Menjadi Anak-Anak, Lagi oleh Riri Rustam

Sudah lama nggak benar-benar menulis di sini. Posting-posting terakhir isinya sekadar salinan dari tulisan lain. Lama-lama Out of Cave jadi majalah?

Dan kali ini pun akan begitu. Pagi ini aku menemukan tulisan dari seseorang yang namanya iseng ku-googling: Riri Rustam, senior-jauh di Fakultas Psikologi dan founder Eye to Eye yang verbatimnya bikin pegel tangan dan pusing kepala.

Tulisannya berjudul Menjadi Anak-Anak, Lagi.


“Gimana rasanya mau punya bayi lagi di umur 40?”. 

Masih nempel banget pertanyaan itu di kepala saya. Dari seorang teman, waktu saya sedang hamil Lila di bulan ketiga atau keempat. Waktu ditanya, saya bingung juga, apa ya rasanya. Ada senengnya, pasti. Ada bingungnya juga. Jarak Tara bayi dengan kelahiran Lila itu 7 tahun. Banyak yang saya sudah lupa, dan ingin lupakan…haha… Hayo udah deh jujur aja para ibu yang menjalani menyusui – edisi bangun malem kalau boleh maunya lewat secepat kilat kaaaannn..

Tapi mungkin a lingering question saat itu adalah: beda umur saya dengan Lila 40 tahun!. Empat puluh tahun. How will I cope with her growing up with me growing old?. Saya bukan orang yang takut menjadi tua. Tapi bagaimanapun juga, menjadi tua itu secara alamiah akan berarti penurunan fungsi tubuh dalam berbagai skalanya. Itu juga berarti akan ada hal-hal yang saya mau tidak mau harus kompromikan dengan badan saya. Sementara, Lila yang sedang bertumbuh pasti justru sedang butuh seseorang yang bisa aktif menemani dia.

Jadi pertanyaan itu menggelitik saya: how will I cope?.

Sekarang, 3 tahun 7 bulan kemudian, apa rasanya?.

Sekarang, kalau ditanya lagi, saya akan jawab dengan mantap, “It’s one hell of a ride, my elixir of youth, my energy for rejuvenating myself, a continuous reminder that we are here to keep on moving”. 

Benar bahwa punya anak itu adalah keberkahan dan rejeki. Tapi saya merasakan ada rejeki tambahan: punya 2 anak di tahap perkembangan yang sangat berbeda, itu menyenangkan.

Tara sudah 10, sebentar lagi 11, tahun. Sudah ‘tiga perempat’ pre-teen. Dia sudah kurang lebih melihat dunia dengan cara yang mirip dengan kita, orang dewasa. Kalaupun ada yang tidak dia pahami, dia sudah bisa mencari informasi sendiri dan berinisiatif mengajak kami diskusi, kami tinggal mengarahkan dan menjaga koridor dimana dia mencari informasi. Tara sudah bisa menentukan sendiri pilihannya. Sudah bisa bilang, “Aku mau di rumah aja, nggak mau ikut ayah bunda”, dan konsisten pada pilihan-pilihannya.

Dengan Tara, saya betul-betul jadi ‘orang dewasa’. Saya harus bisa menunjukkan pada dia bahwa ada tanggung jawab yang harus dia pikul kelak sebagai manusia, dan sebagai anggota masyarakat. Saya harus pelan-pelan mulai sekarang mempersiapkan dia menghadapi kehidupan kelak. Misalnya saja, pertengkaran kami yang paling sering adalah soal uang. Saya sering sekali minta dia untuk berpikir ulang saat minta sesuatu dan dia sering menantang saya untuk menjelaskan, “Kenapa?”. Dan saat Tara bertanya, “Kenapa?”, saya selalu tahu itu artinya kami harus duduk bersama dengan wajah serius.

Dan sesuai dengan tahap perkembangannya, Tara sudah lebih banyak bertanya tentang kehidupan, kadang juga, kematian.

Jujur walaupun saya menikmati itu juga, ada saat-saat dimana saya kangen jadi anak kecil lagi bersama dia. Tapi hasilnya sekarang, walaupun dia mengatakannya dengan suara sayang, dia sering sekali bilang, “Bunda nih konyol”. Saya menyukainya. Tapi saya juga harus bisa menjaga supaya suara sayangnya itu tidak lalu berubah menjadi suara kesal, nanti saat dia pre-teen (OMG…how time flies).

