Analisis Polling 29/1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Suatu hari seorang teman berkata lewat WhatsApp:

“Kamu ini
blogmu
ga ada jadwal nulis pekanan apa”

Saya menanggapi dengan sebuah pertanyaan:

“Kalau aku post polling di blog: Apakah Anda merindukan post di blog ini? gitu shameless nggak?”

Dia menjawab, “Shameless.” Dan malam itu juga saya pun mempublish sebuah post berisi polling sebagaimana bisa dilihat di sini. (Just because.. why not. Impulsive and shameless are my codename.)

Jadi sebagaimana sebagian karya tugas akhir, penelitian kecil ini tidak dimulai dari dasar pemikiran atau latar belakang yang solid, melainkan langsung ujug-ujug ke pengambilan data. Nanti latar belakang berikut teorinya bisa kita utak-atik menyesuaikan data yang muncul. Tidak apa-apa, kita sudah sama-sama tahu lah ya.

Memang, dua tahun terakhir saya semakin jarang menulis. Dengan metode self-report didapat dua alasan utama, yakni kurangnya waktu dan kurangnya kepercayaan diri. Walau begitu, kita dapat menduga adanya motif-motif psikologis terpendam di balik alasan yang dinyatakan. Pertanyaan yang sempat terlontar pada post berjudul Who I Write For pun belum dapat betul-betul terjawab tuntas.

1.2. Tujuan Penelitian

Belum pernah ada penelitian yang menjawab mengenai bagaimana respon pembaca terhadap absennya tulisan di blog Out of Cave. Oleh karena itu, penelitian kecil ini bermaksud untuk mengisi kekosongan dalam khazanah ilmu pengetahuan mengenai blog ini. Bersamaan dengan itu, pengetahuan mengenai respon pembaca diharapkan dapat memicu sebuah refleksi bagi diri pemilik blog tentang makna menulis melalui media blog bagi dirinya.

1.3. Manfaat Penelitian

Sejujurnya hampir tidak ada. Tapi kalau mau di-ada-ada-kan, ya mungkin untuk menjadi bahan refleksi saja.


BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Penelitian ini tidak melalui proses tinjauan pustaka.


BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1. Masalah Penelitian

Yah, sebenarnya tidak ada masalah. Saya tidak ingin cari-cari masalah. Penelitian ini hanya ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana respon pembaca terhadap absennya tulisan di blog Out of Cave.

3.2. Hipotesis Penelitian

Tidak ada hipotesis, yang ada hanya dugaan yang timbul dari hati yang insecure. Pada saat memulai penelitian, saya menduga tidak akan ada yang mengisi polling. Soalnya blog ini memang sudah lama sepi.

3.3. Variabel Penelitian

Hanya ada satu variabel dalam penelitian ini, yakni respon terhadap absennya tulisan di blog Out of Cave. Tidak usah dijelaskan, sudah ngerti ya.

3.4. Tipe dan Desain Penelitian

Jika Gravetter dan Forzano melihat penelitian ini, mungkin mereka akan menyatakan bahwa ini termasuk penelitian kuantitatif–tapi sambil mengernyitkan dahi (karena, spoiler sedikit, jumlah responden bahkan tidak sampai 30). Di samping itu penelitian ini tergolong deskriptif, sudah jelas dari variabelnya yang hanya satu ndil.

3.5. Responden Penelitian

3.5.1. Karakteristik Responden

Kriteria responden yang diharapkan adalah pembaca dari blog Out of Cave. Namun kalau ternyata yang mengisi polling adalah orang acak yang kebetulan asal klik-klik ya saya tidak tahu. Itu di luar kuasa saya.

3.5.2. Metode Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan non-probability sampling sebagai metode pengambilan sampel. Dalam metode ini probabilitas seorang individu terpilih menjadi sampel tidak diketahui sebab jumlah keseluruhan populasi juga tidak diketahui. Berapa ya kira-kira populasi pembaca Out of Cave?

Nah non-probability sampling terbagi lagi menjadi convenience sampling dan quota sampling. Pada penelitian ini tentu saja yang digunakan adalah convenience sampling karena ya biar gampang aja lah.

3.5.3. Jumlah Sampel

Gravetter dan Wallnau bilang bahwa untuk mencapai distribusi data yang mendekati normal dibutuhkan sampel sejumlah minimal 30 data. Namun saya tidak ingin muluk-muluk mematok jumlah sampel. Seadanya saja lah, saya terima kok.

3.6. Alat Ukur Penelitian

Untuk mengukur variabel penelitian, digunakan polling single-item yang berasal dari layanan bernama Polldaddy yang disediakan oleh WordPress. Pertanyaan yang diberikan kepada responden adalah: Do you miss me? I mean.. me writing on this blog. yang dimuat dalam sebuah post berjudul Just One Quick Question…

Kepada responden diberikan 4 pilihan jawaban, yakni Yes, Yes!!, No, dan Hahahaha. Responden juga diperkenankan untuk memberikan jawaban lain dengan mengklik pilihan Other. Alat ukur ini tidak diuji reliabilitasnya karena lha wong cuma satu item kok. Untuk validitasnya, insyaallah valid deh. Aamiin.

