Dari Buru ke Tanah Suci oleh Rizki Lesus

Tulisan ini dimuat pada situs Jejak Islam untuk Bangsa, merupakan seri ketiga (terakhir) dari rangkaian tulisan berjudul Rekonsiliasi dan Renungan. Tulisan ini terbit pada bulan Oktober 2016. Tahun lalu, sekitar tanggal-tanggal ini. Mungkin pada atmosfer yang mirip dengan yang kita rasakan saat ini.

Bacalah seri pertamanya, Luka Sebelum ’65, dan seri keduanya, Rekonsiliasi Hakiki. Cukup panjang, tapi insyaallah bermanfaat. Jika kamu benar-benar punya waktu terlalu sempit untuk membaca ketiga tulisan itu, aku sarankan bacalah yang terakhir ini: Dari Buru ke Tanah Suci. Yang satu ini lebih condong kepada judul ‘renungan’ ketimbang ‘rekonsiliasi’. Boleh juga dibaca terlepas dari konteks rekonsiliasi.

Semoga hatimu tergetar. Seperti punyaku.


 

Benarkah orang-orang menginginkan rekonsiliasi dari atas? Ataukah rekonsiliasi itu sebenarnya sudah berjalan dengan sendirinya?

Lautan manusia. Pemandangan sungguh dramatis. Semua menatapnya dengan takzim. Bulir-bulir bening yang entah mengapa sudah menggunduk di sudut mata. Air mata yang tak henti-hentinya meleleh melewati pipi. Dinding yang begitu kokoh seakan runtuh dengan menatapanya. Ka’bah, membukakan kesadaran ruhani akan pekatnya kalbu yang berselimut dosa.

Tiap insan merindunya. Karenanya, air mata kan tumpah tetiba tak terkira tanpa sadar menatap rumahNya yang Maha Indah. Semua berputar seiring detak jantung dan helaan nafas. Seruan klasik nabi Ibrahim yang kekal hingga Kiamat.

Jutaan manusia berdatangan menjadi tamuNya. Siang malam yang terus berputar. Tempat merintih kembali ke hidayahNya, meminta ampun dengan sebening-beningnya hati.

Tanah suci yang dirindukan seluruh insan beriman. Tempat menghamba diri sebenar-benarnya. Menatap Ka’bah yang sangat indah, menggetarkan jiwa. Tempat diri ini bersimpuh, menyerah, mengakui segala alpa dan dosa. Beningnya yang tak henti-hentinya menetes.

Lautan manusia, bertalbiyah menyambut seruannya: Labbaik Allahumma Labbaik…Innal Hamda Wa ni’mata Laka wal Mulk..La syarikalaka…

Di pelatarannya, nampak seorang sepuh sedang menangis sesenggukan dengan berjuta doa yang terlafal. Sebut saja Haji Bajuri (79), seorang eks tahanan politik Pulau Buru itu Pria sepuh itu duduk termenung, menangis haru.

Berjuta syukur terlafal bahwa kini, dirinya bisa bersimpuh sebagai hamba di hadapan sang Maha. Berharap agar keturunannya menjadi manusia yang bermanfaat bagi Negara ini.

Kepada Tim Liputan JIB – JITU, Haji Bajuri mengaku sebagai orang yang dituding simpatisan PKI pasca 1965 hingga diasingkan ke Pulau Buru. Dengan adanya wacana rekonsiliasi kini, ia mengatakan “Saya sejak lama sudah menerima dengan ikhlas, masa bodoh dengan isu-isu rekonsiliasi. Sejak dulu saya bersama tetangga sudah rekonsiliasi, kini hidup biasa saja, semuanya sudah selesai.”Beliau adalah tahanan politik yang diasingkan ke Pulau Buru selama 9 tahun (1970 – 1979) dan ditempatkan di unit para sarjana dan intelektual Unit 4 Savananjaya.

Saat ini, ia mengaku hidup biasa, tak pernah mempersoalkan masalah yang diributkan tentang rekonsiliasi atau saling maaf antara pihak yang berseteru. “Kita menatap masa depan, anak saya sekarang sudah menjadi ‘orang’, Alhamdulillah. Saya berdoa di Tanah Suci agar kami dapat menjadi orang yang bermanfaat,” katanya.

Pulau Buru memang dipilih karena dinilai sebagai ‘penjara alami’ dengan perbatasan lautan lepas dan gunung. “Tidak akan ada yang bisa kabur dari sana,” kata Bajuri. Pada tiap unit, ada satu regu khusus penjaga (tonwal) dibawahi satu komandan CPM (militer).

Belakangan, didatangkan para dai untuk mendakwahi mereka yang komunis agar kembali ke Islam. Tak hanya dai muslim, pendeta, pastor pun didatangi sehingga di tiap unit memiliki masjid juga gereja. Para dai ini disebut rohis, dan tiap rohis memiliki ‘asisten’ seorang tahanan politik.