Sementara itu Lila – dengan pertanyaan-pertanyaannya tentang segala rupa di sekeliling dia, yang dia lontarkan secara sembarangan dan jujur. Dia sedang membentuk pemahamannya tentang dunia, tentang orang-orang di sekitarnya, bahkan tentang kami orang tuanya. Dia sedang belajar tentang banyak hal.

Dia mencintai air persis seperti saya, tapi belum bisa berenang. Dia sangat sayang pada si kakak, tapi belum bisa menahan diri untuk tidak merebut barang kakak. Dia menyayangi Omanya, tapi kejujuran kanak-kanaknya masih saja membuat dia terdengar usil saat dia bilang, “Oma baunya oma-oma jadi aku nggak mau cium”.

Nah. Dengan Lila-lah saya menemukan ‘anak kecil’ di dalam diri saya sendiri. Anak kecil yang sedang belajar dan menganggap semua hal adalah baru dan menarik.

Saat saya malas menjadi orang dewasa, bersama Lila saya jadi punya alasan untuk jadi anak kecil lagi. Untuk main pasir lagi, untuk jerit-jerit saat diterpa ombak, untuk lari-lari mengejar burung, untuk terpesona lihat ulat bulu sambil jerit-jerit saat ulat itu bergerak, untuk tiduran telentang di atas rumput sambil berkhayal awan-awan itu adalah monster yang sedang kejar-kejaran dan kami cekikikan sampai sakit perut.

Bersama Lila saya menemukan kenapa, pada akhirnya, umur tidak perlu jadi alasan untuk saya menjadi khawatir. Oh yes of course saya sering berkata pada diri sendiri, “Gue nggak mau sakit-sakitan saat Tara dan Lila harus menikmati keindahan masa muda mereka di usia 20an dan gue udah umur 60an”. Itu  kekhawatiran saya yang ada kaitannya dengan menjadi tua dan segala yang berkaitan dengan penurunan fungsi fisik. But then, dengan dia, saya merasa sehat!.

So to me, Lila is definitely my elixir of youth. Dia membuat saya bisa merasakan, LITERALLY, that life DOES BEGIN AT 40!.

Saya tidak pernah khawatir dengan pertambahan umur, dan uban, dan kerut. Saat saya ulang tahun ke-40 (yang sudah 4 tahun lalu…haha…what a wonderful life…), saya tahu bahwa ini adalah usia dimana saya punya legitimasi untuk tidak lagi menerima any non-sense nor bullshit dari siapapun. Dengan kehadiran Lila, saya merasa saya punya legitimasi tambahan, untuk berkata pada dunia, “Hey, look, 40 is the new childhood!”


Ketika membaca ini aku teringat pernah bertanya pada Didi, “Umur 40 hamil memungkinkan gak Di?” yang kemudian dijawab, “Mungkin banget. Kenapa? Kamu hamil di usia 60 lho bisa, biidznillah.”

:”)

Nah, adakah tabel warna-warni ini sempat mampir di chat window-mu? :)))

34546597721-tabel-nikah

Ceritanya aku kepikiran untuk punya anak banyak (hah) dan sampai saat ini proses produksi pertama aja belum dimulai (…). Kalau aku sungguh ingin mengusahakan memiliki anak banyak tentunya proses produksi itu akan memakan waktu panjang. (Sepuluh, dua puluh tahun? Whoa..) Jadi kekhawatiran soal usia tua dan penurunan fungsi fisik serta ekonomi juga mampir di kepalaku.

Iya iya, aku tahu aku nggak begitu terampil ‘megang’ anak-anak. Gapapa kan nanti kan ada bapaknya atau nenek-kakeknya atau baby sitter. Oknum Z pernah bilang aku berpotensi membunuh anak (aku harap dia bercanda ya). Tapi aku bisa bilang bahwa aku bukannya nggak suka anak-anak. Aku suka kok… hanya saja dari jarak jauh. .__. Perhatikan saja, dalam blog ini pun aku cukup banyak menulis tentang anak-anak. Ya kan? Kan?!!

Aku senang membaca tulisan Mbak Riri di atas. Terasa menenangkan. Ia menceritakannya dengan baik. Walaupun ia tidak menuliskan sama sekali perihal urusan finansial, yang aku ambil secara garis besar adalah ini:

Setiap jalan kehidupan punya petualangannya masing-masing. Mungkin tidak selancar yang kita rencanakan, tapi it will be fine, it will be fun! Biidznillah. :)

Semoga jarak umur dua puluh sekian, tiga puluh sekian, empat puluh sekian, atau berapapun tidak akan membuatku terlalu tua untuk kembali ‘menjadi anak-anak’ lagi bersama.. mereka nantinya.