3.7. Metode Pengolahan Data

Data yang didapat dari polling dianalisis dengan pikiran yang jernih dan hati yang ikhlas.


BAB 4. HASIL DAN ANALISIS

Polling yang telah dibuat dibiarkan beredar selama tujuh hari. Menurut statistik yang dikelola oleh WordPress, sejak tanggal 29 Januari 2017 hingga 3 Februari 2017 terdapat 70 kunjungan pada blog Out of Cave. Dari jumlah tersebut, terdapat 23 respon yang tercatat dalam polling.

Hasil polling adalah sebagai berikut:

– 5 responden menjawab Yes
– 9 responden menjawab Yes!!
– 2 responden menjawab No
– 6 responden menjawab Hahahaha
– 1 responden memilih Other dan menuliskan: I love you. :)

Karena hanya terdapat dua respon yang bernada negatif (No), respon ini kita anggap sebagai data outlier dan kita eliminasi saja ya. (#LAH o_o’) Maka dari 21 data yang terkumpul didapati 71,4% respon bernada positif (Yes, Yes!!, dan I love you. :) ) serta 28,6% respon bernada ambigu (Hahahaha).


BAB 5. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pembaca terhadap absennya tulisan di blog Out of Cave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (71,4%) pembaca blog merasakan kerinduan terhadap tulisan di blog ini. Tidak ada respon yang bernada negatif sama sekali. (…)

5.2. Diskusi

Hampir tidak ada yang bisa didiskusikan karena sebelumnya tidak terdapat penelitian dengan topik serupa. Hasilnya begitu, yaudah, mau apa lagi? Namun sistematika tulisan mengharuskan kita untuk cari-cari hal yang tampak menarik atau intriguing demi memenuhi kolom subbab ini.

Penelitian ini memiliki beberapa kelebihan. Pertama, penelitian ini adalah yang pertama dan satu-satunya dalam topik blog Out of Cave. Sebelumnya tidak pernah dilakukan pengukuran secara terstruktur untuk menggali respon dari pembaca blog Out of Cave.

Kedua, alat ukur penelitian saya buat sendiri sehingga lebih sesuai dengan konteks sosial dan psikologis dari pembaca blog ini. Jika alat ukur yang digunakan sekadar mengadaptasi dari alat lain, dikhawatirkan kurang tepat menangkap fenomena yang terjadi.

Namun di samping itu penelitian ini juga memiliki kekurangan. Pertama, data yang didapat sedikit, yakni hanya 23 data. Jumlah ini tidak dapat memenuhi batas minimal asumsi normalitas, yakni 30 data.

Kedua, penelitian ini menggunakan polling single-item untuk mengukur respon pembaca. Jika dapat dikembangkan alat ukur yang terdiri dari beberapa dimensi dan beberapa item mungkin dapat menangkap fenomen dengan lebih tajam. Tapi ya buat apa sih.

Ketiga, belakangan baru saya sadari bahwa pilihan jawaban Hahahaha ambigu. Tidak diketahui apakah maksud dari responden yang memilihnya berupa tawa apresiatif atau tawa sinis. Hal ini tentunya memengaruhi hasil analisis.

5.3. Saran

Saya tidak punya saran. Melakukan penelitian-penelitian lanjutan dalam topik ini dengan metode yang lebih ketat dan sistematis rasanya tak ada gunanya. Penelitian ini tidak memiliki urgensi yang jelas, tidak memberi faedah apa-apa bagi dunia kita yang sudah semakin tua.

Tapi ya tidak apa-apa. Bukankah memelihara rasa ingin tahu adalah hal yang menyenangkan? Bukankah bertanya-tanya dan mencoba-coba menjawab dengan berbagai cara, walaupun janggal, terasa sebagai petualangan yang menegangkan? Termasuk mencoba menuangkan segulung serabut pikiran ke dalam struktur sistematis, yang ternyata tetap berakhir acak-acakan.

Ya tidak apa-apa. Tulisan ini sendiri pun adalah sebuah.. percobaan.


Daftar Pustaka

Sumber gambar: University of the Fraser Valley
S
umber inspirasi: Vinci, A. R. (2015). Pengaruh Ideologi Konservatisme, Anti-Sekularisme, Tradisionalisme, dan Sikap terhadap Khilafah Syariah terhadap Pemberian Suara pada Pemilu Presiden 2014. Skripsi Program Studi Psikologi Universitas Indonesia.


Lampiran

Terima kasih saya haturkan untuk seluruh responden penelitian ecek-ecek ini. Untuk kamu yang menjawab Other dan menuliskan I love you :), terima kasihnya dobel. Izinkanlah saya memberimu selembar voucher belanja MAP ya, plis. Serius. Tolong japri saya ya. Semoga kamu membaca tulisan ini.

Malam Ini Tidak Seberapa Dingin, Tapi..

