For me, and for many of us, our first waking thought of the day is “I didn’t get enough sleep.” The next one is “I don’t have enough time.” Whether true or not, that thought of not enough occurs to us automatically before we even think to question or examine it. We spend most of the hours and the days of our lives hearing, explaining, complaining, or worrying about what we don’t have enough of. …Before we even sit up in bed, before our feet touch the floor, we’re already inadequate, already behind, already losing, already lacking something. And by the time we go to bed at night, our minds are racing with a litany of what we didn’t get, or didn’t get done, that day. We go to sleep burdened by those thoughts and wake up to that reverie of lack. …This internal condition of scarcity, this mind-set of scarcity, lives at the very heart of our jealousies, our greed, our prejudice, and our arguments with life.

– Lynne Twist

Advertisements

Day to Day Survival Guide: Daily Journal

You can call it ‘diary’ if you may, but ‘daily journal’ or ‘logbook’ sounds more mature to me. :))

Aku baru memulainya pada 20 Oktober 2016. Tidak yakin bagaimana aku tiba-tiba terpantik untuk membuat jurnal harian. I just did.

Jurnal ini awalnya kuniatkan untuk diisi setiap bangun tidur dan setiap sebelum tidur. ‘Jurnal Pagi & Malam’, katakanlah. Di dalamnya aku menuliskan kejadian, pikiran, perasaan, dan macam-macam hal lainnya.

Setelah beberapa lama membiasakan diri mencatat jurnal, aku merasakan beberapa perubahan yang.. tidak terlalu signifikan.

Yaahh.. pembaca kecewa. :))

Katanya, setiap tidur kita selalu bermimpi, hanya saja sering kali saat bangun kita sudah tidak ingat isinya. Karena jurnal pagiku biasanya berisi tentang mimpi, perubahan pertama yang kualami adalah jadi lebih jelas mengingat mimpi. Mimpi terasa lebih nyata, lebih sering, lebih seru dan aneh-aneh.

Apakah bermimpi membantuku dalam menjalani hari-hari? Nggak yakin sih. Tapi seru saja rasanya pernah memiliki pengalaman menculik bayi Raja (aku masukkan ke kotak sepatu), terbang, dan berubah menjadi mobil. Aku bisa merasakan emosi yang berbeda-beda.

Hal kedua yang berubah adalah aku jadi memiliki dokumentasi perasaan. Jika merasakan emosi yang cukup intens, baik positif maupun negatif, biasanya aku akan menghadapi jurnal itu dan menuangkannya. Di hari-hari selanjutnya, aku bisa merefleksi emosi tersebut. Aku juga bisa melihat dinamika, naik-turunnya kondisi mentalku selama beberapa bulan terakhir.

Apakah mendokumentasikan perasaan membantuku bertahan hidup? Yah, nggak yakin juga sih. Tapi barangkali ini membantuku merasa lebih ‘penuh’. Lebih utuh. Lebih diriku. Bahwa aku adalah individu yang menjalani hari-hari kemarin, bukan makhluk yang tiba-tiba terbangun di hari yang baru dan menjalani hari itu saja. Aku membawa bersama diriku lapisan-lapisan pikiran dan perasaan. Aku jadi lebih sadar saja dengan apa saja yang sudah aku lakukan, aku pikirkan, aku rasakan.

Aku mengusahakan menulis di jurnal ini setiap hari. Tidak selalu terlaksana sih.. yang penting usahanya ya, hehehe.

Belakangan, jurnal ini juga aku gunakan untuk mencatat siklus dan kondisi kesehatan. Dulu aku tidak pernah tertarik mencatat beginian. Tapi beberapa waktu lalu aku menyadari ada yang datang tidak pada waktunya. Jadi aku merasa perlu mulai mencatat.. sekadar untuk memantau kondisi tubuh sederhana saja sih.

Lalu jurnal ini juga aku gunakan untuk mencatat daftar buku yang selesai dibaca. Barangkali bisa juga digunakan untuk mencatat daftar film, artikel, seminar, resep yang sukses dimasak, dan hal-hal lainnya.

Jurnal harian ini adalah alat tracking untuk mengetahui apa saja yang sudah terjadi/dilakukan/dirasakan di waktu-waktu lalu. Perasaan ‘sudah melakukan dan mengalami berbagai hal’ itu tentu memberi rasa bermakna kan. Yuk silakan dicoba menulis jurnal.

Oh ya manfaat menulis jurnal ini backed by science lho. Coba dibaca di artikel berikut ini:
Why You Should Keep a Journal
– Five Reasons Why You Should Keep a Journal


How to Start?

Nah, sekarang, bagaimana cara yang paling tepat untuk menulis jurnal?

Cara yang paling tepat adalah.. start small & start now. Yang kamu butuhkan hanyalah buku dan alat tulis. Bisa juga menggunakan ponsel atau komputer kalau kamu cukup nyaman. Tapi aku sarankan kamu tetap ‘menulis’, bukan ‘mengetik’. (Here’s why: Journaling Showdown – Writing vs Typing)

Nggak usah nunggu punya notes super cute atau pulpen super fancy untuk memulai jurnal. Kalau ada, barang-barang tersebut bisa jadi tambahan motivasi sih. Tapi kalau nggak ada, nggak perlu ditunda sampai ketemu ‘the one’ juga.

