Why Behavioral Economics Is Cool, and I’m Not

Here. An interesting article contrasting behavioral economics and psychology.  Read, people, read!

When people think of economists, they picture smart people crunching numbers. When they think of psychology, they picture Sigmund Freud lying on a couch telling them they failed a driving test because they failed to kill their fathers and sleep with their mothers. (If you object to that, don’t worry; you’re in denial.)

http://www.huffingtonpost.com/adam-grant/why-behavioral-economics_b_5491960.html?utm_hp_ref=tw

Advertisements

Mengapa Yu Djum Tidak Berjualan Soto? – Perbedaan dan Pembedaan Gender dalam Penamaan Merek Gudeg, Pecel, Soto, dan Bakso

Ditulis sebagai tugas mata ajar Paradigma Feminisme.

Fenomena

Beberapa hari lalu saya pulang ke kota asal saya, Surabaya. Ketika menyusuri jalanan Surabaya yang diwarnai oleh berbagai ragam kuliner, ayah saya tiba-tiba mengangkat suatu fenomena menarik. Ia memperhatikan bahwa makanan-makanan tertentu memiliki segmentasi gender dalam penamaan mereknya. Untuk soto dan bakso biasanya digunakan nama-nama laki-laki, misalnya Soto Pak Djayus dan Bakso Pak Gendut. Sementara itu untuk gudeg dan pecel biasanya digunakan nama-nama perempuan, misalnya Gudeg Bu Mien dan Pecel Bu Kus. Hal ini menjadi sangat menarik karena belum pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya, dan juga belum pernah saya baca di literatur manapun.

Saya kemudian melanjutkan riset kecil mengenai fenomena tersebut melalui internet. Saya menggunakan mesin pencari Google dengan lokasi spesifik negara Indonesia dan menelusuri hasil hingga laman kelima. Kata kunci yang saya gunakan adalah ‘gudeg’, ‘pecel’, ‘soto’, dan ‘bakso’. Dari hasil pencarian tersebut  saya menyaring entri-entri yang mengandung nama laki-laki atau perempuan sebagai merek dagangnya.

Untuk kata kunci ‘gudeg’ saya menemukan hasil ‘Gudeg Bu Amad’, ‘Gudeg Yu Djum’ (6 entri), ‘Gudeg Yu Nap’, ‘Gudeg Wijilan Bu Lies’ (2 entri), ‘Gudeg Pak Atmo’, ‘Gudeg Kaleng Bu Tjitro’ (3 entri), ‘Gudeg B. Djuminten’, ‘Gudeg Permata Bu Pujo’, ‘Gudeg Mercon Bu Tinah’, ‘Gudeg Bu Kris’, ‘Gudeg Manggar Bu Tinur’, dan ‘Gudeg Yu Narni’. Dapat kita lihat bahwa dari total 20 entri merek gudeg tersebut hanya terdapat 1 entri yang mengandung nama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘pecel’ saya menambahkan kata kunci ‘-lele’ untuk menghindari hasil pencarian ‘pecel lele’. Dari pencarian tersebut saya menemukan hasil ‘Pecel Bu Broto’ (2 entri), ‘Pecel Yu Sri’, ‘Pecel Bu Sumo’, dan ‘Pecel Cak Yok’. Dari total 5 entri merek pecel hanya terdapat 1 entri yang mengandung nama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘bakso’ saya menemukan hasil ‘Bakso Malang Cak Su Kumis’, ‘Bakso Pak Joko’, dan ‘Bakso Kota Cak Man’. Hanya terdapat 3 entri merek bakso dan semuanya bernama laki-laki.

Untuk kata kunci ‘soto’ saya menemukan hasil ‘Soto Ayam Ambengan Pak Sadi’ (2 entri), ‘Soto Ayam Lamongan Cak Har’, ‘Soto Betawi H. Mamat’, ‘Soto Kambing Pak Kumis’, ‘Soto Pak Marto’, ‘Soto Pak Sholeh Al Barokah’, dan ‘Soto Kudus Pak Minto’. Dari 8 hasil entri merek semuanya bernama laki-laki.

Hasil pencarian tersebut mengonfirmasi pernyataan dari ayah saya bahwa terdapat perbedaan penamaan, laki-laki ataupun perempuan, antara jenis makanan tertentu. Gudeg dan pecel cenderung menggunakan nama-nama perempuan yang ditandai dengan kata ‘Bu’ dan ‘Yu’. Sementara itu bakso dan soto cenderung menggunakan nama-nama laki-laki yang ditandai dengan kata ‘Cak’ dan ‘Pak’.

