Why Behavioral Economics Is Cool, and I’m Not

Here. An interesting article contrasting behavioral economics and psychology.  Read, people, read!

When people think of economists, they picture smart people crunching numbers. When they think of psychology, they picture Sigmund Freud lying on a couch telling them they failed a driving test because they failed to kill their fathers and sleep with their mothers. (If you object to that, don’t worry; you’re in denial.)

http://www.huffingtonpost.com/adam-grant/why-behavioral-economics_b_5491960.html?utm_hp_ref=tw

Man’s Search For Meaning oleh Viktor E. Frankl

It did not really matter what we expected from life, but rather what life expected from us.

Pernah dengar nama Viktor E. Frankl? (Aku penasaran bagaimana cara membaca nama belakangnya itu. ‘Frang-kel’?) Dia banyak dikenal sebagai pencetus logotherapy, terapi berbasis makna. Di beberapa sumber dikutip bahwa logotherapy-nya Frankl ini adalah the third school of Viennesse psychotherapy (setelah psikoanalisis-nya Freud dan individual psychology-nya Adler).

Frankl sendiri adalah seorang yahudi yang berprofesi sebagai psikiater. Pada masa Perang Dunia II ia beserta seluruh keluarganya menjadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam kerasnya kehidupan di dalam kamp Frankl menyaksikan bagaimana manusia dapat bertahan hidup, atau justru menyerah sama sekali. Sepertinya dari pengalaman inilah ia kemudian merumuskan sudut pandang baru terhadap manusia.

Freud memandang bahwa manusia selalu mencari kesenangan (pleasure). Adler memandang bahwa manusia selalu mencari kekuasaan (power). Frankl justru memandang bahwa manusia selalu mencari makna (meaning).

Man’s Search For Meaning adalah buku karya Frankl yang nuansanya cukup ringan. Buku ini terdiri atas tiga bagian. Bagian pertama, yang berjudul Experiences in a Concentration Camp, memenuhi lebih dari setengah keseluruhan buku. Sebagaimana judulnya, di sini Frankl menceritakan pengalaman dan perenungan mengenai kehidupannya di dalam kamp. Bagian pertama ini paling ringan dan ‘menyentuh’ dibanding bagian lainnya. Bagian kedua, berjudul Logotherapy in a Nutshell, menjelaskan secara ringkas mengenai logotherapy. Penjelasan lebih dalam soal logotherapy dapat ditemukan di buku Frankl yang lain, The Will to Meaning: Foundations and Applications of Logotherapy. Berikutnya bagian ketiga yang berjudul The Case for a Tragic Optimism. Bagian singkat ini disarikan dari kuliah yang disampaikan Frankl pada Third World Congress of Logotherapy di Jerman tahun 1983.

Menurutku buku ini enak sekali untuk dibaca. Memuaskan. Aromanya eksistensialis dan rendah hati.

If there is a meaning in life at all, then there must be a meaning in suffering.

Frankl juga menurutku berhasil menunjukkan celah psikoanalisis-nya Freud, seperti ini:

Sigmund Freud once asserted, “Let one attempt to expose a number of the most diverse people uniformly to hunger. With the increase of the imperative urge of hunger all individual differences will blur, and in their stead will appear the uniform expression of the one unstilled urge.”

Thank heaven, Sigmund Freud was spared knowing the concentration camps from the inside.

There, the ‘individual differences’ did not ‘blur’ but, on the contrary, people became more different; people unmasked themselves, both the swine and the saints.

Yang ini juga jadi sudut pandang baru yang menarik bagiku:

Live as if you were living for the second time and had acted wrongly the first time as you are about to act now.

Kalian bisa meminjam buku ini padaku, tapi pastikan benar-benar membaca, menjaga, dan mengembalikannya ya. Maklum, yang satu ini kudapat dari perjalanan yang jauh. :)