Lupa, Fragmen 2: Ibu Guru

Fragmen sebelumnya: Ayah

Dewasa ini, kemajuan teknologi sudah menyentuh segala sisi kehidupan manusia.

Saya sedang membaca halaman pendahuluan pada karya tulis yang dikumpulkan seorang murid dari kelas 7A. Namanya Ganis. Dia selalu duduk di bangku belakang. Kebiasaannya adalah mengobrol sendiri dengan kawan-kawannya saat pelajaran berlangsung. Ganis hanya butuh waktu dua minggu untuk menjadi bahan keluhan nomor satu di Ruang Guru. Ganis yang Tukang Bikin Ribut, begitulah para guru mengenalinya.

Akan tetapi saya mendapati hal yang berbeda dari diri Ganis. Saya merasa tulisannya memiliki nada yang unik. Seperti tulisan orang-orang tua. Saya kira barangkali dia diam-diam suka membaca novel sastra.

Nah kan. Saya jadi melantur. Semakin tua, rasanya kemampuan konsentrasi saya kian menurun. Sejenak tadi saya sedang mencicil rapor anak-anak kelas 7B. Kemudian saya teringat belum rampung memberi nilai untuk karya tulis anak-anak kelas 7A. Akhirnya mata saya tersangkut pada tulisan Ganis.

Kalimat klise yang diutarakan oleh Ganis itu sungguh nyata adanya. Memang, dewasa ini perkembangan teknologi sudah menyentuh segala sisi kehidupan manusia. Kehidupan saya pun tak luput. Sayangnya saya sudah terlalu lelah untuk mengikuti arus pusaran teknologi yang dinamis itu.

Pada zaman yang serba canggih ini, rapor harus dikerjakan menggunakan komputer. Katanya sih agar lebih mudah. Bagi saya tugas ini justru menjadi semakin susah. Biasanya ada Rima yang akan membantu saya mengerjakan rapor. Sejak sebulan lalu Rima pindah ke rumahnya sendiri bersama Rizki. Tinggal saya dan suami di rumah. Sepi.


Tinggal satu rapor lagi. Milik Sanaya Putri. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan di rapornya. Anak itu tidak mengikuti ujian akhir semester.

Di hari terakhir UAS, beberapa siswa 7A menyeret Sanaya menemui saya. Mereka bilang Sanaya perlu mengikuti ujian susulan karena sakit. Sanaya-nya sendiri tampak enggan, tapi seperti bingung menolak teman-temannya. Begitu saya tinggal berdua dengannya, saya tanyakan sakit apakah dia sepekan terakhir. Dia menjawab: lupa.

Awalnya saya tidak paham. Kemudian ia melengkapi jawabannya, “Saya lupa kalau minggu ini UAS, Bu. Saya kira libur.” Saat mengatakannya, pandangannya menyapu meja saya. Wajahnya seperti takut atau mungkin ragu.

Saya yakin ia berbohong. Oleh karena itu saya tidak memberi izin UAS susulan untuknya. Tidak sampai ia bisa menjelaskan alasan sesungguhnya.

Sampai pekan remidi berakhir pun Sanaya tidak memberi penjelasan pada saya. Anak itu tidak takut tinggal kelas apa ya? Saya jadi agak kesal dibuatnya.

Tapi yang lebih besar dari kesal adalah rasa penasaran saya. Saya rekam lagi ingatan yang saya miliki tentang Sanaya Putri. Dia bukan anak yang paling pintar di kelas memang, tapi juga tidak bodoh. Dia tidak segan menyapa saya jika bertemu di koridor. Pembawaannya cenderung hangat dan ceria. Dia pernah lupa membawa flashdisk presentasi kelompoknya, tapi jelas bukan anak yang pikun hingga bisa melupakan UAS.

Saya mencoba mengingat-ingat lagi apakah ada yang berubah dari Sanaya sejak awal semester hingga sekarang. Apakah ia mulai berteman dengan anak-anak nakal. Apakah ia mulai punya teman laki-laki yang dekat.

Dia hanya bilang: “Lupa.” Mengapa memakai alasan itu? Kalau memang mau berbohong, tidak bisakah dia pikirkan alasan yang lebih pintar dan masuk akal?

Advertisements

Lupa, Fragmen 1: Ayah

Ngambil rapor itu gimana sih?

Sejak seminggu yang lalu aku sudah mencari referensi tentang ‘mekanisme mengambil rapor anak SMP’ ke berbagai sumber. Jawabannya pun cukup sederhana. Aku hanya perlu datang, mencari kelas anakku, mengisi daftar hadir, dan menunggu giliran sampai wali kelas memanggil.