“Saat itu entah mengapa saya dipercaya menjadi ‘asisten’ rohis,” kenang Bajuri. Para dai, menurut Bajuri mencerminkan akhlak yang baik. “Mereka santun, enak diajak diskusi, sehingga kami menjadi terbuka. Mereka penuh empati,” tambahnya.

Lama-lama, Bajuri dipercaya mengurusi masjid. “Istilahnya saya menjadi marbot masjid. Saya di sana azan, imam juga diminta ceramah,” katanya. Proses ini, kata Bajuri membuat dirinya sangat dekat dengan rohis dan juga CPM.

Salah satu dai yang dikirim ke Pulau Buru, Bambang Pranowo menuturkan bahwa selama di sana, pendekatan dakwah yang dilakukan beragam. “Jadi, tidak semua di sana atheis, ada juga yang bisa shalat, mengaji. Di sana, kami menyatu saja, lebih cair dan banyak diskusi,” kenang Prof. Bambang Pranowo yang kini menjadi Rektor Universitas Mathlaul Anwar Banten.

Para dai di Pulau Buru mula-mulai mengelompokkan para tahanan politik mulai dari diskusi, tes mengaji, tes shalat. “Kebanyakan dari mereka hanya tertarik dengan ideologi sosialnya. Tapi memang ada, yang sampai atheis. Tapi kebanyakan yang saya temui, bereka masih beragama,” kata Bambang.

Budayawan Ajip Rosidi (78) mengatakan dengan dakwah di Pulau Buru, rupanya cahaya Islam itu melekat pada tokoh-tokoh Marxis yang akhirnya menjadi pembela Islam, yaitu SI Poeradisastra yang dikenal dengan nama Boejoeng Saleh.

Haji Bajuri, eks tapol kita bersua dengan Prof. Boejoeng Saleh di Pulau Buru. “Saya bertemu saat itu, kami sama-sama menjadi juri MTQ di sana, beliau tokoh terkenal, tapi semangat belajar Islamnya tinggi,” kenangnya. Sebagai tokoh Sastra, Boejoeng dan Ajip beberapa kali saling berjumpa.

Ketika saya pertama kali berkenalan dengan SI Proeradisastra yang masa itu menggunakan nama Boejoeng Saleh, yaitu pada tahun 1953 atau 1954, dia sudah dikenal sebagai orang kiri, lebih khusus lagi sebagai marxis yang tangguh. Saya mendengar bahwa selagi masih muda (usia 20-an) dia ikut mendirikan Sarikat Buruh Perkebunan (Sarbupri),” kata Ajip.

Dalam Simposion Sastra pertama yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas sastera Universitas Indonesia, Ajip mengisahkan bawah Boejoeng diminta mengemukakan pandangannya tentang sastra Indonesia yang oleh perdebatnya. Anas makruf, disebut sebagai pandangan Marxis bahkan komunis. Anggapan demikian kemudian di kalangan kesusasteraan Indonesia menjadi cap yang melekat pada diri Boejoeng Saleh.

Sebelum Boejoeng ditawan ke Pulau Buru, dalam suatu kesempatan sastrawan Aoh K. Hadimadja bertanya kepada Boejoeng Saleh ketika kami beberapa orang sahabat mengobrol santai, “Sebagai Marxis saudara percaya akan adanya Tuhan atau tidak?”

Terhadap pertanyaan itu Boejoeng menjawab setelah berpikir beberapa jenak, “Pada saat-saat tertentu memang saya merasa bahwa ada kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar dari kita…,” kata Boejoeng.

Kata Ajip, Pertanyaan seperti itu niscaya ganjil diucapkan oleh seorang yang dianggap Marxis yang berpegang kepada filsafat materialisme. “Saya spontan memberi komentar negatif, dengan nada mengejek bertanya mengapa dia tidak melanjutkan pemikiran tersebut.

“Tentu karena takut kalau-kalau pada ujungnya akan sampai pada anggapan bahwa memang Tuhan ada,”jawab Boejoeng. “Boejoeng tidak memberi komentar terhadap ejekan saya. Dan yang lain pun tidak ada yang mempersoalkannya. Aoh juga tidak bertanya lebih lanjut.,” kenang Ajip.

Ajip Rosidi. Foto: Tim Liputan JIB - JITU

Ajip selalu mengingat peristiwa itu karena ternyata Marxis yang begitu terkenal juga pada dasar hatinya kadang merasa adanya kekuasaan yang lebih tinggi dan lebih besar.

“Kedua, karena Boejoeng sendiri tidak pernah menyinggung hal ini. Dia tidak merasa perlu menerangkan lebih lanjut tentang pernyataannya di depan Aoh dkk. atau tentang ejekan saya. Saya juga tidak merasa perlu untuk mendesaknya lagi mengenai hal itu. Mungkin karena pada waktu itu saya sendiri belum mempelajari Islam secara mendalam,” kata Ajip.

Menjelang 1965, Ajip semakin jarang bersua dengan Boejoeng. “Apalagi setelah dia diangkat menjadi Guru Besar bahasa Indonesia di Moskwa, kemudian sepulang dari Rusia dia diangkat menjadi Sekjen Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia),” kata Ajip.