Ah. Iya kalo ada. (……..)

 

Advertisements

Aku Akan Mati Muda [3]

baca cerita sebelumnya: Aku Akan Mati Muda [1]
Aku Akan Mati Muda [2]

“Tidak juga sih, tidak juga,” katanya sambil mengatur nafas. Kemudian ia menjelaskan padaku bahwa dulunya ia sungguh-sungguh ingin mati dalam usia yang muda.

“Aku rasa aku akan bosan kalau hidup lama-lama Jri. Sudah begitu dosaku akan tambah banyak juga haha. Kutargetkan hidupku tidak lebih dari tiga puluh tahun.”

Hampir pas seperti dugaanku! Memang angka yang cocok untuknya.

“Nah sudah tentu sebelum mati aku ingin merasakan berbagai pengalaman hidup. Jadi aku menikah dengan seorang perempuan berhati lembut.”

“Wah ada juga Di yang mau menikah dengan orang sepertimu?”

Kami tertawa-tawa sejenak. Lalu Ardi melanjutkan ceritanya. Katanya, suatu hari istrinya yang berhati lembut itu menemukan buku catatan rencana hidupnya. Maka sampailah sang istri pada halaman terakhir yang memuat rencana mati muda Ardi. Begitu selesai membaca hal itu istrinya langsung menangis tersedu-sedu. Agaknya pernikahan mereka berdua amat membahagiakan hingga sekadar membayangkan perpisahan dengan Ardi sanggup membuat perempuan itu sesenggukan.

“Ia menangis hebat sekali Jri! Sampai kehabisan nafas! Aku rasa kalau saat itu tidak cepat-cepat kutenangkan ia benar-benar bisa mati dirundung kesedihan.”

Dalam situasi yang genting seperti itu, kata Ardi, akalnya tidak tinggal diam. Akhirnya ia jelaskan pelan-pelan pada istrinya bahwa mati muda yang ia maksud adalah mati dengan jiwa muda. Yah, intinya persis seperti yang ia sampaikan padaku barusan. Setelah mencerna baik-baik penjelasan itu barulah tangis istri Ardi mereda. Peristiwa itu diakhiri dengan deklarasi janji di antara Ardi dan istrinya bahwa mereka akan bersama-sama ‘mati muda’, dengan kata lain mereka akan selalu hidup dengan jiwa muda. Implikasinya, sang istri pun betul-betul mengusahakan pola hidup yang sehat, fisik maupun mental, di dalam rumah tangga itu.

“Memang melenceng dari rencana semula, tapi tidak apa-apa. Justru lebih baik,” katanya menutup cerita.

Kisah Ardi dan istrinya sebenarnya terdengar lucu bagiku, tapi aku menahan diri agar tidak tertawa lagi kali ini. Aku tidak mau Ardi menganggapku mengolok-olok istrinya. Dari sorot matanya ketika berceita dapat kulihat bahwa Ardi pun hidup selama ini dengan cinta yang besar terhadap perempuan-berhati-lembut itu. (Apa? Kalian ingin bilang bahwa aku sudah tua dan mataku sudah rabun dan aku tidak mungkin dapat melihat cinta hanya dari sorot mata seseorang? Sudahlah! Ini akan membuat ceritanya terkesan lebih manis kan!?)

Berbagai hal dalam kehidupan ini mungkin sudah kita gambarkan blueprint-nya dalam garis-garis perencanaan sempurna. Namun yang terjadi sering kali melenceng dari gagasan semula. Mengecewakan? Sebenarnya garis-garis rencana yang kaku itu membelok dan melengkung, hingga ketika kita melihatnya lagi dalam pandangan lebih luas tampaklah pola yang indah.

Melihatku yang merenung dalam diam, Ardi berkata, “Sudah, ayo kita berdiri. Yang duduk-duduk dan mengobrol basa-basi seperti ini cuma orang tua, Jri! Ayo kita main bersama cucu-cucumu itu!”

Maka aku berdiri, dan mencoba memuda.

Aku Akan Mati Muda [2]

baca cerita sebelumnya: Aku Akan Mati Muda [1]

..Pada akhirnya ia sungguh tampak seperti orang biasa.

