Because of Winn-Dixie oleh Kate DiCamillo

Mari kita tulis lagi ulasan semacam yang kemarin….

Kate DiCamillo adalah salah satu penulis favoritku. Buku pertamanya yang kubaca adalah The Tale of Despereaux, kemudian The Miraculous Journey of Edward Tulane, kemudian The Magician’s Elephant, dan terakhir Because of Winn-Dixie ini. Hmm seingatku aku juga pernah membaca The Tiger Rising, tapi aku tidak memiliki bukunya, jadi tidak ingat betul.

Cerita dalam Because of Winn-Dixie berfokus pada India Opal Buloni, seorang anak perempuan, dan Winn-Dixie, anjing yang dia temukan dan kemudian pelihara. Opal baru saja pindah rumah bersama ayahnya yang seorang pendeta (‘preacher’). Bagi Opal pindah ke lingkungan baru bukan hal yang mudah. Ia bertemu anak-anak dan orang-orang yang beragam; ada yang menyenangkan, yang aneh, juga yang menyebalkan. Winn-Dixie menjadi variabel yang sentral dalam pengalaman-pengalaman Opal. Hence the name Because of Winn-Dixie.

Kalau dirasa-rasakan, dari seluruh buku Kate aku bisa mengenali satu ciri khas: sudut pandang yang jamak. Dalam cerita-ceritanya tidak ada pembagian tegas protagonis//antagonis. Awalnya mungkin beberapa tokoh ditampilkan antagonis, tapi Kate akan segera mendekati tokoh itu dan mendekatkannya pada kita. Kita akan dibuat paham dan berempati. Selalu ada alasan di balik tindakan-tindakan. Ada sejarah yang tidak bisa tertangkap oleh kesan pertama. Barangkali inilah visi yang memang ingin diusung oleh Kate dalam karya-karyanya. Ciri khas ini jugalah yang membuatku menyukai cerita-ceritanya.

“You got to remember, you can’t always judge people by the things they done. You got to judge them by what they are doing now. You judge Otis by the pretty music he plays and how kind he is to them animals, because that’s all you know about him right now.”

Nah. Kutipan di atas tampaknya adalah bentuk penyeimbangan antara masa lalu dan masa kini. Orang punya masa lalu, tapi dia juga punya masa kini dan masa depan di hadapannya. Orang tidak bisa didefinisikan berdasarkan salah satu masa saja. Atau, mungkin juga maksudnya adalah ‘mari kita berfokus pada hal-hal baik dari seseorang’.

Sometimes, it seemed like everybody in the world was lonely. I thought about my mama. Thinking about her was the same as the hole you keep on feeling with your tongue after you lose a tooth. Time after time, my mind kept going to that empty spot, the spot where I felt like she should be.

Waduh. Ini. The hole you keep on feeling after you lose a tooth! Perumpamaan ini menurutku sangat.. sangat.. nganu. Sangat mengena. Sangat dalam. Pas betul. :”

Because of Winn-Dixie adalah novel debut Kate DiCamillo dan meraih Newberry Honor. Kalau dibandingkan dengan novel-novelnya yang lain, menurutku Because of Winn-Dixie adalah yang paling sederhana. Ceritanya cukup normal dan tidak mengundang kecurigaanku untuk menduga-duga makna di balik yang tampak. Tapi aku lebih menyukai The Tale of Despereaux.. mungkin karena lebih terasa.. ‘gelap’.

Omong-omong, di Indonesia novel ini pernah diterbitkan oleh GPU. Kalau sekarang sih kayaknya sudah nggak ada lagi. Aku cukup beruntung bisa menemukan novel ini di antara deretan emperan buku bekas di Ratna Park, dengan harga yang murah pula! :}

Ah ya, kalau mau pinjam silakan.

Advertisements

Player One oleh Douglas Coupland

Aku sedang merasa ingin menulis sesuatu. Daripada jariku mengetik hal yang aneh-aneh, coba kualihkan kepada ulasan buku satu ini.

Player One yang ditulis oleh Douglas Coupland ini kubeli di garage sale-nya Aksara. Sinopsis cerita di sampul belakang berkata: A real-time five-hour story set in an airport cocktail lounge during a global disaster. Belum pernah aku membaca novel yang durasi ceritanya sesingkat itu. Aku rasa butuh keahlian yang tinggi untuk mendeskripsikan kejadian secara real-time dalam kata-kata. Karena itulah aku tertarik.

Dalam novel ini ada lima tokoh utama: Karen, perempuan yang sedang menunggu teman kencannya; Rick, seorang bartender; Luke, pastur yang sedang kabur; Rachel, perempuan yang terkesan robotik; dan Player One, yang identitasnya misterius. Ceritanya dituturkan secara kronologis dengan berfokus pada tiap tokoh secara berganti-gantian.