Biasanya wali kelas akan mendiskusikan hal-hal tertentu tentang si anak, memberitahu apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa diperbaiki. Dengan kata lain: basa basi. Aku tidak percaya wali kelas yang cuma bertatap muka (paling banyak) 3 jam dalam seminggu itu bisa mengingat kelakuan 30 anak di kelasnya.

Oke. Jadi sebenarnya cukup sederhana. Mengambil rapor tidak akan seribet mendaftar BPJS.

Tapi pagi ini pertanyaan itu kembali terulang di kepala. Mungkin aku agak deg-degan saja karena ini pengalaman pertama. Rapor-rapor Naya saat SD selalu diambil oleh ibunya. Kali ini, rapor pertama Naya di SMP, kondisi Ilma tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Aku sudah sampai di sekolah Naya. SMP dengan lapangan alakadarnya yang dikelilingi oleh deretan kelas tiga lantai. Katanya sih ini SMP favorit. Kalau aku jadi siswa, aku tidak mungkin akan mem-favorit-i SMP yang lahan main bolanya cuma seuprit dan warna catnya norak begini.

Di rumah tadi Naya sudah memberi ancer-ancer. Kelasnya ada di lantai dua, paling dekat dengan tangga. Jadi aku langsung menuju ke sana dan menuliskan nama di daftar hadir. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku paling belakang. Kelas sudah cukup ramai dengan ibu-ibu.


Rupanya nama siswa dipanggil berdasarkan urutan rata-rata nilai dari yang tertinggi. Setahuku sekolah jaman sekarang sudah tidak pakai ranking-ranking-an. Jadi ini pasti inisiatif mandiri dari wali kelas. Barangkali ia ingin menerapkan sedikit sistem reward and punishment… kepada orang tua murid.

Yah, cukup masuk akal sih. Orang tua dengan anak-anak pintar bisa pulang paling cepat. Mereka bisa berbangga sedikit ketika orang tua lain menyadari kehebatan anaknya. Di rumah ia akan ‘mengoper’ reward tersebut pada anaknya dalam bentuk puja-puji. Sementara itu orang tua dengan anak-anak mbeler yang terlalu lama menunggu giliran akan pulang dengan perasaan dongkol. Mereka kemudian ‘mengoper’ punishment pada anaknya dalam nada bicara ketus atau nasihat panjang.

Naya anak yang pintar. Aku duga ini ia peroleh dari faktor keturunan. Gen dari ayahnya ini memang, ahem, cukup berkualitas lah. Jadi aku pede saja akan dipanggil pada urutan-urutan awal. Mungkin bahkan yang pertama.

Hehe.

Tapi ternyata tidak. Sudah ada lima nama murid disebutkan. Naya bukan salah satunya.

Oke aku memang agak terlalu jumawa. Ini sekolah favorit, jadi murid-muridnya pasti.. ganas. Wajar kalau Naya tidak berada di urutan lima teratas.

Kemudian nama demi nama kembali disebutkan. Aku tidak menyimak secara pasti, tapi rasanya sudah ada belasan nama yang dipanggil. Aku mulai khawatir berada di kelas yang salah. Eh tapi tidak mungkin. Aku ingat tadi benar-benar melihat nama Naya di daftar murid kelas ini.

Kelas semakin sepi. Selain aku, tinggal tersisa tiga ibu-ibu lain. Dan satu per satu ibu-ibu itu dipanggil maju untuk menerima rapor anaknya. Ibu yang terakhir maju dengan alis mengkerut dan wajah takut-takut. Ketika ia akhirnya selesai mendengarkan ‘laporan’ dari wali kelas, ia menyempatkan menoleh ke arahku dan memberikan tatapan yang seolah berkata.. turut prihatin ya Pak.

Ini tidak benar. Pasti ada yang salah. Aku tahu Naya tidak sebodoh itu.

Sejenak wali kelas Naya merapikan mejanya. Sembari menepuk-nepuk tumpukan kertas, matanya menatap lurus ke arahku dari balik kacamata.

Setelah kuperhatikan lagi, guru Naya ini wajahnya jelek sekali. Lapisan bedak tebal dan lipstik merah tidak bisa menyembunyikan itu. Kulitnya keriput. Sudut-sudut matanya kendur. Rambutnya jelas-jelas hasil ‘pelurusan paksa’. Aku bisa melihat helaian rambut ikal yang memberontak di sekitar telinganya.

Aku curiga ia sebenarnya adalah seorang penyihir. Ia pasti sudah menjampi Naya sehingga kemampuan akademiknya merosot begini.