 “Setelah terjadi Gestapu berita tentang Boejoeng agak simpang siur. Berita yang sampai kepada saya mengatakan bahwa dia sudah berangkat ke Pyongyang karena diminta mengajar bahasa Indonesia di sana. Tapi beberapa tahun kemudian, Slamet, anak Boejoeng yang sulung datang menemui saya. Dari dia saya mendengar bahwa ayahnya diasingkan ke Pulau Buru,” tambahnya.

Dan pada tahun 1976 ketika erita tentang pembebasan para tapol dari buru dimuat dalam surat-surat kabar, Ajip membaca tentang Prof. Iskandar Poeradisastra di antara kelompok yang pertama di kembalikan dari pulau Buru. “Ketika saya telusuri ternyata Prof Iskandar Peoradisastra itu adalah Boejoeng Saleh Poeradisastra,” katanya.

Pada pertemuan-pertemuan sehabis dia pulang dari Pulau Buru, Ajip menilai bahwa Boejoeng tidak takut melanjutkan pemikirannya tentang adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar seperti yang pernah diakuinya dua dasawarsa sebelumnya.

“Dengan hidayah dari Allah dan bimbingan salah seorang ustaz yang dikirimkan ke Pulau Buru, dia menjadi muslim yang soleh. Yang bukan saja saya saksikan sangat taat melaksanakan kewajiban shalat lima lima kali sehari dan ibadah puasa, melainkan juga sering memuat tulisan yang menunjukkan sikapnya yang islami dalam majalah-majalah dan surat kabar.,” kenang Ajip.

Hal lain yang membuat Ajip terharu ialah ketika Boejoeng menyerahkan buku bernafas Islam agar diterbitkan. “Pada waktu itulah dia menyerahkan naskah Sumbangan Islam kepada Ilmu dan Peradaban Modern untuk diterbitkan kepada saya,” kata Ajip.

Menurut Ajip, meskipun isinya terutama hanyalah kompilasi dari pendapat para sarjana terkemuka tentang para ilmuwan dan sastrawan Islam sejak abad pertama Hijriah, namun ia anggap penting dibaca oleh bangsa Indonesia yang meskipun penduduknya mayoritas muslim, namun kebanyakan tidak mengetahui sejarah dan kebudayaan Islam.

“Melalui penerbit Girimukti Pasaka yang dipimpin oleh H L Martalogawa, buku ini diterbitkan untuk pertama kali Meskipun sudah lampau lebih dari seperempat abad sejak terbit pertama kali dan sekalipun telah banyak terbit buku-buku tentang sejarah dan peradaban Islam, namun buku ini masih perlu dibaca,” begitu Ajip mengenang.

Ketika cahaya Islam datang, bahkan tak ada yang kuasa menolak. “Di Tanah Suci, saya selalu berdoa agar saya dikuatkan menjalankan semuanya. Sekarang saya sudah ikhlas dan menerima segalanya. Sejarah biarlah menjadi sejarah, kita berdoa supaya kini hidup bermanfaat,”lirih Haji Bajuri dengan mata berkaca-kaca.

Kisah yang seakan berulang berabad silam.Adalah Fathu Makkah mengawali semuanya. Jiwa pemaaf membuka kemenangan yang hakiki: berbondong-bondong manusia kembali mereguk manisnya iman.

Datanglah kini dengan merendah, menyemut mengelilinginya sambil memohon ampun. Semua delegasi mendatanginya, hingga kita, delegasi terakhir dari umatnya.

Merintih penuh harap di kaki Ka’bah, dengan penuh tekad bertaubat. Pusaran yang tak pernah berhenti sekejap pun, kecuali saat menghadap RabbNya dalam shalat, manusia terus berputar pagi siang senja hingga malam menjelang. Tak pernah terputus, semua berputar dengan teratur. Doa-doa terlantun, hidayah melimpah ruah.

Tak peduli pangkat, jabatan, usia, suku, asal tempat hingga warna kulit semua menyatu dalam haru. Tak ada dosa yang terhapus kecuali syirik. Maka, bertaubatlah semua, meminta maaflah semua, dan Islam menghapus seluruh dosa berbuih di samudera, berlimpah pasir di sahara, semuanya luluh tak tersisa.

Maka menangislah, menghambalah semua. Dari masa ke masa, rumahNya selalu menyimpan lipatan spritiual tersendiri, menyimpan makna, membawa cerita mengesankan. Di hadapan susunan bata bergaun kiswah hitam itu, amnesti terhadap ribuan warga Quraisy terlantun di Fathu Makkah.

Rekonsiliasi yang benar-benar hakiki, tak terputus oleh dunia yang fana. Kumandang azan syahdu memanggil kaum yang menang, kembali menghadapNya.  Berbondong-bondong orang masuk Islam dengan damai. Seruan damai yang abadi, mengetuk kalbu bahkan para musuhNya.

Lihatlah Umar Ibn Khattab yang begitu garang menetang Islam di awal kenabian. Tapi rekonsiliasi benar-benar terlakon. Kita semua tahu seperti apa Umar setelah hidayah datang menyapa.

