Teriakan di Gedung C

“Lepasin! Lepasin! Aku mau mati aja!”

Tidak biasanya, gedung C Fakultas Psikologi siang itu ramai. Dari lantai dasar hingga lantai 3, semua orang menengok penasaran ke arah sumber suara.

“Mau mati aja!”

Jadi di lantai dasar gedung ini ada klinik psikologi untuk anak-anak. Siang itu suara seorang anak laki-laki kencang berteriak-teriak, mengulang kata-kata yang sama.

“Lepasin!”

Histeris.

“Aku mau mati aja! Bapak sama ibu udah nggak sayang lagi!”

Anak itu duduk di sebuah sofa dan sekelompok orang dewasa mengerubunginya; memegangi, mengusap-usap, mengelap keringatnya dengan tisu, dan mencoba menenangkan dengan kata-kata yang tidak dapat aku dengar.

“Cuma di mulut doang! Di rumah aku digebukin terus!”

Menyayat.

“Lepasin! Mau mati aja! Bunuh aja!”

Merinding. Hampir-hampir aku ikut menangis saat setiap teriakannya menggema.

Tidak sedikit kok orang yang merasa tidak disayangi oleh orang tuanya. Ketika perasaan itu muncul, mungkin seseorang bisa beralih pada ‘dunia lain’ yang dimilikinya, misalnya dunia sekolah atau lingkaran pertemanan. Tapi ketika perasaan tidak disayangi ini muncul pada anak yang masih kecil, yang belum mengenal ‘dunia lain’, bisa apa? Ketika dunia yang diketahui baru sebatas rumah saja, ketika tempat bergantung hanyalah orang tua.. harus bagaimana?

Setelah beberapa pertemuan mempelajari psikopatologi anak, aku makin merasa perlu banyak-banyak bersyukur untuk masa kecil yang cukup lantjar. Diwarnai dengan perasaan tidak disayangi, merasa sebagai anak pungut, dan terkucil dari pergaulan kakak-kakak, akhirnya aku tetap bisa hidup sampai sedewasa ini tanpa masalah berarti.

Untukmu yang sudah kedapatan anak, aku tahu ini terdengar ‘ya-iya-lah-ya’ banget, tapi tetap saja harus kamu ingat: jagalah dia baik-baik.

Semoga adik yang kuceritakan di atas bisa tumbuh dengan baik.

“Kakak nggak suka matematika!”

Malam ini anak sulung kami mengerjakan PR-nya sambil menangis.

“Kakak nggak suka matematika!”

Berkali-kali ia menyerukan kalimat itu. Kadang dengan nada kesal, kadang dengan nada lirih memelas. Seperti memohon untuk dibebaskan dari penyiksaan. Walau begitu tangannya tetap erat menggenggam pensil, mengguratkan angka-angka yang kikuk berpose di lembaran bukunya.

Sejak kecil kami sudah melihat bakatnya. Ia adalah anak yang pintar. Mumpung baru duduk di kelas 1 SD, kami tidak ingin menyia-nyiakan masa emas perkembangan otaknya ini. Kami mendaftarkannya pada sekolah terbaik dan tempat les terbaik. Jadwalnya penuh, pagi sampai malam, enam hari dalam seminggu. Pokoknya jangan sampai ia tertinggal dari anak-anak lain dan akhirnya kalah dalam persaingan hidup yang lebih kejam di masa depan.

“Kakak suka Bahasa Indonesia, Bu..”

Ia memandang ke arahku, memohon bantuan. Aku tahu, sudah tahu dari dulu bahwa ia paling suka bercerita dan membaca. Hanya saja, dalam hidupnya nanti tidak semua hal dapat ia peroleh menurut kesukaannya kan?

“Cepat selesaikan PR-nya, Kak.”

Suatu hari nanti ia akan menyadari manfaat dari segala kerja kerasnya hari ini. Semua yang kami lakukan adalah demi kebaikannya sendiri. Ia hanya masih terlalu kecil untuk mengerti.

Tulisan ini fiktif, namun diadaptasi dari tweets @masyreef pada 27 September 2013 yang merupakan kisah nyata.
Bagaimana menurutmu?

Anak-anak di Masjid

Siapa yang kalau tarawih selalu ngeliat banyak anak kecil di masjid?

Let me say this. Aku nggak suka sama kebanyakan anak-anak kecil pas tarawih.

Oke, oke, sebagian dari mereka keliatan unyu. Dengan pipi ala Afika terus pakai mukenah gitu. Sebagian pantas diapresiasi semangat beribadahnya. Tapi lebih banyak yang annoying: bikin keramaian, asyik ngobrol sendiri, dan lari-lari.

“Wajar lah.. mereka kan masih kecil.”

Seberapa kecil sih? Kalau belum sekolah memang wajar. Tapi kalau sudah SD sih harusnya paham. Masjid tempat beribadah, bukan tempat ngegawl bareng geng mereka. Anak SD itu sudah bisa diatur agar nggak ribut di kelas. Mestinya di tempat ibadah mereka juga bisa diatur bersikap serupa.

“Alah, emang kamu sendiri ga pernah jadi anak kecil?”

Well. Aku pernah kecil tapi nggak pernah ingat bikin keramaian di masjid :> “Ah masa sih??” Nah, kemarin aku mencoba mengonfirmasi ingatan ini kepada Mama.

“Dulu pas aku kecil kalo tarawih pencilakan gitu ta? Teriak-teriak atau nangis-nangis gitu?”

“Salah semua. Kamu diam di sajadah walaupun nggak shalat.”

Tuh kan ;)

Malahan, ingatan pertama yang masih aku punya tentang tarawih adalah ingatan yang…terasa menyakitkan. Kalau nggak salah itu sekitar kelas 2 atau 3 SD. Aku berangkat ke Masjid Al-Muhajirin sendirian, rencananya janjian ketemu di sana sama seorang teman. Tapi akhirnya aku nggak bisa menemukan si teman itu. Aku jadi anak kecil sendirian yang shalat di tengah-tengah ibu-ibu berbadan besar. Rasanya nakutin ><

“Emang kamunya aja yang ngga punya temen kali ya?”

Ih jahat .___. Dulu pas SD saya punya geng looh #eh

Memang sih, teman perempuan yang rumahnya deket masjid yang sama cuma Safrina. Jadi ya aku seringnya tarawih bareng dia aja. Oh, sering juga bareng Mbak Lia, mbaknya Safrina. Seingatku kita selalu bisa mengendalikan diri dengan baik kok ._.v

Apapun lah. Yang aku harapkan adalah mbak-mbak dan mas-mas yang membaca ini bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, biar bisa shalat di masjid dengan baik :)

Selingan. Kemarin sempat ngenes deh. Di tengah-tengah jeda antar tarawih ada anak perempuan yang ribut minta diantar ke kamar mandi. Ibunya bilang apa coba? “Aah rese banget sih!” dengan nada gusar, lalu bergegas mengantar ke kamar mandi. Ugh.. -__-