Dua Garis

Mata terbuka. Menengok ke kiri dan melihat Rio masih pulas tertidur. Nafasnya panjang teratur.

Sesuai dengan yang kubayangkan (dan.. setengah kuharapkan, setengah kurencanakan) malam kemarin.

Pelan-pelan aku keluar dari selimut. Duduk di tepi kasur. Minum segelas air yang selalu kusiapkan di meja samping tempat tidur. Menguncir rambut sambil berdoa. Menarik pegangan laci dengan hati-hati agar tidak berderit. Mengambil sekotak kemasan yang baru kubeli kemarin sore di apotek. Mengantonginya di saku celana. Menutup kembali laci. Perlahan.

Kulirik lagi Rio untuk memastikan. Benar, masih tidur. Masih bernafas. Hidup.

Aku bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Setelah mengunci pintunya sepelan mungkin (suara ‘ceklek’-nya tidak berkurang walaupun aku menekan pelan-pelan sih), aku melepas celana dan menggantungkannya asal di daun pintu. Kurogoh sakunya, lalu duduk sambil membaca ulang petunjuk penggunaan. Kemarin sudah kubaca lima kali, setidaknya. Aku tidak deg-degan atau apa kok. Hobiku memang membaca.

Merasakan ‘dorongan’ itu mulai muncul, aku mengambil mangkuk plastik yang sudah kusiapkan kemarin malam. Aku menadahi air seni sambil memperhatikan warnanya. FFEECC? Kuningnya mirip dengan desain yang aku kerjakan semalam, hehehe..

Btw kalian merasa tidak nyaman kah aku cerita mendetil begini? Barangkali iya, ya? Baiklah aku coba lebih halus ya.

Setelah selesai dengan urusan kesenian, aku mengambil sebatang test pack. Aku kerjakan langkah-langkah sesuai petunjuk penggunaannya. Lalu menunggu.

Menunggu menunggu menunggu.

Terasa lama.

Betapa lucu. Padahal aku menganggap diriku ahli menunggu. Menunggu ibu menjemput saat pulang sekolah. Menunggu roti matang dipanggang. Menunggu Rio datang.

Dan pada semua momen menunggu itu aku tidak pernah ragu sedikit pun. Entah kenapa. Aku selalu yakin yang kutunggu akan datang pada waktunya. Giliranku akan tiba. Ketika belum, tidak perlu menangis. Berdoa saja.

Barangkali keyakinan itu berasal dari satpam sekolah yang selalu menemaniku menunggu ibu. Namanya Pak Muntazhir. Artinya the one who waits. Dia selalu mengajakku bercerita sembari menunggu. Macam-macam cerita.

Bulan lalu kudengar Pak Muntazhir meninggal setelah mengalami kecelakaan ketika perjalanan pulang dari luar kota. Entah penghayatan macam apa yang akan diresapi oleh anak-anak yang menunggunya pulang, tanpa pernah mendapati kedatangannya.

Ah. Aku melirik lagi test pack yang kugunakan tadi. Ini dia hasilnya.

Dua garis.

Hmm. Ya ya.

Positif hamil adalah hal yang sangat membahagiakan–kalau melihat di filem-filem romansa dan iklan televisi. Apalagi setelah menunggu selama ini. Jadi aku seharusnya bahagia ya.

Hmm tapi sejauh ini (kira-kira 40 detik) rasanya masih biasa saja sih. Mungkin aku juga perlu menunggu sampai rasa itu datang. Tebakanku, dia akan datang berombongan dengan rasa-rasa lain. Ramai-ramai. Aku perlu siap-siap.

Mengusap-usap perut. Aku membayangkan yang ada di dalamnya. (Sate ayam Ponorogo dan lontong, haha!) Ada sesuatu yang masih kecil sekali dan perlahan akan tumbuh membesar. Mendesak-desak. Menendang-nendang. Meronta menangis–merepotkan, hihi. Hidup. Dan menghangatkan.