Kita menatap Khalid Ibn Walid, siapa yang tak kenal panglima yang begitu getol memerangi sang Nabi ? Namun, lihatlah ketika hidayah datang menyapa, tak ada julukan begitu indah: Pedang Allah, yang paling depan dalam berjihad fisabilillah.

Dan di depan Ka’bah yang mulia ini, doa-doa terlantun. Tangis haru yang menyelimuti setelah sang Nabi bertawaf. Pidato yang menggelgar.

“Hari ini adalah hari kasih sayang, bukan hari pembantaian. Semua bebas!”

Seruan yang menggetarkan jiwa. Sejarah akan Nabi Yusuf yang berulang, bukankah sejarah selalu berulang? Dihina, dicaci, disiksa, diusir penuh duka. Namun dengan kepala tegak, sorot mata yang jelas.

“Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Maka menangislah jiwa pendosa dengan penuh ketundukan di hadapan rumahNya. Semua jiwa yang merindu kembali ke fitrah.Cahaya Islam yang berpendar dengan indah, menanti semua kembali kepadanya.  Tangis haru yang menyeruak di pelataran rumahNya.

Lihatlah gembong pemimpin Quraisy Abu Sufyan yang selalu terdepan memerangi sang Nabi. Luluh hatinya bersimpuh di hadapan manusia paling mulia. Tak ada pembalasan lisan, ganyang mengganyang atau kecaman sang Nabi kecuali penghormatan penuh,” Barang siapa yang masuk rumah Abu Sufyan amanlah ia.”

Merah padam muka Hindun, istrinya dengan sumpah serapah. Mau ditaruh di mana muka ini? Setelah mengunyah jantung Hamzah sang syuhada di Uhud, kini suaminya sendiri memeluk Islam. Namun, ketika hidayah itu memasuki relung hati Hindun, adakah yang sanggup menghadangnya?

Lihatlah ketika ia malu-malu mendatangi sang Nabi, memohon ampun. Betapa alpa dirinya, menjadi salah satu penentang sang Nabi di semua sisi. Dengan lembut, sang Nabi memaafkannya. Maka berlafallah dua kalimat syahadat. Sempurna lah, pasangan ini mereguk manisnya iman dalam rekonsiliasi hakiki.

Apakah pernah terbayangkan, musuh yang begitu dibenci kini menjadi teman setia? Bahkan menjejak langkah menjadi seorang pejuang. Kita kan menemukan dua insan yang saling mengayunkan pedang. Namun lihatlah ketika rekonsiliasi hakiki mengubah segalanya. Keduanya saling mencintai, mengasihi, menata batu perjuangan.

Lihatlah ketika Hindun itu kini bertabur debu jihad di Yarmuk. Menuju barisan tentara yang mulai kocar-kacir sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi wanita Muhajirin, membaca syair menggelora yang pernah dibacanya dalam perang Uhud.

Tapi kali ini syair perjuangan tertuju untuk kaum muslimin. Tetiba pasukan muslim terdesak dan berbalik arah. Dengan sigap Hindun berteriak,”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!”

Zubair bin Al-’Awwam dengan takjub menyaksikan berseru, ”Ucapan Hindun itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah.” Betapa banyak para seteru yang berujung dalam barisan padu.

Simaklah bagaimana pembunuh keji sahabat mulia Hamzah, Wahsy bin Harb yang akhirnya kembali ke pangkuan Islam. Sebagai manusia biasa, hati Nabi begitu teriris melihat kedatangan pembunuh pamannya. Namun, dengan kebesaran hatinya, ia maafkan segala yang tersimpan di masa silam.

“Bagaimana engkau akan mengajakku masuk Islam sedangkan engkau sendiri pernah berkata bahwa seorang pembunuh, musyrik, dan pezina, ia telah terjatuh ke dalam dosa dan akan menerima azab yang berlipat ganda serta kekal di neraka dalam keadaan hina. Sedangkan semua itu telah aku lakukan. Apakah menurutmu ada sedikit keringanan bagiku atas dosa-dosaku itu?” kata Wahsy.

Lihatlah bagaimana Allah yang Maha Pemaaf menjawabnya dengan kalamNya

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Furqan: 70)

Dengan bercucur air mata, Wahsy merasa berat karena penyesalannya yang mendalam. Maka kalam suciNya menjawab lembut,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. an-Nisa : 48)

Dengan segala perbuatannya yang begitu memusuhi sang Nabi, lagi-lagi Wahsy meyakinkan apakah dirinya bisa dimaafkan?

“Aku pikir bahwa ampunan ini hanya bagi orang yang dikehendaki Allah, sedangkan aku tidak mengetahui apakah aku ini diampuni atau tidak oleh Allah? Apakah selain ini juga masih ada keringanan?”Kemudian turunlah ayat untuk kita semua:

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. az-Zumar: 53)

Dan di kaki Ka’bah, semua menangis. Mengakui diri yang alpa dan melampaui batas. Yang sudah berputus asa, yang merasa pupus harapan, semua tunduk bersimpuh dalam rahmatNya.