Bertahun-tahun lewat dan kami tidak lagi berinteraksi. Aku kembali ke kota kelahiranku dan menjalankan bisnis kecil di sana. Mengenai kawanku ini, terakhir kali ada desas-desus di grup WhatsApp angkatan kami yang mengatakan bahwa ia pergi ke Jepang (aku memperkirakan kemungkinan kecelakaan pesawat saat mendengarnya). Di kali lain tersiar kabar angin bahwa ia meluncurkan sebuah buku masak (aku memperkirakan kemungkinan keracunan bahan-bahan kadaluarsa, kejatuhan pisau besar, dan semacamnya). Di tengah kesibukanku membangun jaringan bisnis tidak pernah ada kesempatan untuk benar-benar mengecek keabsahan berita-berita tersebut. Walau begitu aku masih dilingkupi perasaan misterius yang menegangkan. Bayangan karton hijau sederhana beserta ekspresi lugunya saat mengatakan ingin mati muda masih terus kuingat. Entah mengapa aku memiliki keyakinan penuh bahwa kawanku akan benar-benar meraih impiannya.. dengan suatu cara yang tidak umum.

Keyakinanku tidak pernah pudar bahkan hingga saat ini, ketika usiaku telah mencapai enam puluh tahun. Karena usiaku sudah setua ini, maka aku rasa kawanku ini pasti sudah mati walaupun kabarnya tak pernah menyentuh daun telingaku. Di waktu-waktu senggang aku terkadang masih memikirkan beberapa kemungkinan tentang bagaimana ia akhirnya menghadapi kematian. Kuperkirakan usianya saat itu sekitar dua puluh sembilan tahun. Entah mengapa angka itu, aku hanya merasa dua puluh sembilan adalah angka yang cocok untuknya.

Pagi ini terasa damai ketika aku membaca sebuah novel lawas di bangku taman sambil sesekali mengangkat kepala untuk mengawasi cucu-cucuku yang sedang bermain (mereka memang agak brutal dan membutuhkan pengawasan ketat). Pikrianku bertamasya mengenang sosok kawanku, membayangkan pemakamannya yang tidak pernah kuhadiri. Apakah ia mati dengan senyuman? Apakah jenazahnya menguarkan aroma wangi? Kata orang-orang begitulah ciri-ciri orang baik kan?

Kulirik ke tempat bocah-bocah liar tadi bermain. Tampaknya seorang lelaki terjebak di dalam permainan aneh mereka (ah, lelaki yang malang). Tapi lelaki yang sudah cukup berumur itu kelihatannya malah menikmati permainan cucu-cucuku. Ia tertawa lebar, ikut melompat, dan berlari-lari kecil lincah. Beberapa saat kemudian mereka tampak kelelahan, lalu menghentikan permainan dan berjalan ke arahku. Demi menyambut lelaki tadi aku bangkit dan menyiapkan beberapa permohonan maaf basa-basi. Namun sebelum sempat mengucapkannya, lelaki itu membuka lengannya dan memelukku singkat. Wajahnya cerah saat ia menepuk-nepuk pundak sambil menyebutkan namaku, “Fajri!”

Ia mengenalku?

“Kamu tidak mengenaliku?”

Lalu ia terdiam, menatap saksama ke kedalaman mataku, seolah memberi kesempatan bagiku untuk mencetak skor sempurna dalam menebak jati dirinya. Setelah beberapa detik barulah tampak jelas dalam penglihatanku.. lelaki ini adalah kawanku yang dulu itu!

“Ardi!”

Aku menepuk-nepuk pundaknya dengan antusias. Ia ikut-ikutan menepuk pundakku. Hasilnya adalah serangkaian gerakan aneh di antara kami berdua. Cucu-cucuku memperhatikan kami dengan tatapan geli.

Tanpa mampu menahan diri aku kontan berkata, “Masih hidup juga kamu, Di! Bukankah dulu mau mati muda?”

“Ahahahaha.. begitulah. Ya mau bagaimana lagi.”

Kami menghentikan tepuk-tepukan kami dan menenangkan diri. Aku kembali duduk di bangku taman dan dengan satu gerakan tangan mengundang Ardi duduk di sebelahku.

“Tapi aku masih selalu mengharapkannya, Jri,” ucap Ardi sambil menyamankan posisi duduknya.

“Apa? Mati muda?”

Ia tersenyum. Lalu menoleh ke arahku seolah memberikan afirmasi. Dipalingkannya lagi kepalanya ke arah cucu-cucuku yang sudah kembali asyik bermain gulat. Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya bicara, “Iya, tentu saja. Belum terlambat untuk itu.”

