Kenapa Ayah Bekerja?

Pertanyaan ini sering aku dengar keluar dari mulut anak-anak. Mungkin kamu juga sering dengar. Aku ingat dulu pun pernah menangisi kepergian orang tua yang bekerja sambil bertanya-tanya: kenapa? (Sebelum akhirnya aku terbiasa dan menikmati berada sendirian di rumah, haha.)

Orang-orang dewasa yang ditanyai begitu oleh anak-anak umumnya menjawab begini:
– Ayah kerja untuk kamu.
– Supaya bisa dapat uang.
– Supaya kamu bisa sekolah.
– Supaya bisa beliin kamu mainan.
– Supaya bisa beli susu untuk adek.
dan semacamnya. Ya kan?

Suatu hari, aku tidak sengaja mendengar percakapan ini dari pasangan ibu-anak. Ibu ini memberikan jawaban yang berbeda mengenai alasan suaminya bekerja.

Anak: “Abi mana, Mi?”
Ibu: “Abi kerja.”
Anak: “Kenapa kok kerja?”
Ibu: “Karena kerja itu ibadah. Wajib buat Abi. Kalau Abi nggak kerja nanti gimana dong ibadahnya?”

Widih.

Aku tidak tahu apakah anak sekecil itu dapat memahami konsep ‘ibadah’. Barangkali jawaban yang lebih konkret seperti mainan, peningkatan daya beli, dan daya jajan bisa lebih ditangkapnya. Tapi aku kagum dengan ikhtiar ibunya untuk menanamkan pola pikir ini sejak dini: alasan kita melakukan (segala) sesuatu adalah karena Allah. Kerjanya ayah ini bukan cuma untuk mendapatkan uang, tapi untuk menunaikan kewajiban sesuai yang diperintahkan oleh Allah.

Barangkali kita belum berada pada posisi ditanyai seperti itu oleh anak-anak kita. Tapi terkadang pertanyaan itu lewat juga di dalam hati sendiri. Kenapa aku bekerja? Agar bisa bayar kost? Agar bisa bayar asuransi kesehatan mama papa? Agar legit menjadi manusia dewasa?

Jangan berhenti sampai situ ya. Ayo kita cari makna sampai ke ujung muaranya.

Selamat bersiap untuk hari Senin!

Doa

Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku dan juga kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy. Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan. Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, lalu Kuputuskan hubungan-Ku dengannya.

Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan? Padahal sesungguhnya kesulitan itu berada di tangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkannya. Mengapa ia berharap kepada selain Aku dengan mengetuk pintu-pintu lain padahal pintu-pintu itu tertutup? Padahal, hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapapun yang berdoa memohon pertolongan-Ku.

Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan?

Aku telah mengadakan hubungan yang langsung antara Aku dengan angan-angan dan harapan seluruh makhluk-Ku. Akan tetapi, mengapa mereka malah bersandar kepada selain Aku? Aku telah menyediakan semua harapan hamba-hamba-Ku, tetapi mengapa mereka tidak puas dengan perlindungan-Ku?

Dan Aku pun telah memenuhi langit-Ku dengan para malaikat yang tiada pernah jemu bertasbih pada-Ku, lalu Aku perintahkan mereka supaya tidak menutup pintu antara Aku dan hamba-hamba-Ku. Akan tetapi, mengapa mereka tidak percaya kepada firman-firman-Ku?

Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa pun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku? Akan tetapi, mengapa Aku melihat ia dengan segala angan-angan dan harapannya itu selalu berpaling dari-Ku? Mengapakah ia sampai tertipu oleh selain Aku?

Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus ia minta. Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak lagi memintanya kepada-Ku untuk segera mengembalikannya? Tetapi malah meminta pertolongan kepada selain Aku?

Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika dimintai tidak Aku berikan? Apakah Aku ini bakhil, sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku? Tidakkah dunia dan akhirat itu semuanya milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?

Tidakkah hanya Aku tempat bermuaranya semua harapan? Dengan demikian, siapakah yang dapat memutuskannya daripada-Ku? Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, “Mintalah kepada-Ku!” Aku pun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikiran apa yang terpikir pada semuanya.

Dan semua yang Kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu. Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang, sedangkan Aku mengawasinya?

Sungguh alangkah celakanya orang yang terputus dari rahmat-Ku. Alangkah kecewanya orang yang berlaku maksiat kepada-Ku dan tidak memperhatikan Aku serta tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang haram seraya tiada yang malu kepada-Ku.

Repost dari blog lama agar lebih aksesibel. Diambil dari buku berjudul Kekuatan Doa oleh Abdullah Gymnastiar.

Doakan aku ya.