Menghadapi Logical Fallacies

Originally written as jurnal #3 MA Logika dan Penulisan Ilmiah

Malam itu acara penutupan Kegiatan Awal Mahasiswa Baru (KAMABA) tengah berlangsung di Fakultas Psikologi sebuah universitas negeri ternama. Seluruh mahasiswa baru dikumpulkan bersama panitia di dalam aula. Setelah saling memberikan persembahan terakhir, acara ditutup dengan pidato pembina kegiatan, yakni seorang pengajar di fakultas tersebut.

“Angkatan kalian harusnya bangga. Kalian baru saja berhasil menyelesaikan KAMABA terbaik di unversitas ini.”

Ruangan langsung riuh dengan tepuk tangan bangga. Mahasiswa baru dan senior yang menjadi panitia merasa tersanjung dengan kata-kata sang dosen.

“Kenapa saya berani mengklaim bahwa fakultas ini memiliki model KAMABA terbaik? Di sini kami tidak sembarangan merancang. Kakak-kakak kalian mempersiapkan kegiatan ini sejak tiga bulan yang lalu. Setiap acara telah kami simulasikan. Bahkan semuanya kami susun menggunakan teori-teori psikologi.”

Beberapa mahasiswa baru terkesima, menyesali makian yang sempat ia tujukan diam-diam untuk panitia.

Sang dosen melanjutkan, “Setiap tahun mahasiswa psikologi sering diminta mengajari fakultas-fakultas lain merancang ospek. Kalian bisa tanya ke tetangga-tetangga kita, adakah yang membedah teori psikologi sebelum mengeksekusi acara?”

Percakapan di atas adalah ilustrasi yang diadaptasi dari pengalaman pribadi. Kalau kita amati dengan sedikit lebih teliti, argumen-argumen yang diberikan oleh sang dosen sebenarnya tidak logis. Ia berkata KAMABA di Fakultas Psikologi adalah yang terbaik dengan menyatakan beberapa argumen pendukung: Continue reading Menghadapi Logical Fallacies

Advertisements

Jalan Santai atau Bergulung-gulung?

Jujur aku sedang bingung menentukan pilihan. Yah mungkin bukan fenomena yang spesial, karena aku memang tidak ahli dalam memilih. Tapi kali ini tentang sesuatu yang besar..

Di depanku adalah jalan kehidupan. Dan sekarang aku harus menentukan, ingin melewatinya dengan jalan santai atau bergulung-gulung bersama pusaran..

Aku pun sudah pernah mencoba kedua cara itu.

Di SMP aku menjalani hidup yang cukup santai. Biasanya setiap pulang sekolah aku langsung masuk ke kamar, menyalakan komputer, dan menghabiskan waktu di hadapannya sampai ngantuk. Setelah itu ya tidur. Apa saja yang aku lakukan? Kebanyakan adalah hal kurang penting: main warcraft, main PS, main RuneScape, buka Friendster, baca manga, dan googling hal-hal trivial.

Tapi di sela-sela itu aku bisa dibilang ‘produktif’ juga lho. Aku membaca, aku menulis, aku mulai menggambar dengan krayon, dan aku memasak (baking, to be precise). Sebuah resensiku dimuat di koran. Aku belajar menggunakan HTML dan CSS sendiri sebelum kelas komputer membahasnya. Kepalaku penuh ide dan aku selalu bisa langsung menuliskannya. Aku menggunakan waktuku untuk melakukan hal-hal yang aku suka.

Continue reading Jalan Santai atau Bergulung-gulung?

PsiUm :3

Apa itu PsiUm?

PsiUm adalah singkatan untuk Psikologi Umum, sebuah mata ajar paling andalan di semester 1. Kalau seorang maba tanya ke senior tentang seperti apa PsiUm itu, kebanyakan akan memasang senyum miris, menatap penuh keprihatinan, dan menepuk pundak si maba sambil berkata lirih, “Semangat ya.” Beberapa akan menambahkan dengan nada bersahaja, “Aku dulu nggak lulus di situ.”

Tapi nggak semua yang lo denger itu bener. Apakah PsiUm itu sulit atau justru seru harusnya kamu sendiri yang menentukan. Ya kan?

Buku yang kami pakai untuk PsiUm 1 ini adalah A History of Psychology oleh King et al. Tanpa menghitung lembar reference, totalnya ada 466 halaman, terbagi atas 18 chapter yang harus ditamatkan sebelum Desember tahun ini.

Di balik kengerian yang ditampilkan PsiUm karena materi bacaan yang luas dan bahasa yang njelimet, sebenarnya buku ini menarik lho. Semoga ini bukan wujud arogansi sih – -” tapi, serius, aku merasa membacanya cukup menyenangkan. Banyak hal-hal menggelitik; kadang lucu, kadang brilian, dan kadang terasa pingin menimpali, “Tet-toot!” ala Katri sambil memasang emoticon -o- di wajah.

Menurutku buku ini nggak padat (dalam artian padat-ringkas yang bikin sumpek) seperti di buku-buku SMA. Tulisannya mengalir, banyak elaborasi dan ilustrasi-ilustrasi yang makin bikin ngerti. Mungkin aku bisa menikmati karena cukup tertarik pada sejarah dan hal-hal yang kurang penting (yang justru sering dielaborasi di buku ini) seperti pertanyaan-pertanyaan mengapa dan kok bisa.

Coba deh, luangkan waktu sejenak buat membaca satu paragraf dari Chapter 2: Philosophical Issues ini..

As he wrestled with the problem of epistemology, the brilliant philosopher Rene Descartes (1596 – 1650) decided to trust only that which he could not doubt. He found he could doubt the existence of God and the objective existence of other people (other people and things might be mere projections of his own mind as in a dream). He could even doubt his own existence. As Descartes searched, he found the one thing he could not doubt: the fact that he was doubting. But in order to doubt, he must think and in order to think, he must exist. Descartes’ famous dictum “I think, therefore I am” was the result of a torturous struggle with the problem of knowledge.

Saat membacanya, entahlah, rasanya agak jeng-jeng, tet-toot, dan ooh ya ya, bisa aja deh mikirnya – -a

Tapi (uh-oh, selalu ada tapi) saat membaca bagian yang menjelaskan Plato dan Aristotle, buku ini mulai terasa membingungkan. Alurnya ruwet. Nggak dapat poinnya deh.

Yah semoga saja bingungnya cuma di bagian itu.

Sekarang.. mari lanjut ke zaman Medieval dan Renaissance dengan semangat!

Cita-citaku

Tiga orang anak TK sedang mengobrol tentang cita-citanya.

Anak pertama memulai, “Aku mau jadi dokter! Kan hebat, sedikit tuh yang bisa jadi dokter.”

Anak kedua menimpali, “Ah yang jadi dokter masih banyak. Aku mau jadi presiden! Yang bisa jadi presiden cuma sedikit.”

Anak ketiga enteng berkata, “Aku mau jadi diriku sendiri aja. Cuma satu orang yang bisa.”

 

(diceritakan oleh Pak Budi Matindas pada 20 September 2011)