“Kamu kan sudah tua, Di,” kataku, setengah bercanda.

“Ooh, tidak, tidak. Kamulah yang tua!” balasnya sambil tergelak. “Orang yang cuma duduk menonton permainan orang lain, itulah yang tua sekali. Ya kamu itu, Jri! Bukan aku. Hahahaha!”

Aku terkaget mendengar jawabannya. Ide mengenai ‘tua’ yang seperti itu tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya.

Agaknya ekspresi wajahku begitu aneh hingga Ardi tergerak untuk memberi penjelasan lebih lanjut, “Tua dan mudanya seseorang tidak hanya dinilai dari berapa lama ia hidup. Yang lebih penting adalah bagaimana ia menjalani hidupnya.”

Aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil diam-diam mengagumi kebijakan kawanku. Sambil menahan malu juga. Sebab rasanya amat pendek, amat kaku pikiranku selama ini. Ah betapa aku sudah sejak lama menjadi seorang tua!

“Jadi itu yang dulu kamu maksud dengan mati muda Di? Setua apapun angka usiamu kamu tetap mau mati sebagai orang berjiwa muda?”

Pertanyaanku yang bernada serius membuat Ardi tertawa. “Tidak juga sih, tidak juga,” katanya sambil mengatur nafas. Kemudian ia menjelaskan padaku bahwa dulunya ia sungguh-sungguh ingin mati dalam usia yang muda.

-akan disambung lagi-

Aku Akan Mati Muda

“Aku akan mati muda.”

Awalnya aku pikir itu hanya kata-kata iseng yang kebetulan saja terluncur dari lisannya, tapi semakin lama bersamanya aku jadi paham bahwa kata-kata itu amat serius. Suatu hari aku berkesempatan masuk ke kamarnya. Di dinding kamar yang putih bersih itu hanya ada satu tempelan sederhana, selembar karton berwarna hijau muda bertuliskan dua kata disertai emoticon: “mati muda :)”

“Hah?” Aku, waktu itu, menggumam heran.

“Haha, kenapa?” tanyanya.

“Kamu mau mati muda?”

“Bukannya aku sudah pernah bilang padamu?”

Dan aku tidak bisa menjawab. Aku tidak berani bertanya lebih. Pernahkah kamu berada pada situasi yang sangat misterius hingga takut untuk mencari kejelasan di baliknya? Begitulah yang kurasakan mengenai hal ini.

Kemudian di pikiranku mulai terputar suatu skenario dramatis.. jika saja besok ia mati tertabrak kereta di perlintasan.. atau tertabrak mobil di tengah riuhnya jalan raya.. tentu kejadian ini akan sangat menarik untuk diberitakan. Jika itu terjadi, jika kemudian aku meluaskan pembicaraan singkat nan misterius kami soal keinginannya untuk mati muda.. Aku jadi membayangkan tayangan infotainment (para selebritis sering menceritakan perihal ‘tanda-tanda’ atau ‘salam pamit’ itu kan).

Tapi nyatanya berbagai kecelakaan itu tak kunjung terjadi. Ia bertahan hidup, bahkan selalu sepenuhnya sehat. Tak pernah kulihat ia terbatuk-batuk atau terbersin-bersin. Pucat, berkeringat, atau menggigil pun kelihatannya tidak pernah terjadi pada tubuhnya.

Kemudian di pikiranku terputar skenario lain yang tak kalah dramatis.. bahwa sebenarnya ia adalah semacam makhluk-bukan-manusia yang berasal dari luar angkasa atau masa depan. Ia begitu sakti, tak bisa tergores segaris pun. Kekal! Jangan-jangan begitulah yang sebenarnya. Itulah mengapa ia begitu mendamba kematian di usia muda, justru karena ia tak mungkin mengalaminya.

Maka aku pun melalui hari-hari sambil diam-diam menunggu salah satu dari dua hal ini terjadi: pertama, kejadian tragis yang akan menewaskannya di usia muda dan kedua, gosip-gosip aneh mengenai kemunculan UFO atau mesin waktu di sekitar sini.

Tapi keduanya tidak pernah terjadi.

Ia lulus kuliah dengan baik, berpredikat cum laude meskipun bukan yang terbaik. Kemudian ia bekerja di suatu lembaga swadaya masyarakat (katanya karena lokasi kerjanya dekat dan bisa ia capai dengan bersepeda). Pada akhirnya ia sungguh tampak seperti orang biasa.

-akan disambung-