“Bapak Aziz, orang tua Sanaya?” keluar suara parau dari mulutnya.

Aku mengangguk dan berdiri. Kuperiksa pedang di pinggang kiriku untuk bersiap maju menghadapi penyihir jahat yang telah menyakiti putri kecilku.

Ia Tinggal Dekat Stasiun

Ia tinggal dekat stasiun. Lima menit berjalan kaki.

Setiap kali merasakan sesak hebat di dada, ia akan pergi ke stasiun. Ia pergi untuk melihat orang-orang yang melangkah terburu, pergi mengejar entah-apa. Kepergian-kepergian beruntun itu akan menghadirkan perasaan yang seirama dengan sesak dadanya. Itulah penjelasan yang ia pilih. Jadi ia bisa berkata pada diri sendiri, “Ah, aku ini sedih sekali karena ditinggalkan semua orang.” Kalau tidak begitu, kepalanya akan pusing, putus asa menganalisis penyebab sesaknya.

Kadang ia membawa serta jajanan untuk bahan kunyahan. Favoritnya adalah lidi super pedas. Setiap butir bumbu menghadirkan perih di sekujur lidah. Kalau ia berhenti perihnya malah semakin menjadi, berpadu dengan rasa hampa.

Kurang lebih, begitulah hidupnya.

Pavilion of Women oleh Pearl S. Buck

Ketika mertuanya yang laki-laki mengetahui bahwa dia pandai membaca dan menulis, dia membawanya ke kamar bacaan ini dan menunjukkan semua buku-buku yang ada di sini… kemudian sambil menunjuk ke buku-buku yang dibungkus dengan kertas biru dan letaknya terpisah, dia berkata, “Buku-buku yang ini bukan untukmu, Anakku.”

“Apakah karena saya seorang perempuan?” tanya Madame Wu waktu itu.

Dia mengangguk lalu menambahkan, “Tapi putraku sendiri pun tak kuizinkan membacanya sebelum dia berumur lima belas tahun.”

“Jadi, sudahkah suami saya membacanya?” tanyanya lagi.

Mertuanya terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kurasa sudah. Aku tak pernah bertanya. Tapi kurasa semua orang muda sudah membacanya; sebab itu kukatakan kepada putraku waktu itu, ‘Jika kau mau membaca buku ini, tunggu sampai kau berumur lima belas. Tapi harus kaubaca dalam kamar ini, jangan disembunyikan dalam buku pelajaranmu.’” Buku-buku itu memang tak pernah disembunyikan.

Madame Wu bertanya lagi, “Ayah, apakah menurut pendapat Ayah, pikiran saya ini tak mungkin bisa berkembang melebihi pikiran suami saya ketika dia berumur lima belas tahun?”

Mertuanya mengerutkan dahinya dan diam lagi sejenak sebelum menjawab, “Aku bisa melihat bahwa engkau memang melebihi kecerdasan wanita biasa,” katanya. “Aku malah bisa berkata, bahwa seandainya otakmu itu berada dalam tengkorak laki-laki, kau pasti akan bisa mengikuti ujian negara, untuk kemudian bisa menjadi pegawai negara. Tapi otakmu tersimpan dalam tengkorak wanita, jadi darah wanita lah yang mengalir ke dalamnya dan detak jantung wanita pula lah yang sampai ke sana, dan….. dia harus pula memengaruhi seluruh hidup kewanitaannya. Tak baik bagi seorang wanita kalau perkembangan otaknya melebihi tubuhnya.”

Sehubungan dengan kata-kata mertuanya itu, sebenarnya ada suatu hal yang ingin ditanyakannya, tetapi karena menurut pertimbangannya pertanyaannya itu terlalu ‘kasar’, apalagi karena dia yakin, bahwa mertuanya sayang padanya dan tentu mengerti bagaimana perasaannya, maka dia hanya bertanya, “Jadi Ayah, apakah itu berarti bahwa bagi seorang wanita tubuhnya lebih penting daripada otaknya?”

Mertuanya mengeluh mendengar pertanyaan itu. Orang tua itu duduk di kursi jati. Kini Madame Wu sendiri duduk di kursi itu mengenang masa yang sudah lama berlalu itu. Sebelum dia menjawab, mertuanya mengusap janggutnya yang putih dan wajahnya murung ketika berkata, “Sebagaimana terbukti dalam kehidupan, memang tubuh wanita lebih penting daripada otaknya. Hanya wanita lah yang dapat menciptakan hidup baru. Tanpa wanita, umat manusia akan punah. Alam telah memberikan kehidupan dalam tubuhnya. Sebab itu tubuhnya amat berharga bagi kemanusiaan. Laki-laki hanya punya bibit; wanita lah yang akan menjadikannya bunga dan buah dalam bentuk yang lain daripadanya sendiri.”