Aku masih duduk berlama-lama menikmati segala pikiran ini. Segala yang masih milikku sendiri ini. Sesaat lagi, Rio akan bangun. Lalu aku akan memberi tahunya, tentu saja. Lalu bapak dan ibu. Lalu saudara-saudara dan teman-teman. Lingkarannya akan semakin lebar. Mungkin akan semakin bising dan membingungkan.

Setelah capek duduk di atas kloset, aku membereskan diri dan keluar dari kamar mandi. Kuambil handphone di meja kamar dan mengetik..

18 Februari 2018.

Sayang, saat ini kita satu. Kamu di dalamku. Belum masuk hitungan sensus penduduk. Setelah berpisah nanti, kamu akan lupa hari ini. (Yang akan kamu ingat cuma tanggal lahir, karena di hari ulang tahun kamu dapat banyak hadiah dan promo gratisan dari berbagai restoran.) Tapi aku akan ingat. Tidak apa-apa, aku akan mengingatkanmu terus, mengulang-ulang cerita hari ini dengan kebawelan maksimal sampai kamu muak, haha.

Kapan-kapan kita bertengkar yang seru ya, sayang. 

Advertisements

Lupa, Fragmen 2: Ibu Guru

Fragmen sebelumnya: Ayah

Dewasa ini, kemajuan teknologi sudah menyentuh segala sisi kehidupan manusia.

Saya sedang membaca halaman pendahuluan pada karya tulis yang dikumpulkan seorang murid dari kelas 7A. Namanya Ganis. Dia selalu duduk di bangku belakang. Kebiasaannya adalah mengobrol sendiri dengan kawan-kawannya saat pelajaran berlangsung. Ganis hanya butuh waktu dua minggu untuk menjadi bahan keluhan nomor satu di Ruang Guru. Ganis yang Tukang Bikin Ribut, begitulah para guru mengenalinya.

Akan tetapi saya mendapati hal yang berbeda dari diri Ganis. Saya merasa tulisannya memiliki nada yang unik. Seperti tulisan orang-orang tua. Saya kira barangkali dia diam-diam suka membaca novel sastra.

Nah kan. Saya jadi melantur. Semakin tua, rasanya kemampuan konsentrasi saya kian menurun. Sejenak tadi saya sedang mencicil rapor anak-anak kelas 7B. Kemudian saya teringat belum rampung memberi nilai untuk karya tulis anak-anak kelas 7A. Akhirnya mata saya tersangkut pada tulisan Ganis.

Kalimat klise yang diutarakan oleh Ganis itu sungguh nyata adanya. Memang, dewasa ini perkembangan teknologi sudah menyentuh segala sisi kehidupan manusia. Kehidupan saya pun tak luput. Sayangnya saya sudah terlalu lelah untuk mengikuti arus pusaran teknologi yang dinamis itu.

Pada zaman yang serba canggih ini, rapor harus dikerjakan menggunakan komputer. Katanya sih agar lebih mudah. Bagi saya tugas ini justru menjadi semakin susah. Biasanya ada Rima yang akan membantu saya mengerjakan rapor. Sejak sebulan lalu Rima pindah ke rumahnya sendiri bersama Rizki. Tinggal saya dan suami di rumah. Sepi.


Tinggal satu rapor lagi. Milik Sanaya Putri. Saya tidak tahu apa yang harus saya tuliskan di rapornya. Anak itu tidak mengikuti ujian akhir semester.

Di hari terakhir UAS, beberapa siswa 7A menyeret Sanaya menemui saya. Mereka bilang Sanaya perlu mengikuti ujian susulan karena sakit. Sanaya-nya sendiri tampak enggan, tapi seperti bingung menolak teman-temannya. Begitu saya tinggal berdua dengannya, saya tanyakan sakit apakah dia sepekan terakhir. Dia menjawab: lupa.

