PsiUm :3

Apa itu PsiUm?

PsiUm adalah singkatan untuk Psikologi Umum, sebuah mata ajar paling andalan di semester 1. Kalau seorang maba tanya ke senior tentang seperti apa PsiUm itu, kebanyakan akan memasang senyum miris, menatap penuh keprihatinan, dan menepuk pundak si maba sambil berkata lirih, “Semangat ya.” Beberapa akan menambahkan dengan nada bersahaja, “Aku dulu nggak lulus di situ.”

Tapi nggak semua yang lo denger itu bener. Apakah PsiUm itu sulit atau justru seru harusnya kamu sendiri yang menentukan. Ya kan?

Buku yang kami pakai untuk PsiUm 1 ini adalah A History of Psychology oleh King et al. Tanpa menghitung lembar reference, totalnya ada 466 halaman, terbagi atas 18 chapter yang harus ditamatkan sebelum Desember tahun ini.

Di balik kengerian yang ditampilkan PsiUm karena materi bacaan yang luas dan bahasa yang njelimet, sebenarnya buku ini menarik lho. Semoga ini bukan wujud arogansi sih – -” tapi, serius, aku merasa membacanya cukup menyenangkan. Banyak hal-hal menggelitik; kadang lucu, kadang brilian, dan kadang terasa pingin menimpali, “Tet-toot!” ala Katri sambil memasang emoticon -o- di wajah.

Menurutku buku ini nggak padat (dalam artian padat-ringkas yang bikin sumpek) seperti di buku-buku SMA. Tulisannya mengalir, banyak elaborasi dan ilustrasi-ilustrasi yang makin bikin ngerti. Mungkin aku bisa menikmati karena cukup tertarik pada sejarah dan hal-hal yang kurang penting (yang justru sering dielaborasi di buku ini) seperti pertanyaan-pertanyaan mengapa dan kok bisa.

Coba deh, luangkan waktu sejenak buat membaca satu paragraf dari Chapter 2: Philosophical Issues ini..

As he wrestled with the problem of epistemology, the brilliant philosopher Rene Descartes (1596 – 1650) decided to trust only that which he could not doubt. He found he could doubt the existence of God and the objective existence of other people (other people and things might be mere projections of his own mind as in a dream). He could even doubt his own existence. As Descartes searched, he found the one thing he could not doubt: the fact that he was doubting. But in order to doubt, he must think and in order to think, he must exist. Descartes’ famous dictum “I think, therefore I am” was the result of a torturous struggle with the problem of knowledge.

Saat membacanya, entahlah, rasanya agak jeng-jeng, tet-toot, dan ooh ya ya, bisa aja deh mikirnya – -a

Tapi (uh-oh, selalu ada tapi) saat membaca bagian yang menjelaskan Plato dan Aristotle, buku ini mulai terasa membingungkan. Alurnya ruwet. Nggak dapat poinnya deh.

Yah semoga saja bingungnya cuma di bagian itu.

Sekarang.. mari lanjut ke zaman Medieval dan Renaissance dengan semangat!

Cita-citaku

Tiga orang anak TK sedang mengobrol tentang cita-citanya.

Anak pertama memulai, “Aku mau jadi dokter! Kan hebat, sedikit tuh yang bisa jadi dokter.”

Anak kedua menimpali, “Ah yang jadi dokter masih banyak. Aku mau jadi presiden! Yang bisa jadi presiden cuma sedikit.”

Anak ketiga enteng berkata, “Aku mau jadi diriku sendiri aja. Cuma satu orang yang bisa.”

 

(diceritakan oleh Pak Budi Matindas pada 20 September 2011)

The New Her!

Percakapan ini ditulis ulang dari pesan singkat tanggal 14 September 2011, pagi hari. Tulisan yang dicetak abu-abu itu pesan dari saya dan yang hitam pake align kanan dari kawan saya tercinta.

 

Halo La, yaapa kabarmu? Kuliah gimana? Matkulmu apa aja?

Wa’alaikumsalam Vivin. Baik-baik aja, aku nyampe teori-teori psikolog tahun 1900-an. Kamu baik-baik di sana? Aku Sheila loh Vin, bukan Lala.

Aku baru aja mulai kuliah minggu ini, masih awal banget, mbahas mulai dari filsafat. Err ._.a aku bingung. Memangnya kenapa kalo ‘Lala’? Pingin dipanggil ‘Sheila’ aja gitu ta?

Aduh cek pinternya Vin kamu itu. Iya Vivin, aku sekarang Sheila bukan Lala lagi.

Hmm ada alasan tertentu ta Sheil? :)

Dalam hidup harus ada perbaikan Vivin, dan itu perintah Allah dalam kitab kita. Manusia harus berubah untuk selalu menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain juga diri sendiri. Lala yang dulu udah ga ada, yang ada Sheila yang sekarang. Setuju ngga Vin?

Pendewasaan diri kita dimulai dari pola pikir kita sendiri, tanpa terasa waktu terus berjalan dan umur kita semakin bertambah. Dengan bertambahnya usia, harusnya bertambah pula pengalaman kita dan itu yang akan merubah pola pikir kita. Bersyukur aku masuk psikologi Vin, mungkin akan bermanfaat minimal untuk anak-anakku kelak, aamiin.

Iya setuju kok Sheil. Wah jadi penasaran pingin lihat kamu yang sekarang perubahannya kayak apa. Wah aku juga motivasi awalku masuk psikologi biar bisa bentuk keluarga yang baik :) semoga kita bisa ya.

Pasti bisa karena semua itu ada hidayahNya, aamiin Vivin.

Uwwoo :O Aku jadi termotivasi lho waktu membacanya. Aku juga harus bisa jadi lebih baik. Kamu juga!

Eh??

Sore hari, tanggal 3 September 2011, di sebuah toko di sebuah mall di Surabaya..

A: “Toko Anu (menyebut sebuah nama retailer bidang produk telekomunikasi yang terkemuka) buka lowongan lho, soalnya karyawannya banyak yang keluar. Enak kalau kerja di sana, bayarannya sendiri-sendiri. Apalagi kalau sudah jadi karyawan lama.”

Kawan Mbak A kemudian bertanya sedikit tentang cara menjadi ‘karyawan lama’, dan Mbak A menjelaskan tentang masa training dan lain-lain. Kemudian dia melanjutkan satu poin syarat yang.. penting,

A: “Tapi nggak boleh pake jilbab.

Eh??

Masih ada yang begini? Sedih juga dengarnya. Pelanggaran HAM?

Sumber gambar dari sini

 

Btw katanya sih hari ini ‘Hari Solidaritas Jilbab Internasional’.