..tapi aku butuh oven. Atau microwave. Biar barang sejenak bisa kuletakkan hati di dalam ruangnya. Sepuluh detik cukup lah. Sebagaimana mas-mas Sevel dengan sigap menghangatkan Nasi Jago sepuluhribuan.

Malam ini tidak seberapa dingin, sebagaimana malam-malam di kamarku yang lama. Dulu malam-malamku berlangsung cukup panjang. Kalau diibaratkan, aku seperti menggenggam tangan si malam erat-erat, enggan ditinggal. Seorang teman menegur kebiasaan ini, sebab ayat-ayat menyampaikan amanat bahwa malam dicipta untuk beristirahat. Padahal justru aku ingin tetap terbangun agar bisa bersantai merasakan waktu bergulir menuju pagi, dalam kesadaran penuh. Aku ingin berlama-lama duduk bersama Malam. Itu juga adalah bentuk ‘istirahat’. Kan?

Malam ini cenderung sumuk, tapi hatiku tetap butuh penghangatan. Aku tahu tidak banyak telinga siap menyimak dan tidak juga lisan cakap berujar. Ah, tapi sudahlah. Aku sudah tahu kemana harus(nya) mencari, dan bahwa yang mencari insyaaallah akan menemukan.

:)

A Quick Update on Life

Been a while since posting a decent writing here. I’m sorry (for myself) for this. I guess I can excuse myself by saying that I’ve been busy writing something somewhere else. You know. That thing. That particular thing. Skripsi, yes. But then I’m struck by the fact that ‘that thing’ is far from what I can call a ‘decent writing’. This just made me feel.. awful.

And now I got this random urge to write in English. This is rare.

So how’s life? I’ll write some thoughts that’s been kicking inside my head.

I kind of realize that I only have the present at hand. The rosy future that I’m longing is just.. in the future. The uncertain probabilities of some time ahead is what keeps me alive as a human, but I will never own it. Maybe it is rosy precisely because I don’t (and can’t) own it.

I’m feeling old.

I feel a significant decrease in level of self-efficacy. Especially academic self-efficacy. I lose (some portion of) faith for myself, for the subject I’ve been studying, and for ‘science’ in general. Ha ha? Four years ago, I imagined that I would happily, passionately pursue doctorate degree. Now, I don’t know. I’m not ready for any academic plan, yet.

I want to be a better person. By ‘better person’, I mean being more friendly, warm, and santun towards others. Four years ago I was known as sarcastic and merciless. I still find it hard to be all smiley, positive, and supportive, plus I’m still somewhat proud of my sharpie tendencies. But I’m working on it. I will balance it somehow. Hope so.

Since this is a quick update, I’m keeping it short. Maybe I’ll elaborate in other posts, later.

C’est ca. See ya.

Minggu lalu aku menemukan segelas kopi di dekat bak cuci piring. Bubuk kopi yang tadinya kuabaikan sudah terseduh dengan air panas. Sebungkus choco granule ditempelkan di dinding gelasnya. A la warung kopi.

Aku tidak yakin, tapi aku ingin menghubung-hubungkan kopi ini dengan susu cokelat. Bagaimana? Cukup mirip tidak?


Aku tahu seharusnya aku tidak memaksakan diri terhadap perasaan apapun. Aku tidak perlu merasa tertuntut untuk bersedih atau kecewa demi validasi seperangkat sikap yang koheren. Tapi saat ini aku tidak punya perasaan alternatif yang cukup kuat. Mungkin cuma kehambaran. Kesedihan memenangkan persaingan ini secara logis, walaupun mencurigakan. Seolah ada permainan sogok wasit di baliknya.


 

Dulu ketika aku masih kelas 1, 2, atau 3 SD (tidak ingat persis), ada sebuah puisi di buku pelajaran Bahasa Indonesia yang berjudul (kalau tidak salah) Tanah Merah Itu. Puisi itu mengungkapkan kesedihan seorang anak yang ibunya meninggal dunia. Setelah membaca puisi itu di sekolah, aku agaknya merasa bertanggung jawab untuk meresapi maknanya secara mendalam. Di rumah aku pun membacanya lagi dan lagi, merenunginya lapis demi lapis. Kebetulan hari itu ibuku tak kunjung pulang ke rumah sampai sore. Kepalaku merangkai kemungkinan-kemungkinan dan aku pun menangis diam-diam. Aku yakin pada masa itu aku belum memiliki perasaan cinta terhadap ibu. Tangis hari itu hanyalah kesedihan yang terbangun karena rasa bertanggung jawab yang aneh atas modelling dari sebuah teks puisi. . .


 

Sekali lagi, aku tahu seharusnya tidak memaksakan diri terhadap perasaan apapun. Tapi tidak merasa membuatku merasa hampa. Mungkin, sebagaimana kita membutuhkan struktur kognisi untuk mencerna informasi di dunia luar, kita juga membutuhkan struktur afeksi untuk memahami keadaan di dalam diri sendiri.

Halah. Barangkali aku anaknya terlalu drama saja.