Sesungguhnya hari ini bukanlah hari pembantaian, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang. Dan kalian semua adalah orang-orang yang memperoleh kebebasan.”

Di Tanah Suci, semua terlakon. Kita simak bagaimana sang Nabi memaafkan para musuhnya yang ketakutan karena menyangka akan dihabisi. Dr. Raghib As Sirjani menulis epik dalam Rahmah ar Rasul  Shallallahu Alaihi wa Sallam,Nabi sang Penyayang (2014).

Lihatlah bagaimana musuh besar sang Nabi, Ikrimah bin Abu Jahal ketika melarikan diri dari sang Nabi. Ia adalah orang yang bisa dijuluki sang penjahat perang yang terus memerangi sang Nabi. Sampai Fathul Makkah saja, ia masih melawan Khalid Ibn Walid dan kabur menuju Yaman.

Istrinya, dengan penuh rasa malu menghadap sang Nabi,” Wahai Rasulullah, ia kabur dari Anda menuju Yaman, karena ia takut anda membunuhnya,” kata Ummu Hakim.

Dengan lembut sang Nabi menjawab,” Ia aman.”

Di hadapan istrinya, Rasul tak menjawab bahwa ia telah menumpahkan banyak darah, tidak juga menyebut sejarah panjangnya. Maka, ketika disusullah Ikrimah yang hendak kabur dengan perahu, walau ia tahu di Yaman pun, masyarakatnya telah memeluk Islam.

Saat Ikrimah datang, Rasul mengatakan ungkapan yang indahIkrimah bin Abu Jahal akan mendatangi kalian dalam keadaan aman dan berhijrah. Janganlah kalian menghina bapaknya karena menghina orang yang telah meninggal dapat menyakiti orang yang masih hidup dan tidak akan sampai kepada mayit.”

Sungguh, akhlak mulia apa yang ada pada Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, sedangkan kita tahu seperti apa ayahnya ikrimah, Abu Jahal?

Apakah Rasul mengingat-ingat Abu Jahal?

Apa belkiau mengingat peprerangan yang diikuti Ikrimah untuk menghalangi jalan Allah?

Apa beliau ingin melihat betapa Ikrimah kini begitu lemahnya dan ingin menunjukkan begitu kuatnya Islam?

Rupanya beliau tidak melakukan semuanya, yang bisa saja terlintas oleh para politikus di mana saja. Rasulullah menyambut Ikrimah dengan, pada raut mukanya tampak ketika melihat Ikrimah bin Abu Jahal meskipun ia belum masuk Islam, inilah watak sang Nabi.

Ikrimah duduk depan sang Nabi, “Wahai Muhammad , istriku mengabarkan bahwa engkau telah membuatku aman.”

Tanpa berpanjang lebar dan tanpa syarat Rasulullah langsung, “Ya benar dan engkau telah aman.”

“Kepada apa Engkau menyeru?”

“Aku menyeru agar bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku adalah Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat..melakukan ini itu dan menyebutkan urusan-urusan Islam  dan menyebutkan  perkara mulia.”

Ikrimah berujar,” Engkau benar-benar hanya menyerukan kepada kebenaran dan urusan yang baik..”

Kini, hati Ikrimah merasa terbuka. Tak lama, ia lafalkan dua kalimat syahadat dengan haru. Sekejap Ikrimah telah berpindah dari golongan kafir kepada golongan iman. Inilah kasih sayang murni dari hati sang Nabi, yang dengannya Allah bukakan pintu hati Ikrimah.

Sekarang kita akan lihat tokoh senior musuh bebuyutan Rasulullah, Suhail bin Amryang segera masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintu sembari berseloroh menyesal,”Tidak ada seorang yang lebih buruk dari aku. Aku pernah melawn Rasulullah di peperangan Hudaibiyah yang tidak diikuti orang lain dan akulah yang menuliskan kepadanya. Aku juga pernah mengikuti pearng Badar dan Uhud melawan kaum muslimin.”

Ia menolak anaknya, Abu Jandal untuk bergabung dengan pasukan muslim saat di Hudaibiyah sambil menyaksikan sang Nabi tidak bisa melakukan suatu yang berarti karena perjanjian.

Suhail merasa dirinya bisa dibunuh kapan saja. Ia ketakutan sehingga ia tidak ragu-ragu meminta perolongan kepada anaknya yang paling kecil agar menjadi perantara dengan Rasulullah

Abdullah bin Suhail pergi menghadap sang Nabi, Wahai Rasulullah berikan keamanan kepada bapakku. Entah sedalam apa luka yang ditorehkan Suhail kepada Nabi mulai dari Badar, Uhud, Hudaibiyah hingga kini.

Rupanya, tanpa keraguan, Rasulullah bersabda, “Ya, dia aman, dengan keamanan dair Allah, malka tampakkanlah.”

Mendapat kabar Suhail aman, ia berkata, “Sungguh ia orang yang berbakti saat kecil atau sudah besar.” Tak lama, ia bersyahadat dan bahkan debu-debu jihad Yarmuk itu membelainya lembut.

