Santai Jeh, Aku Nang Sebelahmu

Tong sampah kuning dan biru berdampingan mengingatkanku pada UI dan ITS

sampah

UI dan ITS berdampingan (?)

^^

Tumpul

Rasa-rasanya aku ini makin tumpul.

Dulu waktu masih kecil rasanya seperti berendam dalam imajinasi. Sejak TK aku sudah mulai menulis cerita-cerita walaupun, tentu saja, agak aneh plotnya. Cerita-cerita itu mengandung unsur putri, kebakaran, boneka, amnesia, penyihir, monster mata, kupu-kupu, semut, asrama, hantu, anak-anak terpilih, dan macam-macam yang lainnya.

Dulu aku begitu menganggur sehingga bisa begitu produktif dalam berimajinasi dan menulis.

Bahkan pernah ada beberapa tahun di mana aku bisa memproduksi minimal satu puisi setiap harinya. Masa-masa galau banget ya kayaknya –”’ Tapi semua tulisan itu sudah hilang saat komputerku rusak.

Bagaimanapun, sebenarnya to write and to be read itu adalah impian sejak kecil lho :[ Yaa rasanya sedih aja udah segede ini, bertahun-tahun lewat tapi aku masih belum merealisasikan mimpi paling menggetarkan ini.

Waktu SMA aku sempat berpikir, kayaknya nggak melanjutkan kuliah itu ude yang lumayan bagus ya. Cita-citaku toh tidak membutuhkan pendidikan perguruan tinggi. Aku cuma butuh waktu luang dan pikiran yang jernih. Tapi ibuku cerita bahwa yang paling penting dalam pendidikan tinggi adalah pelajaran hidupnya :/ Jadi nanti akan ketemu orang-orang yang aneh-aneh dan sangar-sangar di bidangnya.

Yeah, maka di sinilah aku sekarang: duduk di halte bikun, menunggu jarum jam sampai ke angka 5 sambil menulis-nulis dan membaca-baca, berharap inspirasi menyapaku dengan lembut seperti seorang teman lama.

Ah barangkali selama ini dia selalu mengiringiku, berlari mengikuti sambil menarik-narik ujung bajuku. Tapi mungkin aku sudah buta. Aku sudah tuli.

Aku rindu menulis ><

 

Hujan Pertama

Sore ini aku merasakan nikmatnya rintikan hujan menyentuh wajah.

Kali pertama di bulan Ramadhan.

Kali pertama di kampus ini.

Aku sedang duduk menulis di Masjid Ukhuwah Islamiyah. Lalu tiba-tiba terdengar suara ringan bergemuruh.

Aku selalu suka hujan, tapi berada di ‘rumah baru’ seperti ini, basah kehujanan bisa jadi hal yang cukup merepotkan.

Untung saja hujannya tidak menderas. Ia tetap menetes dengan kalem dan bersahaja. Alhamdulillah.

Aku merasa terhibur. Aku merasa dihibur.

Coba saja perhatikan hal-hal kecil yang ada di depanmu. Ada yang mengatur semuanya lho. Itu tidak begitu saja terjadi.

Menakjubkan bukan? :]

A New Start

Aku tidak pernah yakin apa yang harusnya aku tulis pada sebuah blog.

Dengan kapasitas seperti sekarang ini aku belum bisa membagi banyak ilmu dan inspirasi. Tentu banyak sekali hal ajaib yang terjadi dalam hidupku, namun untuk mengambil hikmah serta pelajaran darinya adalah hal lain. Kemudian, untuk merumuskan hikmah itu menjadi barisan kata lezat yang dapat dikunyah oleh orang lain adalah hal lain lagi.

“How terribly sad it was that people are made in such a way that they get used to something as extraordinary as living.”
— Jostein Gaarder (The Solitaire Mystery)

Yah, sering aku menganggap apa yang terjadi pada hari-hariku adalah biasa, wajar. Di waktu yang lain aku luput memaknai artinya. Bahkan tak jarang aku malah mengeluh. Yang terasa paling menyebalkan adalah saat aku meneguk segarnya inspirasi, lalu berseru pada orang-orang, “Enak sekali! Coba deh!!” Namun mereka hanya mengernyit tidak paham.
Aih, aku telah gagal menyebar manfaat.

Di awal bulan istimewa penuh bonus ini aku mulai menapakkan langkah keluar dari gua nyamanku. Pelan-pelan berjalan, menjelajah area asing yang menakutkan, sambil mencoba membangun pagar pelindung.

Aku yakin akan menemui banyak keajaiban di sini.
Aku memutuskan untuk memulai jurnal yang baru.

Kenapa?
Gapapa, pingin aja :D
Aku akan berusaha lebih keras untuk membagi sari-sari kehidupan yang bergizi.

Semoga menjadi awal yang segar!