Di tempatku, hidup adalah anak baik yang main perosotan. Paling banter ayunan. Di tempatmu, hidup adalah bocah petualang yang berlari tanpa alas kaki. Tapaknya tertusuk paku karatan, dan ia selamat dari tetanus. ..hanya untuk kemudian lepas berlarian lagi. Kamu mengira ia mengidap ADHD akut.

Hidup di tempatku adalah perahu yang menyusuri sungai-sungai bening. Mereka melepasku di dermaga dengan lambai dan perbekalan. Sementara hidup di tempatmu adalah bus kota dengan penumpang yang naik dan turun. Di setiap pemberhentian kamu bertanya tidak sabar, “Kali ini siapa ya? Apa ya?”

Kamu berkali-kali berkenalan dan ditinggalkan. Melepaskan.

Jujur, aku tak tahu apa bagusnya membelah debu jalanan. Mungkin kalau lancang kutanya kamu akan katakan dengan gusar, “Itu pak supir yang kendalikan.” Seperti kamu pun rasanya tak ‘kan paham, apa serunya melihat pantulan wajah sendiri di permukaan air.

Tapi teknologi kan sudah canggih begini. Bisa lah sesekali kita berbincang. Aku di perahu, kamu di bus. Kirimkan foto titik hujan di jendelamu. Akan kurekam suara kecipak air di sela dayungku.

Aku tidak berharap sejauh itu, tapi mungkin kernyit di dahi kita bisa memudar, berubah angguk, dan sepenggal ujar,

“Ooh.”

Tukang Sapu Panggungmu

Pak, saya ini orang kecil
tidak pernah minta yang neko-neko
Ini panggung milik Bapak, ya
biarlah saya lewat sebentar, membersihkannya
maafkanlah kalau lantainya kurang bersih
tapi Pak,
tidak perlu menghukum saya sampai seperti ini

menyandingkan saya dengan lima orang aktor hebat..

tolong Pak, ini terlalu kejam
Bapak sengaja ya?
Njenengan tau kalau saya pernah bermimpi jadi aktor?
iya?
Njenengan mau mengecoh saya?

sebenarnya sudah lama saya ingin bilang,
“Pak, saya cuma tukang sapu panggung!
jangan memperlakukan saya seolah
layak jadi pemeran utama.”

dan Bapak pun cuma diam
memajang saya yang kaku
di antara lima orang yang asyik
bermain
tidak ada penjelasan
saya harus apa?

saya seperti boneka saja

buncah Pak,
rasanya hati saya mengembang saking senang
tapi Bapak tidak pernah memberi kepastian
hati saya pun waspada kalau-kalau dikecoh

kemudian dua malam yang lalu
seseorang menyapa saya di gang.
“Halo, kamu aktor panggung ya?”
“Err, iya,” saya menjawab ragu-ragu
dalam pertanyaannya itu saya dapat mendengar nada iri
tapi bukan jenis yang jahat
maka saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan
dan melalui jawaban-jawaban.. semuanya jadi agak terang.

penasaran Pak, penasaran
kata seorang teman, itu sifat dasar manusia
sore itu saya menguntit Bapak
hina Pak, ampun. perbuatan saya amat rendah.
tapi apakah Bapak paham.. rasanya?

bagaimana lagi coba Pak?
di sebuah bilik kecil, gelap
Bapak berdua dengan pemain debutan itu
bicara tentang masa depan
kehidupan panggung yang indah berbintang

karena saya ini cuma orang kecil pak, sungguh,
tidak pernah minta yang neko-neko.

Salam, Nung

Gunung itu ingin mengucapkan sesuatu
yang tercekat dalam kerongkong kawahnya
Aku rasa ada sesuatu yang sangat besar,
sangat kasar
bersemayam di dalam hatinya

Punggungnya menjulang kaku
seperti dihadapkan khusus padaku
Sementara ia, entah,
sibuk menyiapkan api letusan

Aku berlari-lari mengelilingi
berharap bertatap dengan mukanya
agar dapat kukatakan beberapa hal
seperti anu dan anu, atau anu dan anu
tapi yang kutemui hanya punggung

Ia menghilang, tak bisa kutangkap lagi
sebab ke dalam lah ia pergi

(Ada kemungkinan sinyal internet bisa mencapai bagian dalam gunung itu,
maka melalui puisi ini ingin kuucap salam padanya. Selamat malam.)