So it’s past 2 AM. I feel like I’m regressing to my high-school self: the me who wanted to stay as long as possible on ‘today’ and push the coming ‘tomorrow’ back. I take the awakening from night sleep as the marking of tomorrow, hence I avoid sleep altogether to delay tomorrow. It’s 3 nights in a row now. I don’t remember having these kind of nights on my college life. Or maybe I did, but not so often. As long as I remember, my darkest days on college were late 2012 (Suksesi days) and mid 2015 (skripsi). And at least then I could point some culprits for the gloominess, the haunting uneasiness.. But for these days.. I cannot.

I’m afraid that this means I’m stuck on this mental development phase and won’t be able to function well as a descent human adult. I’m afraid that this means I won’t be able to be a responsible caregiver for other human beings. I’m afraid that this means I’m not worthy.

I’m also afraid that this is just a drama I made up in my head for I don’t know what reason.

I take walks, I meet people, I eat food and sweets, still I don’t feel better. So if you have any technical suggestions about how to get pass this mental episode, please kindly let me know.

Advertisements

Alkisah, di jendela WhatsApp…

M: [Sending a pic of someone starting grad school]
“Ga pingin kuliah maneh a?”

A: “Aku ‘belajar’ maneh kok.”

M: “Wuf.”

Keterangan gambar: Suatu sore, belanja bawang merah di warung dekat kosan, bungkusnya begini.

Sirkuit, Fase 3

Di fase sirkuit yang nggak panjang-panjang amat ini, beberapa orang melaju cepat. Langkah dan nafasnya panjang-panjang. Mungkin dari lahir memang sudah berbakat gitu, plus didukung sepatu lari yang enak. Sangat mungkin juga latihannya nggak tanggung-tanggung. Cuma kita nggak lihat aja.

Di fase sirkuit yang sama, beberapa orang kepeleset, kecekluk, kejegal, ndelesep, njlungup, nggeblak. Ada yang jatuh ditabrak sama rekan lari dari belakang. Ada yang jalannya memang lambat aja. Ada yang berhenti, sudah males jalan lagi.

Kamu?

Kamu bisa berjuang jadi orang yang larinya cepat. Wush, langsung nyalip seratus orang gitu. Jadi bisa ‘menginspirasi’ banyak teman atau junior (?) di belakang yang masih lugu-lugu.

(Setelah itu kamu akan dibilang ‘ambi’.)

Kamu bisa mundur untuk bantu teman-teman yang kesandung di belakang. Bantu berdiri lagi. Bagi air minum. Ceramah soal alon-alon waton kelakon. Atau teriak-teriak cheering, kalau kamu memang tipe yang gitu.

(Setelah itu kamu akan dibilang ‘omong tok’.)

Kamu bisa juga konsentrasi sama langkahmu sendiri. Berusaha jangan sampai jatuh dan memicu tabrakan beruntun. Berusaha hati-hati menjaga kewarasan diri supaya nggak perlu menyusahkan orang lain. Apalagi kalau kakimu memang sedang butuh pemulihan.

(Setelah itu kamu akan dibilang ‘apatis’.)

Kalau kamu nggak suka sama omongan orang-orang, kamu bisa coba jadi semuanya sekaligus… mungkin. Tapi kok aku pesimis ya. Haha.

Bagaimanapun kamu memilih untuk melaju, ingatlah kalau ini adalah perjalanan sirkuit. Kamu nggak akan ke mana-mana selain ke garis Start lagi. Kembali ke titik mula lagi.

Monggo lah jadi apa saja, sebaik-baiknya. Semoga pekan ini baik-baik sama kamu.

Nguping Ibu-Ibu: Yang Terhormat, Pak Suami..

Terjebak di antara obrolan ibu-ibu dan inilah yang aku dapatkan..

“Kalau saya, setiap kali cerita, tanggapan suami cuma Ohh, Iyaa, Sedih banget..”

“Me too… Hiks. Beliau ga yakin juga sih tentang kemampuan saya. :(“

“Sedih banget kan mba rasanya. Saya selalu berusaha mengerti kalau dia juga punya kesibukan dan tanggung jawab besar di kantor. Tapi seharusnya nggak menyerahkan perkembangan anak 100% ke istri kan ya? Inginnya saya sih gapapa lah weekdays anak full sama saya, dan weekend anak harusnya berkegiatan dengan ayah.. Tapi ngga pernah terlaksana.”

“Suami liburnya hari Minggu aja. Itu pun nggak mau diganggu anak-anaknya. Pusing banget. Akhirnya sepakat kalau Minggu itu waktu keluarga, renang sama anak-anaknya. Awalnya ngga mau, tapi lama-lama mau juga hihihi… Kasihan kan anak-anak juga pengen main sama ayahnya.”

“Iya mba, hari libur kebanyakan tidur dia.. huhu.. :'(
Renang juga sering mba, tapi anakku ngga mau kalo sama ayahnya aja. Anakku juga pasti temper tantrum kalo sama ayahnya.”

“Iya eh mba. Anakku ga pernah mau ditidurin ayahnya..”

“Gapapa, sabar. Pelan-pelan aja mba.”

“Iya. At least bisa diajak mengubah kebiasaan buruk dulu lah..
Tapi beberapa bulan terakhir aku ga terlalu banyak ngomongin anak, karena dia baru naik jabatan. Dari wajah terlihat banyak pikiran. Jadi aku ga berani juga ngajak diskusi tentang anak.”

Haum.. Menghela nafas…..

Kalau kamu, apa yang kamu rasakan saat membaca percakapan di atas?