Awalnya saya tidak paham. Kemudian ia melengkapi jawabannya, “Saya lupa kalau minggu ini UAS, Bu. Saya kira libur.” Saat mengatakannya, pandangannya menyapu meja saya. Wajahnya seperti takut atau mungkin ragu.

Saya yakin ia berbohong. Oleh karena itu saya tidak memberi izin UAS susulan untuknya. Tidak sampai ia bisa menjelaskan alasan sesungguhnya.

Sampai pekan remidi berakhir pun Sanaya tidak memberi penjelasan pada saya. Anak itu tidak takut tinggal kelas apa ya? Saya jadi agak kesal dibuatnya.

Tapi yang lebih besar dari kesal adalah rasa penasaran saya. Saya rekam lagi ingatan yang saya miliki tentang Sanaya Putri. Dia bukan anak yang paling pintar di kelas memang, tapi juga tidak bodoh. Dia tidak segan menyapa saya jika bertemu di koridor. Pembawaannya cenderung hangat dan ceria. Dia pernah lupa membawa flashdisk presentasi kelompoknya, tapi jelas bukan anak yang pikun hingga bisa melupakan UAS.

Saya mencoba mengingat-ingat lagi apakah ada yang berubah dari Sanaya sejak awal semester hingga sekarang. Apakah ia mulai berteman dengan anak-anak nakal. Apakah ia mulai punya teman laki-laki yang dekat.

Dia hanya bilang: “Lupa.” Mengapa memakai alasan itu? Kalau memang mau berbohong, tidak bisakah dia pikirkan alasan yang lebih pintar dan masuk akal?

Lupa, Fragmen 1: Ayah

Ngambil rapor itu gimana sih?

Sejak seminggu yang lalu aku sudah mencari referensi tentang ‘mekanisme mengambil rapor anak SMP’ ke berbagai sumber. Jawabannya pun cukup sederhana. Aku hanya perlu datang, mencari kelas anakku, mengisi daftar hadir, dan menunggu giliran sampai wali kelas memanggil.

Biasanya wali kelas akan mendiskusikan hal-hal tertentu tentang si anak, memberitahu apa yang sudah baik dan apa yang masih bisa diperbaiki. Dengan kata lain: basa basi. Aku tidak percaya wali kelas yang cuma bertatap muka (paling banyak) 3 jam dalam seminggu itu bisa mengingat kelakuan 30 anak di kelasnya.

Oke. Jadi sebenarnya cukup sederhana. Mengambil rapor tidak akan seribet mendaftar BPJS.

Tapi pagi ini pertanyaan itu kembali terulang di kepala. Mungkin aku agak deg-degan saja karena ini pengalaman pertama. Rapor-rapor Naya saat SD selalu diambil oleh ibunya. Kali ini, rapor pertama Naya di SMP, kondisi Ilma tidak memungkinkan untuk melakukannya.

Aku sudah sampai di sekolah Naya. SMP dengan lapangan alakadarnya yang dikelilingi oleh deretan kelas tiga lantai. Katanya sih ini SMP favorit. Kalau aku jadi siswa, aku tidak mungkin akan mem-favorit-i SMP yang lahan main bolanya cuma seuprit dan warna catnya norak begini.

Di rumah tadi Naya sudah memberi ancer-ancer. Kelasnya ada di lantai dua, paling dekat dengan tangga. Jadi aku langsung menuju ke sana dan menuliskan nama di daftar hadir. Aku masuk ke dalam kelas dan duduk di bangku paling belakang. Kelas sudah cukup ramai dengan ibu-ibu.


Rupanya nama siswa dipanggil berdasarkan urutan rata-rata nilai dari yang tertinggi. Setahuku sekolah jaman sekarang sudah tidak pakai ranking-ranking-an. Jadi ini pasti inisiatif mandiri dari wali kelas. Barangkali ia ingin menerapkan sedikit sistem reward and punishment… kepada orang tua murid.