Makalah ini akan mencoba melakukan analisis terhadap fenomena tersebut.

 

Teori

Feminisme liberal adalah salah satu aliran feminisme yang muncul sekitar tahun 1970. Aliran feminisme ini disebut-sebut dipicu oleh buku karya Betty Friedan yang berjudul The Feminine Mystique yang menggambarkan bagaimana citra perempuan ideal di masyarakat, yang digambarkan sebagai seorang ibu rumah tangga yang berbakti, menyimpan suatu masalah tak-terkatakan di diri perempuan itu sendiri. Feminisme liberal memandang bahwa perempuan seharusnya diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki karena keduanya sama-sama memiliki potensi. Dengan menempatkan perempuan pada ranah domestik saja maka sia-sialah potensi yang ada dalam diri perempuan itu.

Teori feminisme yang lain adalah feminisme postmodern. Aliran ini memandang terdapat peran yang besar dari bahasa terhadap relasi antara perempuan dan laki-laki. Secara umum feminisme postmodern menolak penjelasan tunggal mengenai masalah perempuan, karena masalah perempuan harus dilihat dari konteks lokal dan situasi khusus yang melingkupinya.

 

Analisis

Dalam menganalisis fenomena yang telah dipaparkan di atas, kita dapat menggunakan dua macam pendekatan.

Pendekatan pertama lebih bersifat retrospektif, yang diwujudkan dalam pertanyaan: mengapa terjadi perbedaan gender dalam penamaan merek makanan? Jawaban sederhana yang dapat kita ajukan adalah karena memang sejak mulanya orang-orang yang menjual soto dan bakso adalah laki-laki sedangkan orang-orang yang menjual gudeg dan pecel adalah perempuan. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pun tidak pernah menemui penjual soto dan bakso perempuan ataupun penjual gudeg dan pecel laki-laki. Tetapi terhadap jawaban tersebut kita masih dapat bertanya lebih lanjut: lalu mengapa soto dan bakso cenderung dijual oleh laki-laki sedangkan gudeg dan pecel cenderung dijual oleh perempuan? Untuk kembali menjawab pertanyaan ini kita membutuhkan lebih banyak analisis historis dari tiap jenis makanan tersebut. Kita kemudian harus mengaitkannya juga dengan konteks sosial di mana makanan tersebut berasal, menjadi populer, dan kemudian mulai diperjual-belikan.

Pendekatan kedua lebih bersifat prospektif, yang diwujudkan dalam pertanyaan: bagaimana pengaruh fenomena tersebut terhadap hal-hal lain di sekelilingnya? Terhadap pendekatan kedua ini rasanya kita membutuhkan perabaan jawaban yang lebih luas dan dalam. Secara sepintas perbedaan gender dalam penamaan makanan tertentu tidak memiliki pengaruh apapun terhadap hal-hal di sekitarnya. Paling tidak, agaknya kita tidak merasakan ada kerugian signifikan—baik di sisi perempuan ataupun laki-laki—dari fenomena tersebut. Namun untuk menyimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh apapun rasanya terlalu terburu-buru. Dalam hal ini kita bisa mengingat kembali bahwa bahasa bukan semata produk dari budaya, namun juga justru memproduksi budaya. Salah satu contoh yang dapat kita acu adalah sistem bahasa feminin-maskulin yang berlaku di berbagai negara. Pada masa lalu penggunaan bahasa kurang mendapatkan perhatian, namun kini kita mulai ‘tersadar’ bahwa sistem bahasa menjadi representasi sekaligus alat preservasi sistem patriarkal di negara-negara tertentu.

Pendekatan Retrospektif

Untuk pendekatan retrospektif, saya belum berhasil menemukan asal usul sosio-historis dari soto, bakso, gudeg, maupun pecel. Dengan metode penalaran sederhana pun saya tidak berhasil menemukan benang merah yang cukup meyakinkan antara soto dengan bakso dan gudeg dengan pecel. Satu-satunya dugaan—yang masih sangat meragukan juga—adalah bahwa soto dan bakso adalah makanan berkuah dan dengan demikian lebih berat dalam hal massa. Dengan demikian dibutuhkan tenaga ekstra untuk memasak dan kemudian menyajikan soto serta bakso. Risiko kecelakaan pun rasanya lebih besar pada dua jenis makanan tersebut karena berkaitan dengan kuah yang panas. Maka mungkin perempuan cenderung tidak berjualan soto dan bakso disebabkan keterbatasan kekuatan otot dan tingginya risiko. Karena aktivitas berdagang umumnya dilakukan dalam tujuan memperoleh penghasilan, perempuan dapat memilih alternatif cara lain yang sama-sama menghasilkan uang yakni dengan berjualan jenis makanan lain yang lebih ‘mudah’ ditangani. Maksud saya, akan berbeda jadinya jika aktivitas berdagang ini dilakukan atas dasar renjana ataupun ketertarikan serius terhadap jenis masakan spesifik.

