Day to Day Survival Guide: A Novice’s Note

Bisa kukatakan bahwa aku baru benar-benar (belajar) mengatur hidupku sekitar dua tahunan ini. Sejak jadwal kuliah sudah semakin sepi.

Maksudnya begini. Sejak TK hingga kuliah, hari-hariku bergulir bersama jadwal yang ditetapkan oleh institusi pendidikan. Kita bisa melihat hal ini dalam dua sudut pandang. Di satu sisi, aku merasa punya kuasa terlalu kecil untuk mengatur alokasi waktu sesuai keinginan. Di sisi lain, jadwal-jadwal ini sangat praktis dan menenangkan lho. Setidaknya aku bisa menyalah-nyalahkan pihak lain untuk berbagai hal yang tidak kutuntaskan di masa itu.

:3 Heheu.

Begitulah. Lepas dari institusi pendidikan formal rasanya seperti tiba-tiba kehilangan kerangka kehidupan. Tiba-tiba tidak ada jadwal kaku. Tiba-tiba aku bebas mengatur waktu. Dan, tentu saja, kebebasan butuh pertanggungjawaban. Jadi.. ya agak mengerikan.

Pernah merasa kehilangan arah ketika liburan panjang? Tiba-tiba hari-hari hanya terisi dengan tidur, makan, nonton, bengong.. pokoknya nggak jelas. Padahal biasanya menjelang liburan sudah terbayang beberapa hal ‘produktif’ yang ingin dilakukan. Baca buku itu lah, menulis anu lah, belajar inu lah. Muwacem-muwacem. Eh lahndalah waktu liburannya datang beneran malah males-malesan.

Nah, untukmu yang masih punya jadwal padat, syukurilah kerangka yang masih menopangmu itu. Belum tentu kamu bisa selamat menghadapi kebebasan mengatur waktu lho.

:3

Dulu aku pernah diceritani tentang seseorang yang memilih untuk ‘settle’ dengan hidup ‘serabutan’. Maksudnya: tidak memiliki pekerjaan tetap. Bertahun-tahun menghidupi keluarga dari satu proyek ke proyek lain. Bekerja sewaktu-waktu, libur sewaktu-waktu.

Aku merasa kagum pada orang yang sukses menjalani jenis kehidupan ‘serabutan’ seperti itu. Juga pada para self-employer yang mengatur kerjanya sendiri. Juga orang-orang yang tidak ‘bekerja’ tapi tetap berhasil memberdayakan dirinya. Bagiku mereka ini hebat. Mereka mengambil tanggung jawab penuh untuk membangun kerangka hidupnya sendiri.

Dengan term yang lebih nyikologi akan kukatakan: Self control, openness to experience, dan tolerance of ambiguity-nya tinggi. Aku rasa ketiganya adalah kualitas yang keren.

Dalam bayangan idealku, kehidupan semacam itulah yang mungkin akan kujalani pada tahun-tahun mendatang (terutama setelah berkeluarga #ha). Setelah 18 tahun terbiasa dengan jadwal ‘sekolahan’, tentu ini bukan transisi yang mudah. Jadi aku tahu aku perlu melatih diri untuk bertahan hidup dalam skema yang baru, agar tidak terjebak pada keluangan waktu semu.

Beberapa waktu pasca lulus kuliah, aku sekadar mencoba ‘mengembalikan’ kerangka kehidupan dengan mengikuti berbagai kegiatan. Yang penting nggak nganggur gitu. Kemudian, baru di bulan Oktober 2016 aku mencoba menerapkan beberapa strategi manajemen-diri.

Day to Day Survival Guide ini adalah catatan tentang prosesku membangun kerangka untuk Hidup. Belum cukup jago, masih nups banget. Di tulisan berikutnya nanti akan kulanjutkan dengan bahasan yang lebih praktikal ya. Sampai jumpa.

P.S.
Using cat picture because cat survive lives. And just because, come on, it’s cat!!

Just One Quick Question..

Pohon Mangga yang Bermutasi dengan Ide-Ide Kita

untitled

Aku ingat pertama kali menggambar ‘ilustrasi’ di atas pada buku tulis, yang kemudian kusalin menggunakan aplikasi paint. File gambar itu ternyata tidak sirna bersama laptopku yang diterjang banjir. Gambar itu sudah aku simpan di atas awan Google Drive.

Gambar itu membantuku berpikir tentang sesuatu.