Nggak usah nunggu sampai ada kejadian besar atau ide super brilian untuk dituliskan. Di hari pertama menulis jurnal, aku cuma bilang bahwa ‘aku bingung nulis apa’ dan mengomentari cuaca. Cuma kepikiran nulis dua baris? Nggak masalah. Hari-hari selanjutnya kamu akan merasa lebih luwes, lebih terbiasa.

Tetapkan suatu waktu rutin untuk menulis jurnal ini. Rangkaikan dengan rutinitas lain di keseharianmu. Contohnya setiap bangun tidur atau sebelum tidur. Bisa juga setiap pulang kerja, atau setelah selesai mandi. Dengan begitu menulis jurnal akan jadi bagian dari hari-harimu.

Jurnalmu juga akan bertransformasi seiring waktu. Yang awalnya cuma catatan cuaca mungkin besok-besok akan berubah jadi buku sketsa atau catatan push-up. Setelah menulis beberapa lama, kamu akan mulai mengenali kebiasaan dan kebutuhan journaling-mu.


Daily Journal adalah bagian dari seri Day to Day Survival Guide. Semoga aku masih bisa konsisten menuliskan guide-guide selanjutnya, hehe. Apakah ini tulisan yang bermanfaat? Apakah kamu pernah atau masih menulis jurnal/diary/logbook? Coba ceritakan kesan dan pengalamanmu ya. (Klo g mw jg gpp c huhu u, u)

Well, cat never write a journal. That’s because cat is a pro in life survival. Sadly I’m no cat so I need journal to keep self sane.

Day to Day Survival Guide: A Novice’s Note

Bisa kukatakan bahwa aku baru benar-benar (belajar) mengatur hidupku sekitar dua tahunan ini. Sejak jadwal kuliah sudah semakin sepi.

Maksudnya begini. Sejak TK hingga kuliah, hari-hariku bergulir bersama jadwal yang ditetapkan oleh institusi pendidikan. Kita bisa melihat hal ini dalam dua sudut pandang. Di satu sisi, aku merasa punya kuasa terlalu kecil untuk mengatur alokasi waktu sesuai keinginan. Di sisi lain, jadwal-jadwal ini sangat praktis dan menenangkan lho. Setidaknya aku bisa menyalah-nyalahkan pihak lain untuk berbagai hal yang tidak kutuntaskan di masa itu.

:3 Heheu.

Begitulah. Lepas dari institusi pendidikan formal rasanya seperti tiba-tiba kehilangan kerangka kehidupan. Tiba-tiba tidak ada jadwal kaku. Tiba-tiba aku bebas mengatur waktu. Dan, tentu saja, kebebasan butuh pertanggungjawaban. Jadi.. ya agak mengerikan.

Pernah merasa kehilangan arah ketika liburan panjang? Tiba-tiba hari-hari hanya terisi dengan tidur, makan, nonton, bengong.. pokoknya nggak jelas. Padahal biasanya menjelang liburan sudah terbayang beberapa hal ‘produktif’ yang ingin dilakukan. Baca buku itu lah, menulis anu lah, belajar inu lah. Muwacem-muwacem. Eh lahndalah waktu liburannya datang beneran malah males-malesan.

Nah, untukmu yang masih punya jadwal padat, syukurilah kerangka yang masih menopangmu itu. Belum tentu kamu bisa selamat menghadapi kebebasan mengatur waktu lho.

:3

Dulu aku pernah diceritani tentang seseorang yang memilih untuk ‘settle’ dengan hidup ‘serabutan’. Maksudnya: tidak memiliki pekerjaan tetap. Bertahun-tahun menghidupi keluarga dari satu proyek ke proyek lain. Bekerja sewaktu-waktu, libur sewaktu-waktu.

Aku merasa kagum pada orang yang sukses menjalani jenis kehidupan ‘serabutan’ seperti itu. Juga pada para self-employer yang mengatur kerjanya sendiri. Juga orang-orang yang tidak ‘bekerja’ tapi tetap berhasil memberdayakan dirinya. Bagiku mereka ini hebat. Mereka mengambil tanggung jawab penuh untuk membangun kerangka hidupnya sendiri.

Dengan term yang lebih nyikologi akan kukatakan: Self control, openness to experience, dan tolerance of ambiguity-nya tinggi. Aku rasa ketiganya adalah kualitas yang keren.

Dalam bayangan idealku, kehidupan semacam itulah yang mungkin akan kujalani pada tahun-tahun mendatang (terutama setelah berkeluarga #ha). Setelah 18 tahun terbiasa dengan jadwal ‘sekolahan’, tentu ini bukan transisi yang mudah. Jadi aku tahu aku perlu melatih diri untuk bertahan hidup dalam skema yang baru, agar tidak terjebak pada keluangan waktu semu.

Beberapa waktu pasca lulus kuliah, aku sekadar mencoba ‘mengembalikan’ kerangka kehidupan dengan mengikuti berbagai kegiatan. Yang penting nggak nganggur gitu. Kemudian, baru di bulan Oktober 2016 aku mencoba menerapkan beberapa strategi manajemen-diri.

Day to Day Survival Guide ini adalah catatan tentang prosesku membangun kerangka untuk Hidup. Belum cukup jago, masih nups banget. Di tulisan berikutnya nanti akan kulanjutkan dengan bahasan yang lebih praktikal ya. Sampai jumpa.

P.S.
Using cat picture because cat survive lives. And just because, come on, it’s cat!!