Madame Wu yang waktu itu baru berumur enam belas tahun berdiri di hadapan mertuanya dan mengikuti dengan baik-baik apa-apa yang dikatakannya, kemudian bertanya lagi, “Lalu untuk apa saya punya otak? Bukankah saya hanya seorang wanita?”

Mertuanya menggeleng dan sambil menatapnya menjawab, “Entahlah… Engkau sebenarnya malah tak butuh otak… engkau begitu cantik.” Keduanya tertawa.

Tapi kemudian mertuanya berkata lagi dengan bersungguh-sungguh, “Tahukah engkau, bahwa pertanyaan yang kautanyakan tadi itu sering timbul dalam benakku sendiri? Lebih-lebih setelah kedatanganmu ke rumah ini. Kemudian ternyata bahwa engkau juga cerdas, hingga bolehlah aku berkata, bahwa pundi-pundi emas kami telah bertambah dengan sebuah permata lagi. Namun aku pun tahu bahwa sebenarnya dalam rumahku ini, kita tidak begitu membutuhkan kecerdasan, sedikit pun sudah cukup lah untuk memperhatikan pembukuan rumah tangga dan mengawasi para pembantu dan orang-orang bawahan.” …… “Tapi engkau cerdas sekali dan mempunyai pengamatan yang tajam. Apa yang akan kau perbuat dengan itu…. aku pun tak tahu. Jika yang memiliki kecerdasan dan pengamatan yang tajam itu seorang wanita yang rendah budinya, aku akan kuatir, karena dengan demikian dia akan mendatangkan kesulitan dalam rumahku ini. Tapi aku yakin engkau tidak demikian, karena meskipun masih sangat muda engkau bijaksana dan engkau dapat mengendalikan diri.”

Waktu itulah mertuanya itu baru sadar, bahwa selama itu dia berdiri saja di depan mertuanya dan lalu segera menyuruhnya duduk dan menambahkan, “Mulai sekarang engkau tak perlu berdiri ketika sedang bersamaku.” Tapi dia belum habis bertanya, sebab itu sambil mengambil tempat dia bertanya.

“Lalu apakah cinta suami saya akan berkurang karena keadaan saya yang demikian?” Mendengar pertanyaan itu mertuanya menatapnya, tangannya yang kurus dan kulitnya yang sudah berkerut itu kembali mengusap janggutnya.

“Aku sendiri pun ingin tahu akan hal itu,” jawabnya, kemudian mengeluh… “Kecerdasan adalah suatu pembawaan yang berharga sekali bagi manusia; namun juga suatu beban yang berat. Lebih daripada harta dan kemiskinan, kecerdasan itu memisah-misahkan manusia, hingga manusia mungkin jadi bersahabat atau bermusuhan oleh karenanya. Si Bodoh takut dan membenci si Pandai. Yang penting diketahui oleh seorang yang cerdas ialah bahwa dengan kecerdasan itu dia tak akan dapat memperoleh cinta kasih dari orang yang kurang pandainya.”

“Mengapa?” tanya Madame Wu yang menjadi ketakutan. Dia mula-mula merasa bangga, bahwa dia cerdas… tapi kini mertuanya berkata bahwa dia mungkin dibenci orang oleh karenanya.

“Sebab cinta yang utama dalam hati laki-laki adalah cintanya pada dirinya sendiri. Alam telah menempatkan cinta diri sendiri itu di tempat yang paling tinggi dalam hati laki-laki, untuk menjamin kemauan hidupnya, betapapun kesulitan yang mungkin dihadapinya. Nah, bila cinta diri itu dilukai tak ada satu pun cinta lain yang dapat tumbuh lagi. Dan jika cinta diri itu dilukai terlalu berat maka kemauannya untuk hidup pun akan lenyap.”

“Kalau begitu suami saya akan membenci saya kah?”

Meskipun mertuanya tidak mengatakannya, nyata baginya bahwa mertuanya tahu dia lebih cerdas daripada suaminya dan kini orang tua itu memberinya peringatan, “Anakku. Tak ada seorang laki-laki pun yang rela seorang perempuan lebih pandai daripadanya, apalagi kalau perempuan itu tinggal di rumahnya dan tidur setempat tidur dengannya. Mungkin dia berkata, bahwa dia memuja perempuan itu, tapi apalah artinya pemujaan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang laki-laki tak mungkin bisa mengawini seorang dewi. Dia tidak akan cukup kuat untuk itu.”