Nguping Bocah: Standar Ganda Ahimsa

Sekolah dasar di daerah urban yang beberapa hari ini kuceritakan berbeda dari sekolah dasar konvensional. Misalnya saja, kelas-kelas mereka bukanlah bangunan beton kubus yang dihiasi sekian jendela. Ruang kelas mereka kebanyakan adalah saung-saung kayu yang berdiri di atas kolam ikan. Tidak jarang ikan-ikan yang mulutnya ‘haub-haub’ itu mengalihkan perhatian anak-anak dari kegiatan kelas.

A: “Eh matiin ikan yuk.”
B: “Gak boleh tau matiin ikan. Matiin semut aja ga boleh.”
A: “Emang kenapa?”
B: “Gak boleh tau, dosa. Nanti di neraka kamu di.. di.. dianuin sama ikannya.”
A: “Aku matiin semut. Semut.. ini.. semut yang merah besar.”
B: “Oh kalo itu sih ga papa.”

Terdengar mirip dengan mereka yang berseru lantang ‘barbar sekali engkau memakan daging anjing sahabat manusia yang tidak berdosa’ sambil berkata santai ‘kalau ayam sih memang sudah nasibnya dibiakkan, digemukkan, dan dibantai secara massal, itu sih ga papa’.

Nguping Bocah: Kenapa?

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, enam belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Sebagaimana kelas pada umumnya, ada jadwal spesifik yang sudah disiapkan untuk setiap kegiatan. Ada jam tertentu untuk berhitung, membaca, menulis, mewarnai, makan siang, dan lain-lain. Akan tetapi sebagian anak belum cukup terbiasa dengan model belajar ini. Bagi mereka, sangat mengherankan mengapa harus menahan diri dari melakukan hal yang  disenangi untuk sesuatu yang lain.

Seperti ini..

Guru: “Lho Ivan, sekarang waktunya kita mewarnai. Ayo buku ceritanya dimasukkan dulu.”
Ivan: (dengan ekspresi tersinggung dan nada tajam) “Kenapa?”
Guru: (tertegun)

.. Dan kadang, ketika dihadapkan pada anak-anak seperti ini, orang dewasa (untuk sesaat) tergerak untuk bertanya di dalam hati: Iya ya, kenapa? Memangnya kenapa harus?

Pola yang sama pernah kutemui di rumah dari interaksi kakakku dan anaknya yang berusia hampir tiga tahun.

Ibunya: “Lho Biq, kok stikernya ditempel-tempel di situ to?”
Anaknya: “Aku seneng kok.”
Ibunya: “… Oh.. yawes.”

Pada banyak hal yang ‘mubah’, orang dewasa sering kali sudah memiliki bingkai pikir yang kaku. Berinteraksi dengan anak-anak (dan menguping omongan mereka) kadang membuatku berpikir tentang apa yang esensial dan apa yang trivial. Begitulah.

Nguping Bocah: Pengaruh Tren Cincin Akik terhadap Kesejahteraan Anak, Sebuah Studi Kasus

A: “Wahh seneng banget deh hari ini bisa keluar rumah.”

D: “Lho emangnya biasanya gimana?”

A: “Biasanya setiap hari..” (sambil menggilir kesepuluh jari seperti sedang berhitung) “.. di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah. Kalau aku ajak keluar jawabannya selalu..” (sambil menggilir kesepuluh jari lagi) “.. ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit.”

D: “Haha. Uangnya ditabung mungkin buat kamu sekolah.”

A: “Ayah tuh sebenarnya uangnya banyak. Tapi disimpen buat beli cincin.”

Nguping Bocah: Warna Itu Netral, Manusia Aja yang Suka Ribet

“Kak, kak, kan nggak papa ya kalau anak laki-laki pakai warna pink.”
(diucapkan oleh seorang anak laki-laki)

Latar belakang:

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, lima belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Di hari pertama, masing-masing anak diberi name tag agar lebih mudah dikenali. Awalnya, sekolah ini bermaksud untuk memberikan name tag bertali merah muda untuk anak perempuan dan name tag bertali kuning untuk anak laki-laki. Akan tetapi pada akhirnya pembedaan ini tidak berjalan. Beberapa anak laki-laki pun protes ketika mendapat tali berwarna merah muda.