Terakhir, kita akan melihat puncak kasih sayang Nabi kepada musuhnya yang paling sengit perlawanannya, Shafwan bin Umayyah yang terus memerangi Nabi dari mulai Badar, Uhud, Khandak hingga di dalam Makkah sendiri. Sejarah mencatat, ia bersama Umair bin Wahab berencana membunuh Nab, namun Umair yang hampir membunuh Nabi malah masuk Islam.

Saat Fathul Makkah, ia menganggap dirinya sebagai ‘eksil’ yang harus kabur karena merasa dirinya tak akan selamat. Rupanya, tak ada tempat bersembunyi di penjuru Jazirah hingga ia pasrah, memutuskan untuk menjatuhkan dirinya agar segera mati di Laut Merah.

Ketika hendak melompat bunuh diri, nampak kejauhan Umair bin Wahab, karibnya yang telah masuk Islam. ”Apa yang aku lakukan dengan Umair? Demi Allah ia hanya menginginkan unuk membunuhku. Ia telah masuk Islam dan ia membantu Muhammad untuk membunuhku,” kata Shafwan.

“Wahai Umair, belum cukupklah apa yang telah aku perbuat? Engkau telah menanggungkan keluarga dan utangmu kepadaku, kemudian engkau datang untuk membunuhku?”

Umair dengan lembut mengabarkan bahwa sang Nabi telah mengampuninya.

“Tidak, demi Allah aku tidak akan pulang hingga engkau membawa tanda-tanda,” kata Shafwan ketakutan. Umair pun kembali menghadap sang Nabi. Dengan puncak kasih sayang Rasulullah bersabda, “berikan sorbanku ini kepadanya.”

Umair datang ke tempat persembunyian Shafwan sambil membawa selendang Nabi.

“Aku takut dibunuh,” kata Shafwan.

“Rasulullah berkata jika engkau berkenan masuklah Islam, jika tidak memberi kesempatan 2 bulan,” kata Umair. Sungguh, kesempatan dua bulan untuk berpikir masak-masak telah diberikan kepada Shafwan dengan jaminan keamanan.

Shafwan pun akhirnya ingin menguji, apakah dirinya benar-benar aman. Ia datangi manusia paling mulia yang sedang shalat ashar berjamaah di Masjidnya. Melihat penduduk Madinah sedang shalat, Shafwan bertanya pada Umair, “Berapa waktu kalian sehari?”

Umair menjawab lima kali. “Muhammad shalat bersama mereka?” Tanya Shafwan. “Ya,” jawab Umair. Setelah Rasul salam, Shafwan berteriak mengajak  Nabi berbicara.

“Wahai Muhammad, Umair bin Wahab datang kepadaku dengan serbanmu. Dia mengatakan bahwa engkau memanggilku untuk datang kepadamu jika aku setuju, jika tidak, maka engkau memberikan waktu dua bulan,” kata Shafwan.

“Turunlah dari kendaran, wahai Abu Wahab,” kata Rasul lembut memanggul musuhnya dengan nama kunyah.

Dalam keadaan takut, Shafwan berkata, “Tidak hingga Anda menjelaskannya sendiri kepadaku.”

“Bukan hanya dua bulan, bahkan aku akan nmemberimu waktu empat bulan.” Empat bulan waktu berpikir dimanfaatkan Shafwan untuk melihat apa yang dilakukan kaum muslimin. Ketika perang Hunain terjadi, Rasulullah membutuhkan ratusan baju besi untuk bertempur.

Shafwan adalah pembesar pedagang baju besi dan peralatan perang. Ia masih memilikinya dalam jumlah banyak. Shafwan menyadari saat itu dalam kekuasaan Rasul, dan tentu ia masih dalam kemusyrikannya hingga memiliki sejarah kelam dengan kaum muslimin.

Apa yang terjadi? Rasulullah malah meminjam peralatan Shafwan hingga membuat Shafwan heran, padahal sang Nabi sudah menang mutlak dan bisa melakukan apa saja.

“Apakah kau merampas wahai Muhammad?” Tanya Shfawan meyakinkan.

Rasulullah bersabda,”Tidak, akan tetapi menjadi barang pinjaman yang memiliki jaminan.”

Adakah sikap seperti ini dalam sejarah manusia?

Shafwan bersama kaum musyrikin lainnya yang belum memeluk Islam ikut bersama berangkat ke Hunain. Ia melihat sang Nabi ikut berperang, bahkan sampai saat terdesak dan membalikkan keadaan. Ketika kemenangan nampak, ia melihat bergelimpangan ghanimah dan sang Nabi ikut turun dan membagi seluruh hasil yang banyak tanpa ia sisihkan untuk dirinya.

Nabi memberikan para pemuka Quraisy yang baru masuk islam, Al Muallafah Qulubuhum, masing-masing 100 unta dan 100 domba. Saat kaum Badui meminta bagian, Rasul tidak pernah menolah orang meminta.

