Cita-Citaku

“Tante Vivin cita-citanya pingin jadi apa?”

Itu bukan pertama kalinya Yuna, kelas 4 SD, bertanya soal cita-citaku. Kadang aku merasa pertanyaan macam ini sudah nggak cocok lagi untuk orang seumuranku. Oke, mungkin bukan nggak cocok. Semakin tua, pertanyaan ini menjadi semakin rumit untuk dijawab. Ketika SD mungkin pernyataan cita-cita hanyalah soal definisi identitas, individualitas. Sekarang cita-cita adalah soal tumpuk-tumpukan berbagai soal macam pertanggungjawaban, pengambilan keputusan, kesadaran diri, kekecewaan, persetujuan, kompromi, ‘takdir’… hmm apa lagi ya..

Aih. Begitulah. Cita-cita.

Malam itu, entah kesambet apa, aku lancar saja memberikan jawaban ini.

“Pingin jadi orang yang menyembuhkan luka hati orang lain.”

Pret. Mbelgedhes. Kata sebagian diriku di dalam…. :)

“Aah bukan gitu,” Yuna agak ragu menyalahkan. Mungkin dia menimbang apakah jawabanku masuk dalam kriteria cita-cita atau bukan. “Profesinya?”

Dan lisanku lancar menjawab, “Profesinya jadi pengangguran. Pengangguran profesional.” Jawaban yang sudah cukup sering asal kulontarkan pada teman-temanku. :))

Yuna jelas tampak tidak puas.

“Iya. Jadi orang yang pintar mengatur waktu sampai bisa punya waktu luang untuk nganggur. Terus nganggurnya dibuat untuk hal-hal bermanfaat. Kan ada tuh orang yang ngerasa sibuuuk terus setiap hari sampai nggak punya waktu luang. Padahal sebenarnya dia nggak ngapa-ngapain.”

Ha. Sebagian diriku sebenarnya agak ragu, ini bualan atau sungguhan.

“Jadi aku mau jadi pengangguran profesional. Bukan pengangguran amatiran.”

Gara-gara mengeluarkan istilah baru, Yuna menyambar dengan pertanyaan dan aku jadi kebingungan menjelaskan makna profesional, amatiran, serta perbedaan keduanya. Semoga nggak salah-salah amat.

Baik. Jadi… itulah sekelumit pengakuan tentang cita-citaku. Yah kalau Bu Septi Peni bisa mempopulerkan ibu profesional, maka aku akan mempopulerkan pengangguran profesional!!

 

 

 

 

 

..Halah.

Dirindui

“Sabiq kangen, mau telepon.”

Pesan itu muncul beberapa detik sebelum ponselku berdering, menandakan panggilan masuk dari nomor kakakku. Ketika kuangkat, terdengar suara anak kecil berhalo-halo beberapa kali dari seberang.

“Aku kangen. Aku kangen. Aku kangen,” kata Sabiq berulang-ulang.

Aku, seperti gadis remaja yang peragu dan selalu butuh kepastian, bertanya, “Kangen siapa?”

“Kangen tante vivin,” jawabnya lugas.

Lalu aku, kembali seperti gadis remaja yang peragu dan selalu butuh diyakinkan, bertanya lagi, “Kenapa kok kangen?”

Alah vin. Aku segera mendapat hinaan dari diriku sendiri: pertanyaan bodoh, vin. Dalam kepalaku terkilas satu episode One Piece yang kutonton beberapa hari lalu. Ada kata-kata Sengoku yang terasa begitu relevan bagi orang seperti aku:

“Don’t try to find a reason for someone’s love!”

Tapi kalau boleh, aku ingin mengedit sedikit kata-kata Sengoku sebagaimana yang diterjemahkan oleh http://watchop.io itu. Ketimbang love, lebih meyakinkan kalau kita operasionalkan saja menjadi good deeds. Kata abstrak semacam love hanya akan membuat curigaku bertamasya ke mana-mana.

Ketika orang berlaku baik, tidak perlu buang-buang energi dengan merangkai-rangkai rasionalisasi tentang mengapa ia berbuat baik. Cukup katakan terima kasih. Alasannya bukan urusanmu. Tidak ada gunanya merasa bahwa kamu hanyalah batu loncatan baginya untuk meraih surga. Pun kalaupun perlakuannya adalah bagian dari konspirasi jahat. Bukan urusanmu.

Apalagi ketika keponakanmu menyatakan sayangnya, rindunya, dan bertanya kapan kamu akan pulang. Tidak perlu buang-buang energi dengan mempertanyakan apakah anak sekecil itu memiliki kapabilitas untuk merasakan ‘sayang’ dan ‘rindu’ yang sesungguhnya. Resapi saja rasanya. Izinkan emosi itu memengaruhimu.

Sayangnya, pelajaran sederhana ini baru sampai ke teras pengetahuanku saja. Aku belum mampu menghayati, menghidupinya. Kepalaku masih terlalu besar. Terlalu menyukai jalan-jalan nirfaedah yang melelahkan.

Maaf ya, Sabiq. Terima kasih.