Benar saja, aku rasa Douglas Coupland memang sangar. Dua ratus empat belas halaman novel ini mengalir lancar. Dia memaparkan aksi-aksi tokoh secara kronologis dengan jelas dan pas; tidak boros maupun pelit keterangan. Sudut pandang yang berfokus pada salah satu tokoh membuat novel ini penuh dengan self-talk. Kontemplatif. Jenis yang tidak akan kita dapatkan dari novel-novel dengan cerita yang lincah.

We run out of things that make us individual very quickly; all of us have far more in common than we do not have in common.

But maybe in the end it’s best to keep one’s doubt private. Saying them aloud cheapens them–make them a bunch of words just like everybody else’s bunch of words. If I’m going to fall, I’ll do it on my own terms.

Nah. Paling tidak itulah yang aku rasakan pada paruh pertama Player OneMemasuki perempat akhir novel, aku mulai merasa percakapannya jadi terlalu kontemplatif. Tiba-tiba seorang tokoh bisa bicara panjaang lebaar seolah kerasukan filsuf. Jadi kurang alami.

“You people are now inhabiting an era in which all human personality characteristics are linked to some form of brain feature. Personality is a slot machine, and the cherries, lemons, and bells are your SSRI system, your schizophrenic tendency, your left/right brain lobalization, your anxiety proclivity, your wiring glitches, your place on the autistic and OCD spectrums–and to these we must add the deep-level influences of the machines and systems of intelligence that guided your brain into maturity. I could go on, but do remember that, in the end, it’s real people at the end of all these variables, not androids. And if you don’t have the courage to face the truth about how we are made, then you don’t deserve the wonder that comes with being alive, regardless of how your particular slot machine generated you. Knowing your demons won’t chase away your angels, and you won’t be able to kill your demons, so you can’t get melodramatic that way.”

Sudah. Pokoknya selain perempat bagian akhir itu, dalam penilaianku novel ini bagus dan unik.

Oh iya, ada beragam istilah spesifik yang dibahas dalam dialog-dialog novel ini. Misalnya ambivital consensus, omnislut, sequential dysphasia, dan lain-lain. Ada semacam glosarium di akhir buku yang menjelaskan artinya masing-masing. Tenang.

Satu kutipan terakhir deh.

Luke is afraid of getting hurt, but he also knows that if too much time passes you miss out the opportunity to be hurt by other people. To a younger Luke this sounded like luck; to an older Luke this sounds like a quiet tragedy.

Jika mau meminjamnya, silakan bilang padaku.

Oh ya, gambar penampakan buku menyusul saja ya.

Seperti Mata Air Kehilangan Sungai

Meskipun kau tak pernah ke desa
padi-padi terus tumbuh
Meskipun kau tak pernah ke kota
orang-orang terus gelisah

Di desa, di kota,
tumbuh dan gelisah
seperti kembang dalam belukar
seperti mata air kehilangan sungai

Desa dimiliki oleh orang kota
Kota dimiliki orang desa
Petani mencari kerja di kota
Orang kota mencari kekayaan di desa

Apa lagi kah yang tersisa bagi kau dan aku?

Sore ini di metromini aku mendengar lantunan lagu yang tidak familiar dari seorang mas-mas pemusik. Walau tidak familiar, susunan liriknya membuatku tertarik. Maka aku pun mencarinya via Google. Kutemukan bahwa lagu itu berjudul Seperti Mata Air Kehilangan Sungai oleh Jane Sahilatua.

Seperti yang kita lihat di atas, itulah lirik lengkapnya.

Aku tidak bisa menangkap maksud yang ingin diutarakan oleh susunan kata ini. Kembang dalam belukar? Kota dimiliki orang desa? Lalu kenapa akhirnya bertanya soal yang tersisa bagi kau dan aku?

Walaupun tidak mengerti, aku merasa puisi ini memikat hati. Terasa sepi

Bagaimana? Apa yang kamu tangkap dari Seperti Mata Air Kehilangan Sungai?

Je Ne Suis Pas Charlie

Non, merci. Je ne suis pas Charlie.

Found this interesting article titled Why I Am Not Charlie by Scott Long. Quite a long one, but I think it deserves your time. Do read.

Why I Am Not Charlie

Oh, and read the comments too. One thing that I fascinate from western media is how the comment section could heat up a deep, meaningful discussion. People (although anonymously) engage in the conversation and post  reasonable and responsible comments. Well, of course there’s stupid irrelevant ones here and there, but most of them are thoughtful.

Wait, is that western favoritism bias? :/