Di kejauhan Shafwan Umayyah terdiam dalam keadaan sedih, ia sedang melihat pembagian ghanimah sedang ia masih dalam keadaan musyrik. Ia melamun dan berguman bahwa hanya mendapat keuntungan sewa perang. Tak diduga, terjadilah hal yang sangat mengejutkan orang-orang yang menyaksikan, dan akan mengejutkan orang-orang hingga hari kiamat

Rasulullah memanggil Shafawan bin Umayyah yang sedang mematung sedih. Rasul tetiba mengatakan bahwa Shafwan, musuhnya itu yang masih dalam keadaan Musyrik mendapatkan 100 unta sebagaimana Rasul berikan kepada pemuka kaum Quraisy.

Berkaca-kaca mata Shafwan. Pernahkah hal ini dilakukan oleh seseorang, bagaimanapun dermawannya ia untuk melakukan hal ini?

Ini belum berakhir, Rasul yang mulia mendapati Shafwan masih terdiam saat melihat apa yang tak disangkanya, ribuan unta dan domba di jalanan sebagai ghanimah. “Wahai Abu Wahab, apakah engkau merasa heran dengan jalan ini?”

Dengan jujur ia berkata ,”ya.”

Ia tidak memungkiri bahwa yang dilihatnya adalah benar. Dengan menyerahkan satu atau dua unta, Rasul berkata, ”Ini adalah salah satu yang engkau miliki.”

Seketik itu Shafwan kaget, di hadapan matanya kini terdapat kebenaran yang bertahun-tahun hilang dari dirinya, “Tidak satu pun jiwa yang sesuci jiwa Nabi. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya,” lirihnya dalam syahdu.

“Demi Allah, Rasulullah memberiku dan terus memberiku. Padahal beliau adalah oirang yang paling aku benci. Kemudian tidak henti-hetinya beliau memberi kepadaku, beliau adalah orang yang paling aku suka,”

Kebaikan apa yang didapat Shafwan, Suhail, Ikrimah, dan ribuan, jutaan lainnya termasuk kita, yang kembali memenuhi seruanNya, memenuhi perjanjianNya? Tak ada yang paling berharga kecuali cahaya itu, cahaya yang merasuk ke saudara-saudara kita di Jogokariyan, Haji Bajuri, SI Poeradisastra dan siapapun yang ingin kembali kepadaNya.

Ialah nikmat Iman dan kelak, semoga  kita semua dikumpulkan dalam surganya. Inilah kasih sayang Nabi, untuk kita umatnya, dan kasih sayang sang Maha yang tak pernah henti-hentinya memberikan kesempatan walau diri ini sadar, berbuih dosa kita yang terus menghitami hati yang telah membatu.

Ya Allah curahkan shalawat, salam dan keberkahan keapda mereka yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan menunjukkanya petunjuk kebenaran, dialah Rasullullah Muhammad dan para sahabatnya hingga umatnya hingga akhir zaman. Wallahu a’lam

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. az-Zumar: 53)

Oleh: Rizki Lesus – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa, diselesaikan diMakkah al Mukarramah, September 2016

Tim liputan lapangan: JITU: Fajar S, Imam, Tomi, Zacky H, Ali M Abduh, Nizar, Pipin

Tulisan ini kerjasama Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) dan Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

Advertisements

Kenapa Ayah Bekerja?

Pertanyaan ini sering aku dengar keluar dari mulut anak-anak. Mungkin kamu juga sering dengar. Aku ingat dulu pun pernah menangisi kepergian orang tua yang bekerja sambil bertanya-tanya: kenapa? (Sebelum akhirnya aku terbiasa dan menikmati berada sendirian di rumah, haha.)

Orang-orang dewasa yang ditanyai begitu oleh anak-anak umumnya menjawab begini:
– Ayah kerja untuk kamu.
– Supaya bisa dapat uang.
– Supaya kamu bisa sekolah.
– Supaya bisa beliin kamu mainan.
– Supaya bisa beli susu untuk adek.
dan semacamnya. Ya kan?

Suatu hari, aku tidak sengaja mendengar percakapan ini dari pasangan ibu-anak. Ibu ini memberikan jawaban yang berbeda mengenai alasan suaminya bekerja.

Anak: “Abi mana, Mi?”
Ibu: “Abi kerja.”
Anak: “Kenapa kok kerja?”
Ibu: “Karena kerja itu ibadah. Wajib buat Abi. Kalau Abi nggak kerja nanti gimana dong ibadahnya?”

Widih.

Aku tidak tahu apakah anak sekecil itu dapat memahami konsep ‘ibadah’. Barangkali jawaban yang lebih konkret seperti mainan, peningkatan daya beli, dan daya jajan bisa lebih ditangkapnya. Tapi aku kagum dengan ikhtiar ibunya untuk menanamkan pola pikir ini sejak dini: alasan kita melakukan (segala) sesuatu adalah karena Allah. Kerjanya ayah ini bukan cuma untuk mendapatkan uang, tapi untuk menunaikan kewajiban sesuai yang diperintahkan oleh Allah.