 

The Flood and The Loss

I lost my books. A flood washed away 95% of my collections.

It was Thursday last week when the flood hit the house. Rain had been pouring the whole night-before, and by morning I could see the water level in the river had risen significantly. It wasn’t that the flood came suddenly. I and my housemates managed to do some preparations: lifting up everything to a higher place in the house, which is not that high and not that many. However the water level was too high and it reached every high place we thought it wouldn’t reach. It was predicted to be knee-high, it turned out to be chest-high.

“The biggest flood since we’ve been here!” said our neighbor.

We took our shelter in the next house which had a higher ground. I had with me my laptop, mukenah, and nothing much more. I didn’t get my cellphone nor wallet. Water continued rising up and up and up. I got nervous and started a let-it-go coping mechanism. My neighbor, taking a glance at our house’s condition, warned me that water had reached the cardboard boxes where I kept my books.

I could hear my mind’s panic-yet-try-to-keep-calm uttering, let it go.

By then some useless thought passed my head. Ah, I should’ve put the books higher, or do this, or that. If I had arranged it better the books could’ve been saved. Ah. But the water kept rising up and up and up so mercilessly that it eventually almost sank the house. Looking at the water level, I knew nothing would be saved. This made the coping process easier, like, Kay, I lost everything. Can’t be helped anyway, I did everything that I could. I tried to remain calm, closed my eyes, recited dzikir, and just waited for the water to be drained.

How about university certificate? Plus score transcript?

Err…

Actually I had forgotten those papers, didn’t even know in which box I put it. Those things don’t really have a significant place they deserve in my mind. But, you see, my brother had lost his high school certificate (his latest education level) and that had made my mom very sad slash angry. So I was rather worried about how I would tell my mom about it. It’s one frightening episode to imagine..

Around afternoon, when the water was finally drained, I and housemates went checking the house. The mud was thick. I saw books lying around, covered in mud. Quite a heart throbbing scene. I located my wallet, grabbed some hanged clothes (that made them unreached by the water), and went to my brother’s house nearby. His place was also flooded but not that bad.

Long story short, words were spread that later at night a second flood would come. A bigger one. Thus we were going to take refuge in another house, further away from the affected area. I got back to the house to grab anything I could save from the second wave. After some minutes scraping, I miraculously managed to find my cellphone and certificate.

My cellphone was inside a bag happened to be hanged up high, so it wasn’t hit by the water. My certificate was inside the only unbroken cardboard box. The flood had washed the box into the yard, but its lids were still neatly closed so things inside didn’t get all muddy. My certificate and score transcript was slightly wet but most importantly still intact. Yokatta.

The second flood did came, though not as big as the first one.


You know, I lost many things in life–most frequently cellphones. Okay, I know maybe it’s not a significant loss. But talking about loss and sadness + disappointment that trail with it is still not easy for me. First off, I have to face myself and calm her down. Similar to a heart break, I’m worried that discussing loss will only remind me of the pain. Yet I’m also worried that blocking the channel will build up a tremendous unbearable feeling. It’s also hard to remain serene whatever others say.

When appearing to be perfectly calm, some will be disturbed and say, “Aren’t you sad? Oh, you must be used already with this kind of things. Oh, you must have a good prosperous life you could re-buy anything you lost. *shrug off*”

When appearing to be sad, some will say, “Your situation is actually much better than the majority of people in the world. You should be grateful that it’s only [something] that you lost. Don’t act like a crybaby.”

Some are brilliant detectives who quick to find who’s at fault–me, of course–by saying, “How could that happen? Did you keep everything safe? I know you must not, you’re a messy girl. I’ve told you like millions times that you should xx yy zz. You never change.”

Some other are very well prepared to take the role of a wise teacher and deliver a sermon, “This is God’s warning. You have to evaluate yourself, muhasabah. Maybe you don’t give enough charity. Maybe you’ve been neglecting your religious duty.”

I well realize that those words are, to some extent, true. The problem is just within myself. I long to be consoled so I want to tell my feelings, but I’m afraid people will just see me as spoiled. Even if they do empathize, I’m afraid that I’d be weaker and become too dependent. I find myself trapped between the wish to rely and the wish to be capable.


So, back to the after-flood. It took me some time before deciding that I need to tell a friend. I started indirectly and built from that. Luckily I got a proper response. I felt that the friend was being sincerely empathic in just the right amount without exaggeration. So I was encouraged and my heart got lighter. Now I have the gut to openly discuss my loss in this post. Thank you, friend.

To conclude the story, I want to say that I’m feeling fine. Losing things makes me realize that I’m okay without them. In fact I can’t really call it a ‘loss’ because, ya, I started life with nothing at hand. Books nevertheless had been the major source of my pride and happiness, but those earthly things don’t define me. Few days ago I scraped the hill of all muddy-torny books. Karlsson’s words kept echoing in my head, “Aah itu kan hanya barang duniawi.” I did a quick assessment to keep some that could be saved–just a little few. As I threw the rest away, I bid them farewell.