Aku membayangkan sebuah pohon yang seiring tumbuhnya terus bermutasi menjadi sesuatu yang bukan diri aslinya. Bayangkan saja ia bermula sebagai benih mangga. Entah karena kondisi tanah yang bagaimana, akar-akarnya tumbuh menjadi akar mangga dan akar jambu. Masih sama-sama tergolong akar tunggang, tapi tentu beda. Batangnya pun tumbuh mencabang menjadi seperti mangga dan jambu. Lebih aneh lagi ketika ranting-ranting kecil mulai tumbuh. Selain mangga dan jambu, muncul pula ranting durian dan apel. Daun-daunnya lebih beragam lagi: daun mangga, jambu, durian, apel, dan kini bahkan singkong serta pepaya. Bunganya menjelma warna-warni dari ontong sampai melati. Ragam buahnya pun mengalahkan pasar induk kramat jati. Ada buah kombinasi salak-sirsak, buah setengah duku setengah stroberi, bahkan campuran semangka-manggis-nangka.

Tapi, tetap, di antara semua mutasi itu masih ada garis pertumbuhan mangga yang sejati. Yang buahnya berupa mangga tulen, tidak sedikit pun menyelisihi mandat benihnya.

Nah sayangnya aku nggak jago menggambar. Akhirnya alih-alih pohon imajiner yang membingungkan itu, aku hanya menggores beberapa garis beserta tanda O dan X. Gambar itu berawal dari benih O yang terletak di atas, lalu bercabang menjadi O dan X.

Ketika itu aku sedang berpikir tentang bagaimana kita menilai sesuatu yang memiliki posisi sebagai buah, yakni hasil akhir dari garis panjang pertumbuhan selama sekian masa. Hasil akhir dari suatu benih yang terkubur.

Kita melihat buah mangga di antara bunga-bunga ontong dan merasa heran. Ini buah yang salah, harusnya nggak begini. Harusnya pisang. Padahal tidak. Mangga itu sudah benar. Ontong-nya lah yang merupakan kelainan.

Kita melihat buah kelapa di antara rimbunan janur dan blarak, lalu berpikir Oh, ini buah yang benar. Padahal tidak. Kelapa itu terlihat ‘benar’ karena kita hanya melihat sampai daun. Kita tidak merunut asal-usulnya dengan cukup jauh.

Bahkan ketika kita merunut hingga batang utama pohon dengan jeli, kita masih sangat mungkin salah. Nyatanya banyak orang kukuh menganggap bahwa ini pohon jambu.

Sementara itu segolongan besar orang lain.. Ah, ndak usah terlalu analitis la. Kita punya satu pohon dengan berjuta jenis buah. Petik dan makan saja mana yang kita suka. Kalau hari ini kepingin makan mangga ya petik mangga. Kalau besok kepingin makan rambutan, apa salahnya?

Memang sulit mengidentifikasi mana buah yang sejati benar. Benih itu sudah terkubur dan bertumbuh, tidak terlacak lagi. Dan lagi buah-buahan ini enak-enak semua kok.

…..

Apa kamu bisa memahaminya? Sejujurnya sampai sini aku merasa semakin bingung bagaimana cara menceritakan isi kepala. Mungkin harus diendapkan dulu untuk lain waktu dilanjutkan.

Terima kasih sudah bersabar membaca. :)

Ramadhan: Personal Taste

Ramadhan bukan cuma ‘bulan puasa’. Hayuk padati Ramadhan kita dengan aktivitas positif kayak gini. :3

muamar.salim

Jadi jangan mengira saya penyuka drama korea dari judul ‘Personal Taste’, hehe. Saya ingin berbagi agenda sehari-hari yang insya Allah akan diniati di Ramadhan kali ini (1437 H). Nuansa agenda kali ini lebih cocok untuk jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja (baca: karyawan).

Jadi wahai jiwa-jiwa yang disibukkan dengan 8 jam duduk di depan meja kerja, jangan bersedih hati dan merasa kalah amal dari mereka yang jiwanya merdeka melakukan apa saja kapan saja (meskipun sebenarnya memang kalah haha). Setidaknya 8 jam kesibukan yang rawan lupa dari mengingat Allah itu bisa kita produktifkan (Banyak tips di http://productivemuslim.com) semaksimal mungkin.

Nah preferensi yang saya rancang untuk Ramadhan kali ini akan seperti ini secara garis besar:

  • Reading
  • Listening
  • Memorizing
  • Advancing

Reading

Pasti semua sudah paham amalan paling laris di bulan Ramadhan. Yak, tadarus Al Qur’an. Secara bahasa sebenarnya tadarus al Qur’an ini artinya mempelajari Al Qur’an…

View original post 1,479 more words