Barangkali kita belum berada pada posisi ditanyai seperti itu oleh anak-anak kita. Tapi terkadang pertanyaan itu lewat juga di dalam hati sendiri. Kenapa aku bekerja? Agar bisa bayar kost? Agar bisa bayar asuransi kesehatan mama papa? Agar legit menjadi manusia dewasa?

Jangan berhenti sampai situ ya. Ayo kita cari makna sampai ke ujung muaranya.

Selamat bersiap untuk hari Senin!

The Tale of a Calf and a Swallow

Last night I slept teary-eyed, feeling lost and heart broken. Well if you know me, you know it’s not something unusual, me shedding one or two tears. So I’m not trying to make any drama here, alright. I just read some news about people some kilometers away. Some peasants, some police officers. No one I personally know. The news has been slipping here and there in my Twitter timeline. Laying in my bed, I just got the time to read attentively.

Then my mind wandered to some days in May 2013. To Stasiun UI. I keep getting back to that moment because, hmm, that’s the only time I’ve ever encountered such scenario. Such mixed emotion.

People around the city is currently busy fighting about something else. I mean it’s not at all wrong, but nevertheless it makes me feel even more sad. I just.. have this little hope that our fighting spirit could reach.. wider.. beyond..

Ah, okay.

This morning I came across a song.

On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye
High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky

How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer’s night

Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don
Donna Donna Donna Donna
Donna Donna Donna Don

Donna Donna. You may know this song from the movie Gie.

“Stop complaining”, said the farmer
“Who told you a calf to be
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free”

When I first listen to this song years ago, I thought it was about don’t be like a calf, be like a swallow. I was 12 or 13 years old, pretty innocent (ha). But after last night, I see this song in a whole different light.

I see it as a satire. What the farmer said was a pure ignorance. It’s like saying to people, “Stop complaining. It’s your own fault that you don’t try hard enough. You quit school because you’re lazy. You don’t earn much because you’re lazy. That miserable life, serves you right.”

Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why
But whoever treasures freedom
Like the swallow has learned to fly

If you feel more like a swallow, instead of just ‘winging swiftly through the sky’, ‘proud and free’, how about caring for our ‘calf’ fellows? Listen to their mourning, look deep into their eyes, or just.. try to do something.

You might think that we can’t do anything to make it better. Like, after all, cows will never be able to fly. Cows would always be bound and slaughtered, that’s just how the world goes. But, mind you, I’m not saying that we should do something for them. No. We should do that for the sake of ourselves.

Ah. At the very least, please don’t be so indifferent like the farmer.

Cita-Citaku

“Tante Vivin cita-citanya pingin jadi apa?”

Itu bukan pertama kalinya Yuna, kelas 4 SD, bertanya soal cita-citaku. Kadang aku merasa pertanyaan macam ini sudah nggak cocok lagi untuk orang seumuranku. Oke, mungkin bukan nggak cocok. Semakin tua, pertanyaan ini menjadi semakin rumit untuk dijawab. Ketika SD mungkin pernyataan cita-cita hanyalah soal definisi identitas, individualitas. Sekarang cita-cita adalah soal tumpuk-tumpukan berbagai soal macam pertanggungjawaban, pengambilan keputusan, kesadaran diri, kekecewaan, persetujuan, kompromi, ‘takdir’… hmm apa lagi ya..

Aih. Begitulah. Cita-cita.

Malam itu, entah kesambet apa, aku lancar saja memberikan jawaban ini.

“Pingin jadi orang yang menyembuhkan luka hati orang lain.”

Pret. Mbelgedhes. Kata sebagian diriku di dalam…. :)

“Aah bukan gitu,” Yuna agak ragu menyalahkan. Mungkin dia menimbang apakah jawabanku masuk dalam kriteria cita-cita atau bukan. “Profesinya?”

Dan lisanku lancar menjawab, “Profesinya jadi pengangguran. Pengangguran profesional.” Jawaban yang sudah cukup sering asal kulontarkan pada teman-temanku. :))

Yuna jelas tampak tidak puas.

“Iya. Jadi orang yang pintar mengatur waktu sampai bisa punya waktu luang untuk nganggur. Terus nganggurnya dibuat untuk hal-hal bermanfaat. Kan ada tuh orang yang ngerasa sibuuuk terus setiap hari sampai nggak punya waktu luang. Padahal sebenarnya dia nggak ngapa-ngapain.”

Ha. Sebagian diriku sebenarnya agak ragu, ini bualan atau sungguhan.

“Jadi aku mau jadi pengangguran profesional. Bukan pengangguran amatiran.”

Gara-gara mengeluarkan istilah baru, Yuna menyambar dengan pertanyaan dan aku jadi kebingungan menjelaskan makna profesional, amatiran, serta perbedaan keduanya. Semoga nggak salah-salah amat.

Baik. Jadi… itulah sekelumit pengakuan tentang cita-citaku. Yah kalau Bu Septi Peni bisa mempopulerkan ibu profesional, maka aku akan mempopulerkan pengangguran profesional!!

 

 

 

 

 

..Halah.