Kendati demikian, penjelasan tersebut masih harus menjawab pertanyaan: lalu mengapa laki-laki juga cenderung tidak berjualan gudeg dan pecel? Bukankah laki-laki juga berkemampuan untuk menangani pengolahan kedua jenis makanan tersebut? Satu-satunya dugaan yang dapat saya tawarkan adalah bahwa laki-laki cenderung menghindari pekerjaan-pekerjaan yang terlalu ‘mudah’ karena merasa bahwa itu bukanlah ‘lahannya’. Barangkali laki-laki merasa bahwa ia harus berlaga di medan perang untuk mendapatkan dan mempertahankan maskulinitasnya.

Sebenarnya penggunaan nama perempuan dalam merek dagang gudeg dan pecel menunjukkan bahwa ia berdaya dalam aktivitas perekonomian. Perempuan tidak lagi hanya menjadi sosok yang terbatasi dalam peran-peran di lingkungan rumah tangga dan keluarga. Hal ini juga berbeda dengan penggunaan nama atau simbol keperempuanan dalam produk ritel komersial yang lebih berniat mendekati konsumen. Sebagai contoh, merek MamaSuka secara harfiah melabeli dirinya sebagai produk yang disukai oleh kaum mama untuk kemudian mendongkrak penjualan. Gudeg dan pecel umumnya tidak diberi nama merek demi membangun citra yang dekat dengan konsumen segmen perempuan. Gudeg dan pecel umumnya hanya menggunakan nama penjualnya yang adalah seorang perempuan. Maka ini adalah wujud keberdayaan perempuan dalam bidang usaha kuliner.

Kendati demikian, terdapat kesimpulan lain yang bisa kita tarik dari paparan di atas. Perempuan memang tidak lagi terbatasi dalam peran-peran domestik saja. Di sini kita seolah telah memperoleh kesetaraan yang dicita-citakan oleh feminisme liberal. Namun ternyata perempuan masih tetap terbatasi dalam kapasitas kemampuan tubuhnya dalam menangani suatu pekerjaan. Dalam gambaran yang lebih luas kita dapat melihat garis persamaan fenomena ‘gudeg-dan-pecel’ ini dengan stereotip pekerjaan perempuan. Misalnya bahwa guru TK, perawat, dan sekretaris adalah pekerjaan untuk perempuan sedangkan profesor, dokter, dan manajer adalah pekerjaan untuk laki-laki. Tidakkah hal itu terdengar senada dengan “gudeg dan pecel adalah jualannya kaum perempuan sedangkan soto dan bakso adalah jualannya kaum laki-laki”? Barangkali kita kemudian perlu mendorong perempuan untuk berani berjualan soto dan bakso, jika ia memang menginginkannya. Kita tidak pernah tahu, tapi mungkin saja terdapat masalah yang belum pernah diangkat mengenai kerendah-dirian perempuan yang hendak merintis usaha berjualan soto atau bakso lantaran tidak ada perempuan lain yang melakukannya.

Pendekatan Prospektif

Ketika menanyakan pendapat teman saya mengenai fenomena yang saya angkat, ia mengungkapkan bahwa (memang) terasa janggal jika membayangkan seorang laki-laki berjualan gudeg ataupun pecel. Dalam bayangannya seorang penjual gudeg dan pecel biasanya menjajakan makanan dengan duduk ‘lesehan’, dan agak janggal baginya membayangkan laki-laki duduk di bawah.

Jawaban teman saya di atas adalah salah satu contoh implikasi dari perbedaan gender dalam penamaan makanan tertentu. Tentu saja ini baru satu contoh yang belum tentu dapat digeneralisasi kepada subjek lain. Dari satu contoh tersebut setidaknya saya melihat bagaimana bahasa berpengaruh terhadap kognisi seseorang. Segmentasi yang terpisah antara penjual laki-laki dan perempuan memunculkan stereotip tertentu dalam cara berdagang masing-masing kelompok subjek tersebut. Stereotip ini kemudian terus bertahan, difasilitasi oleh bertahannya perbedaan penamaan laki-laki dan perempuan di tiap jenis makanan.