Yah, cukup masuk akal sih. Orang tua dengan anak-anak pintar bisa pulang paling cepat. Mereka bisa berbangga sedikit ketika orang tua lain menyadari kehebatan anaknya. Di rumah ia akan ‘mengoper’ reward tersebut pada anaknya dalam bentuk puja-puji. Sementara itu orang tua dengan anak-anak mbeler yang terlalu lama menunggu giliran akan pulang dengan perasaan dongkol. Mereka kemudian ‘mengoper’ punishment pada anaknya dalam nada bicara ketus atau nasihat panjang.

Naya anak yang pintar. Aku duga ini ia peroleh dari faktor keturunan. Gen dari ayahnya ini memang, ahem, cukup berkualitas lah. Jadi aku pede saja akan dipanggil pada urutan-urutan awal. Mungkin bahkan yang pertama.

Hehe.

Tapi ternyata tidak. Sudah ada lima nama murid disebutkan. Naya bukan salah satunya.

Oke aku memang agak terlalu jumawa. Ini sekolah favorit, jadi murid-muridnya pasti.. ganas. Wajar kalau Naya tidak berada di urutan lima teratas.

Kemudian nama demi nama kembali disebutkan. Aku tidak menyimak secara pasti, tapi rasanya sudah ada belasan nama yang dipanggil. Aku mulai khawatir berada di kelas yang salah. Eh tapi tidak mungkin. Aku ingat tadi benar-benar melihat nama Naya di daftar murid kelas ini.

Kelas semakin sepi. Selain aku, tinggal tersisa tiga ibu-ibu lain. Dan satu per satu ibu-ibu itu dipanggil maju untuk menerima rapor anaknya. Ibu yang terakhir maju dengan alis mengkerut dan wajah takut-takut. Ketika ia akhirnya selesai mendengarkan ‘laporan’ dari wali kelas, ia menyempatkan menoleh ke arahku dan memberikan tatapan yang seolah berkata.. turut prihatin ya Pak.

Ini tidak benar. Pasti ada yang salah. Aku tahu Naya tidak sebodoh itu.

Sejenak wali kelas Naya merapikan mejanya. Sembari menepuk-nepuk tumpukan kertas, matanya menatap lurus ke arahku dari balik kacamata.

Setelah kuperhatikan lagi, guru Naya ini wajahnya jelek sekali. Lapisan bedak tebal dan lipstik merah tidak bisa menyembunyikan itu. Kulitnya keriput. Sudut-sudut matanya kendur. Rambutnya jelas-jelas hasil ‘pelurusan paksa’. Aku bisa melihat helaian rambut ikal yang memberontak di sekitar telinganya.

Aku curiga ia sebenarnya adalah seorang penyihir. Ia pasti sudah menjampi Naya sehingga kemampuan akademiknya merosot begini.

“Bapak Aziz, orang tua Sanaya?” keluar suara parau dari mulutnya.

Aku mengangguk dan berdiri. Kuperiksa pedang di pinggang kiriku untuk bersiap maju menghadapi penyihir jahat yang telah menyakiti putri kecilku.

Ia Tinggal Dekat Stasiun

Ia tinggal dekat stasiun. Lima menit berjalan kaki.

Setiap kali merasakan sesak hebat di dada, ia akan pergi ke stasiun. Ia pergi untuk melihat orang-orang yang melangkah terburu, pergi mengejar entah-apa. Kepergian-kepergian beruntun itu akan menghadirkan perasaan yang seirama dengan sesak dadanya. Itulah penjelasan yang ia pilih. Jadi ia bisa berkata pada diri sendiri, “Ah, aku ini sedih sekali karena ditinggalkan semua orang.” Kalau tidak begitu, kepalanya akan pusing, putus asa menganalisis penyebab sesaknya.

Kadang ia membawa serta jajanan untuk bahan kunyahan. Favoritnya adalah lidi super pedas. Setiap butir bumbu menghadirkan perih di sekujur lidah. Kalau ia berhenti perihnya malah semakin menjadi, berpadu dengan rasa hampa.

Kurang lebih, begitulah hidupnya.