Islamic Spirituality and Mental Well-Being by Zohair Abdul-Rahman

Caught myself on article above from Yaqeen Institute. Zohair mainly analyze the psycho-spiritual effect of this hadith narration:

اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي

The Prophet ṣallAllāhu ‘alayhi wa salam said, “Whoever is afflicted with grief or anxiety, then he should pray with these words, ‘Oh Allāh, certainly I am your slave, the son of your male slave and the son of your female slave. My forehead is in Your Hand. Your Judgment upon me is assured and Your Decree concerning me is just. I ask You by every Name that you have named Yourself with, revealed in Your Book, taught any one of Your creation or kept unto Yourself in the knowledge of the unseen that is with You, to make the Qurān the spring of my heart, and the light of my chest, the banisher of my sadness and the reliever of my distress.’

Quite a long read, I know. So here’s some notable excerpt for you (ugh, no, us):

Ibn al-Qayyim (d. 751 AH) explains, “The past can never be changed or corrected with sadness [ḥuzn], but rather with contentment [riḍā], gratitude [ḥamd], patience [ṣabr], a firm belief in destiny [imān bil qadar] and the verbal recognition that everything occurs by the Decree of God [qaddarAllāhu wa mā shā wa fa’l].”
(Ibn al-Qayyim, Zād al-M’aād, vol 2. p. 325.)

Unlike other notions of prayer that are often reduced to mere incantations or wish lists, du’aā is much more profound. In fact, many of the most powerful du’aās in the Qurān do not even contain a request to God. Instead, they are humbling expressions of truth in response to trial and tribulation.

For instance, when the Prophet Ayyūb was afflicted with severe disease and poverty he called out, “Indeed, adversity has touched me and you are the Most Merciful of the merciful.” (Qurān, 21:83.)

As the Qurān mentions (referring to 57:20), everything in life that we are attached to will eventually leave us. Once they “turn yellow,” we may find ourselves frozen in time. Our conception of ourselves can be so anchored to this world that when it fades, we can lose ourselves. Our attachment to God is meant to be central and our ultimate anchor in life. When we submit and surrender to God, we become content with what we have lost and free ourselves from our own psychological slavery.

The Islāmic tradition sees hardship and adversity as opportunities for establishing absolute dependency on God, submitting to Him, learning truth, and building virtue. It is important for us to realize the profound psychological insight our tradition has and extract this timeless guidance for all to benefit.

Advertisements

Sedekah Tak Sampai

Alkisah, hiduplah seorang anak perempuan yang lugu dan tidak banyak meragu. Di sela kesibukannya bersekolah di SD dekat rumah dan main ceblek nyamuk, anak ini juga mengikuti les aritmatika. Kebetulan les aritmatikanya memiliki muatan islami. Para peserta les tidak hanya diajari menjentikkan biji sempoa ke atas dan ke bawah, tapi juga hafalan surat pendek serta hadits sehari-hari.

Sore itu, si anak perempuan diajarkan sebuah hadits baru tentang senyuman.

Tabassumuka fii wajhi akhiika laka shadaqah.
Artinya, senyummu di wajahmu di hadapan saudaramu adalah shadaqah.

Begitulah kakak gurunya berkata perlahan. Dengan segera hadits itu terekam di kepala. Tidak hanya itu, ia pun bertekad untuk mempraktikkan hadits itu dalam keseharian. Ia ingin lebih banyak tersenyum. Tidak terbatas kepada kawan-kawan, tapi juga pada orang-orang asing, pohon, dan langit.

Maka, suatu hari ketika sedang berada di atas boncengan motor ibunya, di antara desel-deselan jalanan padat Surabaya, anak perempuan ini tersenyum. Senyumnya jatuh kepada seorang wanita tembem yang juga tengah mengendarai motor. Dengan senyum itu ia bermaksud menyampaikan pesan solidaritas, “Huft. Macet ya. Panas ya. Ndak papa ya bu. Kita sama-sama bersabar ya.”

Tapi pesan itu tidak sampai. Frekuensinya tidak sesuai.

Wanita yang disenyumi mengerutkan alis, lantas bertanya heran, “Siapa dek?”

Anak perempuan itu masih tersenyum saja. “Kita nggak saling mengenal, bu. Tapi kita sedang merasakan terik yang sama. Kita menjadi saudara tanpa perlu saling mengenal.” Barangkali begitulah bunyi puisi yang mendengung dalam kepalanya.

Tapi wanita tadi masih tidak paham. Ia bertanya dengan nada lebih serius, “Lho siapa dek? Kenal ta?” Kemudian sepertinya ia bicara pada orang yang sedang diboncengnya, “Adek iku nggak popo ta?” ‘Adik itu tidak apa-apa kah?’

Yang didengar oleh si anak perempuan adalah versi sedikit berbeda: “Gila ya kamu, kok senyum-senyum sendiri?”

Senyumnya pun terputus di tengah-tengah. Ia memalingkan wajah, kembali fokus pada tengkuk ibunya.

Mungkin sejak itulah anak perempuan kita menjadi lebih kikuk dalam ‘bersedekah’. Jadi kalau kini kamu mendapati dia tersenyum lebih lebar pada kucing ketimbang pada candaanmu, maklumi saja. Kalau senyumnya dibarengi dengan kata-kata sinis, terima saja. Kalau dia menceritakan pengalaman masa lalu dengan nada apologia, biarkan saja. Mungkin kata-kata si wanita tembem pengendara motor masih menggema dengan nada prihatin,

Nggak popo ta?