Dalam hal bahasa, Indonesia sendiri tidak mengenal pembedaan feminin-maskulin. Hal ini bukan lantas berarti Indonesia lebih setara-gender. Sebagai gantinya terdapat simbol-simbol tidak kasat yang menjadi pembeda antara perempuan dan laki-laki. Kita dapat melihat perbedaan nama merek makanan sebagai salah satu contoh simbol ini.

 

Kesimpulan

Bagi saya, baik pendekatan retrospektif maupun prospektif ini sebenarnya sama-sama pelik untuk dikupas. Terutama dalam ulasan prospektif, saya merasa masih banyak hal yang dapat diperdalam lagi. Namun saya mengakui bahwa belum ada pisau teori dan paradigma yang dapat saya genggam dengan mantap untuk melakukan bedah analisis. Dengan demikian ini adalah ulasan yang belum selesai, dan menurut saya dapat menjadi bahan untuk dianalisis dengan lebih matang di kesempatan selanjutnya.

 

Barangkali ada yang mau meneruskan, memperdalam analisis yang masih dangkal ini? Beritahu aku ya.

Lari, Fragmen Satu: Social Facilitation

Suatu pagi, aku berlari.

Ada suara derap kaki dari belakang.

Wush. Dia menyalip.

Itu laki-laki yang tadi berpapasan denganku. Di tangannya terlilit selembar handuk kuning yang ia genggam dengan baik. Larinya cukup cepat.

Aku terdorong untuk mempercepat langkah, mengurangi jarak di antara kita.


 

Pada tahun 1898 Norman Triplett meneliti atlet dalam perlombaan bersepeda. Ia memperhatikan bahwa pesepeda berpacu paling cepat ketika mereka sedang berkompetisi dengan pesepeda lain, dan menjadi paling lambat ketika bersepeda sendirian. Triplett menduga bahwa kehadiran orang lain dalam konteks bersepeda menjadi suatu stimulus yang membangkitkan insting kompetitif kita.

Pendeknya, social facilitation adalah peningkatan performa yang terjadi ketika kita bekerja dengan kehadiran orang lain.

Dalam studinya Triplett meneliti coaction, yakni kondisi orang-orang bekerja bersama (bedakan dengan bekerja-sama). Contohnya ketika sekelompok orang menjahit bersama-sama, mengerjakan ujian dalam kelas, atau mengendarai sepeda (-nya masing-masing, bersama). Nah penelitian lain kemudian menunjukkan bahwa social facilitation juga terjadi ketika kehadiran orang lain hanya sebagai audiens. Jadi diliatin aja sudah bisa meningkatkan performa kita gitu.

(Btw, ada gak yang kalau lagi jadi imam salat bacaan suratnya suka jadi lebih puanjang? Hehe.)

Nah itu sekilas tentang social facilitation. Kapan-kapan kalau kamu merasa kurang bisa fokus dan maksimal dalam mengerjakan tugas, cobalah mengerjakannya dengan kehadiran orang lain. Orang itu nggak harus ngapa-ngapain, cukup berada di dekatmu saja.

Tapi social facilitation juga nggak selalu terjadi. Ada juga yang namanya social inhibition atau social loafing. Penelitian soal social facilitation ini sudah cukup tua dan sekarang telah berkembang lebih jauh. Kalau ingin tahu lebih dalam, cobalah cari penelitian termutakhirnya.


 

Lari.

Apakah ini cuma tentang aku yang tidak suka kalah? Ataukah tentang aku yang tidak suka melihat punggung perlahan menjauh meninggalkan?

Perkembangan Moral, Sudah Sampai Mana?

Halo.

Saat ini aku sedang teringat pada sebuah pertemuan di kelas Teori Perkembangan bersama Mas Ewa. Saat itu kami sedang membahas moral development berdasarkan teori beberapa tokoh, seperti Turiel dan Kohlberg.

Aku teringat, saat itu ada seorang mahasiswa yang berbagi tentang karirnya di dunia hukum-dan-kepengacaraan. Tentang bagaimana orang-orang di dunia itu mencari celah dalam aturan dan memainkannya sedemikian rupa. Tentang bagaimana teman-temannya sudah bermobil-mewah dengan cara itu, sementara dia masih ‘gini-gini aja’. Aku ingat Mas Ewa menunjuk ke jendela di belakang kami–di sanalah fakultas itu berdiri. Aku ingat tentang sebuah kesimpulan yang terdengar cukup judgemental: moral development mereka masih berada di level rendah.

