Strategi Marketing/Curhat?

Ada dua cerita. Yang pertama melibatkan seorang bapak yang menjual kain jilbab dan yang kedua melibatkan seorang adik yang menjual koran.

 

1

Setelah beberapa lama duduk di halte bis, aku memutuskan untuk beranjak. Saat berdiri, kudengar suara samar-samar seperti memanggil. Aku menoleh. Seorang bapak yang membawa sebuah kantong plastik hitam besar tengah menatapku.

“Beli jilbab dek?”

Dahiku mengerut. Sebelumnya aku nggak pernah menemukan orang yang menjual barang selain koran dan makanan di lingkungan ini. Karena cuma memiliki kain jilbab dalam jumlah yang minim, aku jadi tertarik melihat dagangan bapak itu.

“Beli dek. Dari tadi keliling-keliling, capek, belum ada yang laku,” kira-kira begitulah ucapannya saat itu. Continue reading Strategi Marketing/Curhat?

Santai Jeh, Aku Nang Sebelahmu

Tong sampah kuning dan biru berdampingan mengingatkanku pada UI dan ITS

sampah

UI dan ITS berdampingan (?)

^^

Tumpul

Rasa-rasanya aku ini makin tumpul.

Dulu waktu masih kecil rasanya seperti berendam dalam imajinasi. Sejak TK aku sudah mulai menulis cerita-cerita walaupun, tentu saja, agak aneh plotnya. Cerita-cerita itu mengandung unsur putri, kebakaran, boneka, amnesia, penyihir, monster mata, kupu-kupu, semut, asrama, hantu, anak-anak terpilih, dan macam-macam yang lainnya.

Dulu aku begitu menganggur sehingga bisa begitu produktif dalam berimajinasi dan menulis.

Bahkan pernah ada beberapa tahun di mana aku bisa memproduksi minimal satu puisi setiap harinya. Masa-masa galau banget ya kayaknya –”’ Tapi semua tulisan itu sudah hilang saat komputerku rusak.

Bagaimanapun, sebenarnya to write and to be read itu adalah impian sejak kecil lho :[ Yaa rasanya sedih aja udah segede ini, bertahun-tahun lewat tapi aku masih belum merealisasikan mimpi paling menggetarkan ini.

Waktu SMA aku sempat berpikir, kayaknya nggak melanjutkan kuliah itu ude yang lumayan bagus ya. Cita-citaku toh tidak membutuhkan pendidikan perguruan tinggi. Aku cuma butuh waktu luang dan pikiran yang jernih. Tapi ibuku cerita bahwa yang paling penting dalam pendidikan tinggi adalah pelajaran hidupnya :/ Jadi nanti akan ketemu orang-orang yang aneh-aneh dan sangar-sangar di bidangnya.

Yeah, maka di sinilah aku sekarang: duduk di halte bikun, menunggu jarum jam sampai ke angka 5 sambil menulis-nulis dan membaca-baca, berharap inspirasi menyapaku dengan lembut seperti seorang teman lama.

Ah barangkali selama ini dia selalu mengiringiku, berlari mengikuti sambil menarik-narik ujung bajuku. Tapi mungkin aku sudah buta. Aku sudah tuli.

Aku rindu menulis ><

 

Hujan Pertama

Sore ini aku merasakan nikmatnya rintikan hujan menyentuh wajah.

Kali pertama di bulan Ramadhan.

Kali pertama di kampus ini.

Aku sedang duduk menulis di Masjid Ukhuwah Islamiyah. Lalu tiba-tiba terdengar suara ringan bergemuruh.

Aku selalu suka hujan, tapi berada di ‘rumah baru’ seperti ini, basah kehujanan bisa jadi hal yang cukup merepotkan.

Untung saja hujannya tidak menderas. Ia tetap menetes dengan kalem dan bersahaja. Alhamdulillah.

Aku merasa terhibur. Aku merasa dihibur.

Coba saja perhatikan hal-hal kecil yang ada di depanmu. Ada yang mengatur semuanya lho. Itu tidak begitu saja terjadi.

Menakjubkan bukan? :]