Kalau kamu datang dan menemukan pintuku tertutup,
masuklah tanpa izin. Tanpa mengetuk
Tak perlu repot membuka sepatu–kita urus itu nanti
Duduklah di manapun kamu mau
Ambil camilan dan air minum dingin

Tempat ini selalu rumahmu

Kalau kamu melangkah dengan hati-hati,
menunggu di luar, sambil memanggil namaku beberapa kali,
aku akan tahu bahwa kamu orang asing di sini
Aku akan punya waktu untuk pura-pura mati
atau, minimal, pura-pura tuli

Kalau kamu datang dan tidak menemukan pintu,
percayalah pada intuisi itu:
Ada ruang yang hangat di dalam sini
Barangkali dulu aku terlalu bersemangat membangun dinding
sambil membayangkan ketenangan dunia sendiri
Maka retakkanlah, robohkan dari segala sisi
Kita urus puing-puing itu, nanti

Tempat ini selalu milikmu

Aku tidak akan mengampuni petualang yang lancang
tapi terhadapmu aku akan jadi pelupa
Jadi seret saja kursimu ke dekat kursiku
dan mulailah bercerita tentang naga dan chimaera
Aku akan menatap lurus ke langit-langit
lalu perlahan mengernyit, meragukan diri

Akhirnya, akan kuceritakan padamu soal gravitasi
yang menahanku tetap di sini
Kemudian tentang bagaimana kamu menjelma
menjadi matahari
membebaskanku dari tarikan bumi


Menemukan tulisan ini di awan. Ditulis suatu hari pada 2015.

Membaca ini, seperti biasa, aku merasa ingin bilang “Opoo seehhh..” pada diri sendiri _ _ heum.

‘Puisi’ ini terasa manis at first glance. Tapi coba dipikir lagi dengan kepala dingin ya, Afina. Kamu mau gitu ada orang tidak permisi tidak kulo nuwun tiba-tiba masuk mengintervensi hidupmu seolah he belongs there in the first place? Bahkan tidak perlu buka sepatu! Kayak kamu jago bersih-bersih kehidupan aja. Sudah gitu orangnya berkepala besar dan bermulut lebar sok-sok menjelaskan soal segala hal?

Entah apa yang dipikirkan saat itu. Apakah ditulis dengan memikirkan orang tertentu? Apakah sedang jatuh cinta? Atau justru patah hati? Heuhh. (-___-)

Kadang aku merasa bersyukur banyak melupakan hal-hal di masa lalu.

Begitulah.

Di tempatku, hidup adalah anak baik yang main perosotan. Paling banter ayunan. Di tempatmu, hidup adalah bocah petualang yang berlari tanpa alas kaki. Tapaknya tertusuk paku karatan, dan ia selamat dari tetanus. ..hanya untuk kemudian lepas berlarian lagi. Kamu mengira ia mengidap ADHD akut.

Hidup di tempatku adalah perahu yang menyusuri sungai-sungai bening. Mereka melepasku di dermaga dengan lambai dan perbekalan. Sementara hidup di tempatmu adalah bus kota dengan penumpang yang naik dan turun. Di setiap pemberhentian kamu bertanya tidak sabar, “Kali ini siapa ya? Apa ya?”

Kamu berkali-kali berkenalan dan ditinggalkan. Melepaskan.

Jujur, aku tak tahu apa bagusnya membelah debu jalanan. Mungkin kalau lancang kutanya kamu akan katakan dengan gusar, “Itu pak supir yang kendalikan.” Seperti kamu pun rasanya tak ‘kan paham, apa serunya melihat pantulan wajah sendiri di permukaan air.

Tapi teknologi kan sudah canggih begini. Bisa lah sesekali kita berbincang. Aku di perahu, kamu di bus. Kirimkan foto titik hujan di jendelamu. Akan kurekam suara kecipak air di sela dayungku.

Aku tidak berharap sejauh itu, tapi mungkin kernyit di dahi kita bisa memudar, berubah angguk, dan sepenggal ujar,

“Ooh.”

Tukang Sapu Panggungmu

Pak, saya ini orang kecil
tidak pernah minta yang neko-neko
Ini panggung milik Bapak, ya
biarlah saya lewat sebentar, membersihkannya
maafkanlah kalau lantainya kurang bersih
tapi Pak,
tidak perlu menghukum saya sampai seperti ini

menyandingkan saya dengan lima orang aktor hebat..

tolong Pak, ini terlalu kejam
Bapak sengaja ya?
Njenengan tau kalau saya pernah bermimpi jadi aktor?
iya?
Njenengan mau mengecoh saya?

sebenarnya sudah lama saya ingin bilang,
“Pak, saya cuma tukang sapu panggung!
jangan memperlakukan saya seolah
layak jadi pemeran utama.”

dan Bapak pun cuma diam
memajang saya yang kaku
di antara lima orang yang asyik
bermain
tidak ada penjelasan
saya harus apa?

saya seperti boneka saja

buncah Pak,
rasanya hati saya mengembang saking senang
tapi Bapak tidak pernah memberi kepastian
hati saya pun waspada kalau-kalau dikecoh

kemudian dua malam yang lalu
seseorang menyapa saya di gang.
“Halo, kamu aktor panggung ya?”
“Err, iya,” saya menjawab ragu-ragu
dalam pertanyaannya itu saya dapat mendengar nada iri
tapi bukan jenis yang jahat
maka saya melontarkan pertanyaan-pertanyaan
dan melalui jawaban-jawaban.. semuanya jadi agak terang.

penasaran Pak, penasaran
kata seorang teman, itu sifat dasar manusia
sore itu saya menguntit Bapak
hina Pak, ampun. perbuatan saya amat rendah.
tapi apakah Bapak paham.. rasanya?

bagaimana lagi coba Pak?
di sebuah bilik kecil, gelap
Bapak berdua dengan pemain debutan itu
bicara tentang masa depan
kehidupan panggung yang indah berbintang

karena saya ini cuma orang kecil pak, sungguh,
tidak pernah minta yang neko-neko.