Eh lah ndalah malam ini aku menyaksikan sesuatu lewat layar laptop. “Aturan mana yang dilanggar?” kata seseorang di dunia maya.

Ah, sebentar, aku terangkan konteksnya dulu ya.

Jadi malam ini seorang-teman berkicau dengan indah, mengungkapkan kekagumannya terhadap dua orang mahasiswa. Kicauannya ini, tak tanggung-tanggung, berseri sampai 22 nomor.

Eh adakah yang salah dengan itu?

Tidak ada.

Hanya saja kebetulan dua orang mahasiswa mengagumkan tadi adalah calon ketua dan wakil ketua BEM UI 2014, dan kebetulan saat ini sedang masa pemungutan suara, yang berarti kampanye sudah tidak boleh dilakukan. Oh, kebetulan seorang-teman ini bukan Tim Sukses kok. Bukan.

..Bukan.

Menurut pengakuannya sendiri pun seorang-teman menyatakan bahwa kicauannya bukanlah sebuah bentuk kampanye. Benarlah, ketika kita merujuk pada peraturan Pemilihan Raya UI, yang dinamakan kampanye adalah yang dilakukan oleh kandidat dan/atau timnya, serta memuat unsur meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan/atau program. Ketika teman ini bukanlah tim sukses, otomatis hal apapun yang dilakukannya tidak bisa disebut ‘kampanye’ dong. Cmiiw.

Hm.

Aku ini bukan orang yang paham benar dengan hukum. Jadi, permisi dulu, aku merasa ada yang sangat salah di sini. Dan saat itulah ingatan tentang kelas Teori Perkembangan melintas.

Inilah tahapan moral development menurut Kohlberg yang akhir-akhir ini sering kurenungkan:

Level 1. Preconventional Morality

  • Stage 1 – Obedience and Punishment
    The earliest stage of moral development is especially common in young children, but adults are also capable of expressing this type of reasoning. At this stage, children see rules as fixed and absolute. Obeying the rules is important because it is a means to avoid punishment.
  • Stage 2 – Individualism and Exchange
    At this stage of moral development, children account for individual points of view and judge actions based on how they serve individual needs. In the Heinz dilemma, children argued that the best course of action was the choice that best-served Heinz’s needs. Reciprocity is possible at this point in moral development, but only if it serves one’s own interests.

Level 2. Conventional Morality

  • Stage 3 – Interpersonal Relationships
    Often referred to as the “good boy-good girl” orientation, this stage of moral development is focused on living up to social expectations and roles. There is an emphasis on conformity, being “nice,” and consideration of how choices influence relationships.
  • Stage 4 – Maintaining Social Order
    At this stage of moral development, people begin to consider society as a whole when making judgments. The focus is on maintaining law and order by following the rules, doing one’s duty and respecting authority.

Level 3. Postconventional Morality

  • Stage 5 – Social Contract and Individual Rights
    At this stage, people begin to account for the differing values, opinions and beliefs of other people. Rules of law are important for maintaining a society, but members of the society should agree upon these standards.
  • Stage 6 – Universal Principles
    Kohlberg’s final level of moral reasoning is based upon universal ethical principles and abstract reasoning. At this stage, people follow these internalized principles of justice, even if they conflict with laws and rules.

Yuk kita kembali ke kasus tadi.

Apresiasi kepada orang lain adalah hal yang sangat indah (yang aku sendiri masih perlu belajar dalam melakukannya).. tetapi apakah kita buta terhadap latar waktu? Apakah kita buta terhadap konteks? Mengapa harus disampaikan di muka publik dan di masa seperti ini?

Maksudku begini. Kalau cuma melihat peraturan sebagai rangkaian kata-kata yang harus dipatuhi saklek tanpa mempedulikan esensi keteraturan yang ingin dijaganya.. kalau celah-celah dicari dan disusupi tindakan lugu.. kalau berlindung dengan ‘tidak ada peraturan yang dilanggar’…

yah….

itu sih moral development-nya masih di stage 1. Lha dua puluh tahun lebih hidup ngapain aja?

Aih, maafkan aku. Semoga kita tidak terjebak dalam eksistensi saja. Semoga kita senantiasa mengingat esensi yang menjadi inti segala bentuk-bentuk.