Thank you for coming to my world, letting me read you, and serving my hoard all this time. I’m grateful for everything we’ve been through. :) 

For those of you who gave me those books, I’m sorry that I couldn’t keep them safe. You know you can always give me new ones. Hehe. ;)

Hey. You only own things you can’t lose. Now, what can’t you lose? Think about it and set priority straight.

Be safe, folks!

Wow, this has become quite a long post. Thanks for keep reading.

 

Hubungan Dunia Maya Kita, Dulu dan Sekarang

Suatu hari di tahun 2006 atau 2007, aku pulang dari sekolah dan pergi ke warnet. Just in case istilah ini mulai asing, warnet adalah warung internet. Untuk apakah aku pergi ke warnet? Untuk mengakses ilmu pengetahuan tanpa batas? Untuk menyebarkan petisi dari Green Peace? Untuk menyelamatkan dunia?

Bukan. Aku ke warnet untuk chatting.

Ew.

Ketika itu aku masih bersekolah di SMP dengan waktu luang yang sangat lapang. Kalau dipikir sekarang, aku juga tidak habis pikir bagaimana bisa bercakap tanpa substansi berarti dengan orang asing menjadi kegiatan yang rekreatif. Entahlah. Tapi seingatku chatting adalah kegiatan yang sangat umum di kalangan teman sebayaku.

Di zaman itu umumnya chatting dilaksanakan via mIRC. Aku menentukan suatu ID, bergabung dalam sebuah chatroom, dan secara asal memilih beberapa ID lain untuk diajak mengobrol. Sometimes it went wrong.. (bapak, ibu, mohon jaga anaknya masing-masing) . . sometimes it went dull. Tapi di antara lautan ID random itu, aku sempat berkenalan dengan satu manusia ‘betulan’. Namanya Fatkhi. Saat itu sedang berstatus mahasiswa.

Begini. Hubungan antara mahasiswa dan siswa SMP seperti ini kadang-kadang berjalan.. tidak sehat. Saat itu belum ada Tinder, tapi bukan berarti kopi darat yang berujung ‘romansa’ tidak ada. Beberapa temanku mengalaminya. Untungnya, dalam kasusku tidak ada hal aneh-aneh yang terjadi. Dari mIRC hubungan itu berlanjut melalui Friendster dan Yahoo Messenger. Kami tidak pernah bertemu dan tidak ada romansa, ew. :v

Aku tidak begitu ingat hal apa saja yang kami bicarakan. Seingatku dia berperilaku seperti orang tua, suka menasihati. Fatkhi adalah orang pertama yang mengenalkanku pada pemrograman sederhana menggunakan Pascal. Selanjutnya ia juga mengenalkanku pada temannya yang bernama Pungky.

Dengan mbak Pungky ini aku bahkan bertukar nomor telepon dan akhirnya bertemu… tanpa pamit pada orang tuaku! Waduh, coba bayangkan bagaimana nasibku kalau mereka ini sindikat pedagang manusia. Untung saja tidak. Aku pergi ke mall terdekat bersama Pungky untuk berfoto di photobox. Sebelum berpisah, Pungky menghadiahiku sekotak kue dan sebuah gantungan kunci. Keduanya buatan sendiri. Setelah memakan kuenya aku tidak keracunan atau hilang akal. Semua berjalan baik-baik saja.

Saat ini aku sudah kehilangan kontak dengan Fatkhi dan Pungky. Aku sudah mencoba meng-google nama mereka, tapi tidak mendapat hasil berarti. Kalau mengingat dua orang ini, aku merasa Allah sangat baik menjagaku di masa-masa labil itu. Selain itu Fatkhi dan Pungky menjadi penanda masa-masa awalku menggunakan internet.

Dulu, kita menggunakan identitas lain di internet. ID mIRC, alamat surel, nama Friendster, semua adalah alter ego. (Bukankah itu cara yang lebih aman ya?) Kini hal itu dikatakan ‘alay’. Sekarang, dengan memampang nama asli di Facebook, Twitter, Instagram, blog, Tumblr, semua orang bisa dengan mudah menggali informasi mengenai diri kita.

Dulu, kita menggunakan internet untuk menjangkau dunia di luar lingkaran kita, berkenalan dengan orang yang sama sekali baru. Dari layar komputer, kita bertemu di dunia nyata. Aku pertama kali mengenal Silvi melalui Friendster, dua tahun sebelum kami akhirnya duduk sebangku di SMA. Sekarang, sebaliknya, kita berkenalan di dunia nyata kemudian baru ‘mempertebal’ hubungan itu melalui pertemanan internet. “Eh, Path kamu apa? Sini aku add.” :v

Ah aku agak merindukan sensasi internet zaman dulu itu. Bagaimana kalau aku ganti nama menjadi pHinZ agar lebih eksotik? :3

Eh, kalau ada di antara kalian yang membaca ini dan tidak mengenalku di dunia nyata, mari berkenalan. :> (Kalau sebelumnya aku tidak menanggapi komentar kalian pada suatu post, percayalah itu karena aku terlalu bingung harus mengatakan apa…)