali terulang di kepala. Mungkin aku agak deg-degan saja karena ini pengalaman pertama. Rapor-rapor Naya saat SD selalu diambil oleh ibunya. Kali ini, rapor pertama Naya di SMP, kondisi Ilma tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Aku sudah sampai di sekolah Naya. SMP dengan lapangan alakadarnya yang dikelilingi oleh deretan kelas tiga lantai. Katanya sih ini SMP favorit. Kalau aku jadi siswa, aku tidak mungkin akan mem-favorit-i SMP yang lahan main bolanya cuma seuprit dan warna catnya norak begini.

Di rumah tadi Naya sudah memberi ancer-ancer. Kelasnya ada di lantai dua, paling dekat dengan tangga. Jadi aku langsung menuju ke sana dan menuliskan nama di daftar hadir. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku paling belakang. Kelas sudah cukup ramai dengan ibu-ibu.


Rupanya nama siswa dipanggil berdasarkan urutan rata-rata nilai dari yang tertinggi. Setahuku sekolah jaman sekarang sudah tidak pakai ranking-ranking-an. Jadi ini pasti inisiatif mandiri dari wali kelas. Barangkali ia ingin menerapkan sedikit sistem reward and punishment… kepada orang tua murid.

Yah, cukup masuk akal sih. Orang tua dengan anak-anak pintar bisa pulang paling cepat. Mereka bisa berbangga sedikit ketika orang tua lain menyadari kehebatan anaknya. Di rumah ia akan ‘mengoper’ reward tersebut pada anaknya dalam bentuk puja-puji. Sementara itu orang tua dengan anak-anak mbeler yang terlalu lama menunggu giliran akan pulang dengan perasaan dongkol. Mereka kemudian ‘mengoper’ punishment pada anaknya dalam nada bicara ketus atau nasihat panjang.

Naya anak yang pintar. Aku duga ini ia peroleh dari faktor keturunan. Gen dari ayahnya ini memang, ahem, cukup berkualitas lah. Jadi aku pede saja akan dipanggil pada urutan-urutan awal. Mungkin bahkan yang pertama.

Hehe.

Tapi ternyata tidak. Sudah ada lima nama murid disebutkan. Naya bukan salah satunya.

Oke aku memang agak terlalu jumawa. Ini sekolah favorit, jadi murid-muridnya pasti.. ganas. Wajar kalau Naya tidak berada di urutan lima teratas.

Kemudian nama demi nama kembali disebutkan. Aku tidak menyimak secara pasti, tapi rasanya sudah ada belasan nama yang dipanggil. Aku mulai khawatir berada di kelas yang salah. Eh tapi tidak mungkin. Aku ingat tadi benar-benar melihat nama Naya di daftar murid kelas ini.

Kelas semakin sepi. Selain aku, tinggal tersisa tiga ibu-ibu lain. Dan satu per satu ibu-ibu itu dipanggil maju untuk menerima rapor anaknya. Ibu yang terakhir maju dengan alis mengkerut dan wajah takut-takut. Ketika ia akhirnya selesai mendengarkan ‘laporan’ dari wali kelas, ia menyempatkan menoleh ke arahku dan memberikan tatapan yang seolah berkata.. turut prihatin ya Pak.

Ini tidak benar. Pasti ada yang salah. Aku tahu Naya tidak sebodoh itu.

Sejenak wali kelas Naya merapikan mejanya. Sembari menepuk-nepuk tumpukan kertas, matanya menatap lurus ke arahku dari balik kacamata.

Setelah kuperhatikan lagi, guru Naya ini wajahnya jelek sekali. Lapisan bedak tebal dan lipstik merah tidak bisa menyembunyikan itu. Kulitnya keriput. Sudut-sudut matanya kendur. Rambutnya jelas-jelas hasil ‘pelurusan paksa’. Aku bisa melihat helaian rambut ikal yang memberontak di sekitar telinganya.

Aku curiga ia sebenarnya adalah seorang penyihir. Ia pasti sudah menjampi Naya sehingga kemampuan akademiknya merosot begini.

“Bapak Aziz, orang tua Sanaya?” keluar suara parau dari mulutnya.

Aku mengangguk dan berdiri. Kuperiksa pedang di pinggang kiriku untuk bersiap maju menghadapi penyihir jahat yang telah menyakiti putri kecilku.

Advertisements

Published by

afina

the girl who struggle with the question, "Who am I?"

Leave me some words

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s