Di Antara Langit dan Tanah

Sekarang ini kalau kuperhatikan, dibandingkan dengan orang yang suka mengagungkan diri lebih banyak orang yang suka merendah-rendahkan diri. Masalahnya, kerendahan diri itu kadang justru lebih menyayat hati pendengar lho.

Misalnya saja dialog di bawah ini..

Albi: “Aduuh.. sedih banget nih..”
Domar: “Lho Albi kamu kenapa?”
Albi: “Nilai UTS-ku.. parah banget.. nilaiku turun..”
Domar: “Ooh.. sabar ya. Emangnya kamu dapat berapa sih?”
Albi: “Kuis yang terakhir dapat 100, nilai UTS-ku 85. Sedih banget Mar :(”
Domar, dalam hati: “WOY WOYY! Nilaiku aja 77 sama 70! *%^&(^&$$”

*eh, kenapa Albi dan Domar? :))

Yah, tiap orang memang punya need of achievement yang berbeda-beda. Mungkin si Albi  memang nggak berniat sombong, mungkin dia sungguhan merasa sedih bahkan tertekan.  Cuma satu yang kurang, mungkin dia perlu meningkatkan kepekaannya :))

Di atas langit masih ada langit. Karena itu janganlah cepat puas. Halangan terbesar untuk menjadi terbaik adalah menjadi sekedar baik.
Eh tunggu.. di bawah tanah juga masih ada tanah lho. Jadi jangan cepat kecewa juga dengan hasil yang didapat. Apalagi mengumbar rasa itu pada orang-orang di sekitar kita.

Selamat UTS bagi yang masih menjalankan. Bagaimanapun hasil UTS-mu, ikhlaskan ya! Paling tidak, nggak usahlah mengeluh di depan teman-temanmu :))

image source here

Sumpah

Aku tak ada di antaramu
di masa panjang perjuangan itu
Maka ku takkan berpura paham
bagaimana rasanya

Hanya melalui cerita-cerita lama
aku mengimaji..

Gelap, lembap, dingin
Desing menyeling mencekam
Disusul berita pilu keesokan pagi
tentang seorang pemuda yang hilang

Hari ini pun
jika kudengar untai sumpah itu
tak akan ku berpura haru
bukankah kau tidak mengajakku merangkainya?

Namun aku juga pejalan
walau bukan penerus jalanmu
Tapi aku sama berjuang
dengan untai sumpahku sendiri

Peringatan, Mungkin

Assalamu’alaykum all..

Sekarang aku sedang duduk termangu di depan perpustakaan Fakultas Hukum….baru saja ditolak.

Yeah, ditolak.
Sementara Retna dan Nisa, dua orang yang aku ajak, malah sedang menunggu giliran mereka.

Padahal Juli lalu bisa lho, aku masih ingat masuk ke ruangan di sudut Tunjungan Plaza bersama Uni. Kenapa sekarang nggak?

“Belum bisa,” orang itu pendek saja berkata, lalu melanjutkan, “Hb-nya belum cukup.”
Mas-mas di sebelahnya menambahkan, “Lain kali aja mbak. Tidur yang cukup, makan sayur.”

*ding!* a bell rings in my head

Mungkin aku diingatkan.

Hmm di permukaan mungkin semua baik-baik saja. Tapi bagaimana sebenarnya kabar badanku? Mungkin aku akhir-akhir ini agak jahat padanya.

Yasudahlah. Pokoknya lain kali harus bisa. Harus sampai 100 kali :D hehe

Oh iya, jaga kesehatan yaa, semuanyaa!

Menghadapi Logical Fallacies

Originally written as jurnal #3 MA Logika dan Penulisan Ilmiah

Malam itu acara penutupan Kegiatan Awal Mahasiswa Baru (KAMABA) tengah berlangsung di Fakultas Psikologi sebuah universitas negeri ternama. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan bersama panitia di dalam aula. Setelah saling memberikan persembahan terakhir, acara ditutup dengan pidato pembina kegiatan, yakni seorang pengajar di fakultas tersebut.

“Angkatan kalian harusnya bangga. Kalian baru saja berhasil menyelesaikan KAMABA terbaik di unversitas ini.”

Ruangan langsung riuh dengan tepuk tangan bangga. Mahasiswa baru dan senior yang menjadi panitia merasa tersanjung dengan kata-kata sang dosen.

“Kenapa saya berani mengklaim bahwa fakultas ini memiliki model KAMABA terbaik? Di sini kami tidak sembarangan merancang. Kakak-kakak kalian mempersiapkan kegiatan ini sejak tiga bulan yang lalu. Setiap acara telah kami simulasikan. Bahkan semuanya kami susun menggunakan teori-teori psikologi.”

Beberapa mahasiswa baru terkesima, menyesali makian yang sempat ia tujukan diam-diam untuk panitia.

Sang dosen melanjutkan, “Setiap tahun mahasiswa psikologi sering diminta mengajari fakultas-fakultas lain merancang ospek. Kalian bisa tanya ke tetangga-tetangga kita, adakah yang membedah teori psikologi sebelum mengeksekusi acara?”

Percakapan di atas adalah ilustrasi yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Kalau kita amati dengan sedikit lebih teliti, argumen-argumen yang diberikan oleh sang dosen sebenarnya tidak logis. Ia berkata KAMABA di Fakultas Psikologi adalah yang terbaik dengan menyatakan beberapa argumen pendukung: Continue reading Menghadapi Logical Fallacies