k g n

Setelah sekitar tiga bulan berjauhan dengan keluarga, akhirnya kerasa cukup kangen juga. Sebelum ini kadang mikir Lho, lho, kok gak kangen sih? Jangan-jangan aku nggak punya hati o_O Jangan-jangan aku zombie! #np “There’s a zombie on your lawn~” Nah dengan rasa ini, akhirnya aku yakin bahwa aku adalah manusia yang hatinya lembut bagai tofu :”) #err

But still. Aku nggak terlalu nyaman lho berkomunikasi dengan keluarga, kayak misal ditelpon atau disms. Menurutku sih kata-kata kurang membantu. Yang aku rindukan itu keberadaannya. Toh dulu waktu masih seatap juga aku nggak terlalu sering ngobrol dengan mereka. Cuma rindu perasaan ada ma, pa, mbak osin, itu saja.

Satu lagi yang paling aku rindukan adalah digonceng naik motor. Bersama Ma di pagi hari sambil terkantuk-kantuk. Bersama Pa di malam hari sampai ketiduran. Juga saat mampir makan di Pak Djayus atau mencoba tempat-tempat lain. Anginnya, sentuhan masker di wajah, keterburuan, jaket merah tebal, kaki kiri yang aku tumpukkan di kaki kanan, sensasi ‘sliut’ saat terlelap, hentakan helm yang membangunkan, hmm.. semuanya.

waktu itu, di atas motor di depan kebun bibit

Setahun lalu sama sekali nggak terbayang kan? Aku jadi penasaran, setahun ke depan keluarga ini akan mengalami apa lagi ya?

Advertisements

Di Antara Langit dan Tanah

Sekarang ini kalau kuperhatikan, dibandingkan dengan orang yang suka mengagungkan diri lebih banyak orang yang suka merendah-rendahkan diri. Masalahnya, kerendahan diri itu kadang justru lebih menyayat hati pendengar lho.

Misalnya saja dialog di bawah ini..

Albi: “Aduuh.. sedih banget nih..”
Domar: “Lho Albi kamu kenapa?”
Albi: “Nilai UTS-ku.. parah banget.. nilaiku turun..”
Domar: “Ooh.. sabar ya. Emangnya kamu dapat berapa sih?”
Albi: “Kuis yang terakhir dapat 100, nilai UTS-ku 85. Sedih banget Mar :(”
Domar, dalam hati: “WOY WOYY! Nilaiku aja 77 sama 70! *%^&(^&$$”

*eh, kenapa Albi dan Domar? :))

Yah, tiap orang memang punya need of achievement yang berbeda-beda. Mungkin si Albi  memang nggak berniat sombong, mungkin dia sungguhan merasa sedih bahkan tertekan.  Cuma satu yang kurang, mungkin dia perlu meningkatkan kepekaannya :))

Di atas langit masih ada langit. Karena itu janganlah cepat puas. Halangan terbesar untuk menjadi terbaik adalah menjadi sekedar baik.
Eh tunggu.. di bawah tanah juga masih ada tanah lho. Jadi jangan cepat kecewa juga dengan hasil yang didapat. Apalagi mengumbar rasa itu pada orang-orang di sekitar kita.

Selamat UTS bagi yang masih menjalankan. Bagaimanapun hasil UTS-mu, ikhlaskan ya! Paling tidak, nggak usahlah mengeluh di depan teman-temanmu :))

image source here

Sumpah

Aku tak ada di antaramu
di masa panjang perjuangan itu
Maka ku takkan berpura paham
bagaimana rasanya

Hanya melalui cerita-cerita lama
aku mengimaji..

Gelap, lembap, dingin
Desing menyeling mencekam
Disusul berita pilu keesokan pagi
tentang seorang pemuda yang hilang

Hari ini pun
jika kudengar untai sumpah itu
tak akan ku berpura haru
bukankah kau tidak mengajakku merangkainya?

Namun aku juga pejalan
walau bukan penerus jalanmu
Tapi aku sama berjuang
dengan untai sumpahku sendiri

Peringatan, Mungkin

Assalamu’alaykum all..

Sekarang aku sedang duduk termangu di depan perpustakaan Fakultas Hukum….baru saja ditolak.

Yeah, ditolak.
Sementara Retna dan Nisa, dua orang yang aku ajak, malah sedang menunggu giliran mereka.

Padahal Juli lalu bisa lho, aku masih ingat masuk ke ruangan di sudut Tunjungan Plaza bersama Uni. Kenapa sekarang nggak?

“Belum bisa,” orang itu pendek saja berkata, lalu melanjutkan, “Hb-nya belum cukup.”
Mas-mas di sebelahnya menambahkan, “Lain kali aja mbak. Tidur yang cukup, makan sayur.”

*ding!* a bell rings in my head

Mungkin aku diingatkan.

Hmm di permukaan mungkin semua baik-baik saja. Tapi bagaimana sebenarnya kabar badanku? Mungkin aku akhir-akhir ini agak jahat padanya.

Yasudahlah. Pokoknya lain kali harus bisa. Harus sampai 100 kali :D hehe

Oh iya, jaga kesehatan yaa, semuanyaa!