Masih Dikirimin Beginian

Jam 10.28 hp bergetar dua kali, masuk sms yang berbunyi begini:

Invite: Mega invitation

When: Sat 26/11/2011 4.00pm

Where: Gunung Anyar Mas XIV G-2

Diajak ke rumah “baru” nya Mega, denger2 ada lift-nya, semua barang2 dan tembok masih diplastiki. Ayo dateng. PILIH BESOK PAGI ATAU JAM 4 SABTU INI lalu please reply: yes/no/maybe

dari Kevin. Dan bukan kali ini saja. Sebelumnya juga sering ada sms invitation begini, undangan ‘nggombol’ bersama kuda-kuda :))

Gimana ya. Baca sms begini itu rasanya rada campur aduk.

Kadang kerasa uiirii gitu. Yang masih di Surabaya dan Malang masih bisa ketemu sementara aku.. stranded in a faraway land – -‘ Dikirim undangan begitu, padahal mereka udah tau aku nggak mungkin bisa datang, itu kayak lagi ‘diiming-imingi’ sesuatu yang nggak mungkin bisa kita dapat. Kayak lagi diece. Maka sering kali aku balas smsnya dengan “Liciiiiikk…” atau “Jaahaaaat D:”. Kalau nggak begitu, aku langsung hapus smsnya.

Well di sisi lain, manis banget nggak seh kamu masih disms walaupun nggak mungkin datang? Rasanya kayak masih diingat, masih diperhitungkan sebagai teman :)) Hahaha.

Ah.. sebenarnya, aku tau. Aku ini tetep dapat sms pasti karena alasan kepraktisan. Pasti Kevin langsung sms ke satu grup kontak, sekali klik.  Ya gak mbelani lah miliki kontak arek sekelas siji-siji :))

Yaweslah. Intinya aku rodok kangen ^^v

Advertisements

Mengejar Bahagia Sampai ke Negeri Cina

Assalamu’alaykum, readers :)

Boleh minta bantuannya? Tulisan di bawah ini rencananya bakal aku kumpulkan untuk tugas kuliah. Tolong baca dan kasih kritik-saran ya. Terima kasih :D 

 

Beberapa hari yang lalu, seorang teman berbagi sebuah link lewat akun twitternya. Link tersebut mengarah pada sebuah artikel dengan judul “7 Must-Read Books on the Art & Science of Happiness”. Tagline-nya berkata, “From Plato to Buddha, or what imperfection has to do with the neuroscience of the good life.

Di masa kini banyak sekali karya yang menempatkan pencapaian kebahagiaan hidup sebagai fokus utamanya. Ada yang mengatakan bahwa Law of Attraction bisa menarik segala hal yang kita inginkan dalam hidup, sehingga dengan segala pencapaian itu kita bisa menikmati kebahagiaan. Ada juga yang mengatakan bahwa kita sebaiknya hidup dengan amat sederhana, membatasi keinginan, sehingga kita selalu merasa berkecukupan dan bahagia.

Tren ini mengingatkan saya pada paham Epicureanism yang saya baca pada A History of Psycholoy karya King, Viney, dan Woody. Dalam buku itu disebutkan bahwa penganut paham Epicureanism percaya bahwa “pleasure is good and pain is evil to be avoided.” Tapi Epicureanism juga sangat menghindari sifat rakus yang hanya akan membawa kepuasan sesaat dan malah menimbulkan ketidaknyamanan jangka panjang.

Continue reading Mengejar Bahagia Sampai ke Negeri Cina

k g n

Setelah sekitar tiga bulan berjauhan dengan keluarga, akhirnya kerasa cukup kangen juga. Sebelum ini kadang mikir Lho, lho, kok gak kangen sih? Jangan-jangan aku nggak punya hati o_O Jangan-jangan aku zombie! #np “There’s a zombie on your lawn~” Nah dengan rasa ini, akhirnya aku yakin bahwa aku adalah manusia yang hatinya lembut bagai tofu :”) #err

But still. Aku nggak terlalu nyaman lho berkomunikasi dengan keluarga, kayak misal ditelpon atau disms. Menurutku sih kata-kata kurang membantu. Yang aku rindukan itu keberadaannya. Toh dulu waktu masih seatap juga aku nggak terlalu sering ngobrol dengan mereka. Cuma rindu perasaan ada ma, pa, mbak osin, itu saja.

Satu lagi yang paling aku rindukan adalah digonceng naik motor. Bersama Ma di pagi hari sambil terkantuk-kantuk. Bersama Pa di malam hari sampai ketiduran. Juga saat mampir makan di Pak Djayus atau mencoba tempat-tempat lain. Anginnya, sentuhan masker di wajah, keterburuan, jaket merah tebal, kaki kiri yang aku tumpukkan di kaki kanan, sensasi ‘sliut’ saat terlelap, hentakan helm yang membangunkan, hmm.. semuanya.

waktu itu, di atas motor di depan kebun bibit

Setahun lalu sama sekali nggak terbayang kan? Aku jadi penasaran, setahun ke depan keluarga ini akan mengalami apa lagi ya?

Di Antara Langit dan Tanah

Sekarang ini kalau kuperhatikan, dibandingkan dengan orang yang suka mengagungkan diri lebih banyak orang yang suka merendah-rendahkan diri. Masalahnya, kerendahan diri itu kadang justru lebih menyayat hati pendengar lho.

Misalnya saja dialog di bawah ini..

Albi: “Aduuh.. sedih banget nih..”
Domar: “Lho Albi kamu kenapa?”
Albi: “Nilai UTS-ku.. parah banget.. nilaiku turun..”
Domar: “Ooh.. sabar ya. Emangnya kamu dapat berapa sih?”
Albi: “Kuis yang terakhir dapat 100, nilai UTS-ku 85. Sedih banget Mar :(”
Domar, dalam hati: “WOY WOYY! Nilaiku aja 77 sama 70! *%^&(^&$$”

*eh, kenapa Albi dan Domar? :))

Yah, tiap orang memang punya need of achievement yang berbeda-beda. Mungkin si Albi  memang nggak berniat sombong, mungkin dia sungguhan merasa sedih bahkan tertekan.  Cuma satu yang kurang, mungkin dia perlu meningkatkan kepekaannya :))

Di atas langit masih ada langit. Karena itu janganlah cepat puas. Halangan terbesar untuk menjadi terbaik adalah menjadi sekedar baik.
Eh tunggu.. di bawah tanah juga masih ada tanah lho. Jadi jangan cepat kecewa juga dengan hasil yang didapat. Apalagi mengumbar rasa itu pada orang-orang di sekitar kita.

Selamat UTS bagi yang masih menjalankan. Bagaimanapun hasil UTS-mu, ikhlaskan ya! Paling tidak, nggak usahlah mengeluh di depan teman-temanmu :))

image source here