Cita-Citaku

“Tante Vivin cita-citanya pingin jadi apa?”

Itu bukan pertama kalinya Yuna, kelas 4 SD, bertanya soal cita-citaku. Kadang aku merasa pertanyaan macam ini sudah nggak cocok lagi untuk orang seumuranku. Oke, mungkin bukan nggak cocok. Semakin tua, pertanyaan ini menjadi semakin rumit untuk dijawab. Ketika SD mungkin pernyataan cita-cita hanyalah soal definisi identitas, individualitas. Sekarang cita-cita adalah soal tumpuk-tumpukan berbagai soal macam pertanggungjawaban, pengambilan keputusan, kesadaran diri, kekecewaan, persetujuan, kompromi, ‘takdir’… hmm apa lagi ya..

Aih. Begitulah. Cita-cita.

Malam itu, entah kesambet apa, aku lancar saja memberikan jawaban ini.

“Pingin jadi orang yang menyembuhkan luka hati orang lain.”

Pret. Mbelgedhes. Kata sebagian diriku di dalam…. :)

“Aah bukan gitu,” Yuna agak ragu menyalahkan. Mungkin dia menimbang apakah jawabanku masuk dalam kriteria cita-cita atau bukan. “Profesinya?”

Dan lisanku lancar menjawab, “Profesinya jadi pengangguran. Pengangguran profesional.” Jawaban yang sudah cukup sering asal kulontarkan pada teman-temanku. :))

Yuna jelas tampak tidak puas.

“Iya. Jadi orang yang pintar mengatur waktu sampai bisa punya waktu luang untuk nganggur. Terus nganggurnya dibuat untuk hal-hal bermanfaat. Kan ada tuh orang yang ngerasa sibuuuk terus setiap hari sampai nggak punya waktu luang. Padahal sebenarnya dia nggak ngapa-ngapain.”

Ha. Sebagian diriku sebenarnya agak ragu, ini bualan atau sungguhan.

“Jadi aku mau jadi pengangguran profesional. Bukan pengangguran amatiran.”

Gara-gara mengeluarkan istilah baru, Yuna menyambar dengan pertanyaan dan aku jadi kebingungan menjelaskan makna profesional, amatiran, serta perbedaan keduanya. Semoga nggak salah-salah amat.

Baik. Jadi… itulah sekelumit pengakuan tentang cita-citaku. Yah kalau Bu Septi Peni bisa mempopulerkan ibu profesional, maka aku akan mempopulerkan pengangguran profesional!!

 

 

 

 

 

..Halah.

Advertisements

Nguping Bocah: Konspirasi Air Mineral

Di suatu sekolah dasar di daerah urban, lima belas anak-anak berkumpul di satu kelas dan saling berinteraksi. Dari setiap gerak dan ucap mereka mengungkapkan diri masing-masing, lebih kaya dan berwarna ketimbang yang bisa dilaporkan oleh tes apapun.

Di hari pertama, di kala snack time baru berlangsung…

A: (mengeluarkan kotak bekal dan botol air mineral merek Aq*a)
B: (memandangi aktivitas A) “Kata ibu aku kan Aq*a itu dibeli Israel tau.”
A: (bengong)

Logbook K2N 2014: Maaf vs Damai

13 Agustus 2014, hari ke-9.

Sorenya saya menyusul teman-teman di Perpustakaan Sumber Ilmu. Di sana saya mendapati dua orang anak bertengkar dengan nuansa yang amat antagonistis.. ada unsur kebencian dan keinginan membalas dendam. Awalnya saya ingin diam saja, membiarkan mereka, dan pura-pura tidak tahu. Eh tapi tiba-tiba yang satu memukul yang lain dengan cukup keras sampai menangis. Maka saya coba ajak mereka ngobrol satu per satu, ingin tahu bagaimana anak kelas 1 dan 2 SD menghayati dirinya, perasaannya, dan hubungannya dengan orang lain.

Awalnya saya mengajak mereka untuk berdamai, sebab saya rasa istilah ini lebih menjunjung kesetaraan daripada kata ‘maaf’ yang mengharuskan ada pihak ‘peminta maaf’ dan ‘pemberi maaf’. Eh ternyata mereka menolak berdamai. Coba simak percakapan kami berikut..

A: Berdamai ya..
X & Y: (diam saja sambil cemberut)
A: (pada X) Mau berdamai tidak?
X: (menggeleng, Y melihat keengganan X)
A: (pada Y) Kamu mau berdamai tidak?
Y: (menggeleng)
A: Mau musuhan? Mau musuhan terus kah?
X & Y: (menggeleng!)
A: Lalu mau musuhan sampai kapan?
X: (mengangkat dua jari, menandakan dua hari!)
Y: (ikut mengangkat dua jari)
A: Ayolah maafkan temannya. Mau memaafkan tidak?
X & Y: (mengangguk enggan)
A: Mau memaafkan? (mengonfirmasi) Kalau berdamai tidak mau?
X & Y: (menggeleng)

Nah jadi mereka mau memaafkan tapi tidak mau berdamai. Wah ternyata begitu. Mungkin mereka punya konsep sendiri mengenai maaf dan damai yang berbeda dari konsep saya.

Di samping itu, hal yang menarik adalah bahwa mereka memiliki sikap yang jelas mengenai berapa hari mereka ingin mempertahankan permusuhan. Dua hari. Apakah ini berhubungan dengan larangan mendiamkan saudara selama tiga hari?

Menarik sekali. Cobalah seseorang teliti hal ini lebih lanjut. “Studi kualitatif penghayatan kebencian oleh anak-anak pada tahap early childhood“, bagaimana? :)

Why Behavioral Economics Is Cool, and I’m Not

Here. An interesting article contrasting behavioral economics and psychology.  Read, people, read!

When people think of economists, they picture smart people crunching numbers. When they think of psychology, they picture Sigmund Freud lying on a couch telling them they failed a driving test because they failed to kill their fathers and sleep with their mothers. (If you object to that, don’t worry; you’re in denial.)

http://www.huffingtonpost.com/adam-grant/why-behavioral-economics_b_5491960.html?utm_hp_ref=tw