Waktu Aku Kecil Aku Menginap di Rumah Teman dan Menyaksikan Ini…

Seingatku saat itu aku kelas 4 SD. Aku punya teman yang cukup dekat, namanya Susan. Cukup-dekat-nya tuh sampai level kayak gini: Walaupun, tentu saja, setiap hari bertemu di sekolah, aku dan Susan kadang saling mengirim surat via Pos. Hihi dulu aku nulis apa gitu ya..

Nah jadi suatu waktu saat libur bulan puasa, aku menginap di rumah Susan. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Mungkin 15 menit dengan sepeda.

Tiba saat berbuka puasa. Aku, Susan, ayah, ibu, dan adik laki-lakinya duduk mengelilingi meja makan. Aku lupa berapa umur adik laki-laki itu, seingatku 2 atau 3 tahun lebih muda dari kami. Ibu Susan sudah memasak menu berbuka yang terlihat lezat. Kami pun mulai makan.

Aku mulai menyuapkan sesuatu yang tampak seperti perkedel atau kroket ke mulut. Tampaknya sangat enak. Tapi begitu kukunyah.. hmm.. rasanya.. kurang cocok dengan ekspektasiku.. Aku pun mengesampingkan item itu….

Ibu susan kemudian bertanya pada si adik laki-laki, “Enak Fik?” merujuk pada sesuatu/perkedel/kroket yang barusan juga kumakan. Adik itu pun menjawab jujur, “Nggak enak Ma.” Aku tidak ingat apakah aku melihat raut kecewa di wajah ibunya..

Ibu Susan mempersilakan kami melanjutkan makan dan keluar dari ruang makan untuk bersiap shalat. Dan inilah yang aku saksikan..

Susan menoleh pada adiknya dan berkata dengan nada ndawuh, “Kamu itu masio nggak enak bilango aja enak.”

Whoa.

Aku merasa sangat kagum pada Susan saat itu. Kelas 4 SD lho. Susan ini padahal menurutku tergolong polos (pernah mengira Caprisone adalah bir, pernah menangis karena dia kira dia sudah makan tinta timbul dan akan segera mati keracunan). Betapa dia memiliki kepekaan, kelembutan hati, dan unggah-ungguh yang luhur. Apakah karena dia anak sulung? Kadang-kadang anak sulung memang.. hmm… beda.

Kalau di posisi adiknya sepertinya aku akan mengatakan hal yang sama. Dan kalau di posisi Susan sepertinya aku tidak akan kepikiran berbohong demi menyenangkan hati orang tua begitu. Kalau di posisi ibunya.. uwu.. sepertinya aku akan langsung peluk-peluk Susan.

Atau.. apa sebenarnya itu normal ya? Apa memang akhlakku saja yang terlalu rendah ya….


Wah sudah luama tidak menulis di sini. Aku post yang ringan-ringan dulu saja ya.

Advertisements

Nguping Ibu-Ibu: Yang Terhormat, Pak Suami..

Terjebak di antara obrolan ibu-ibu dan inilah yang aku dapatkan..

“Kalau saya, setiap kali cerita, tanggapan suami cuma Ohh, Iyaa, Sedih banget..”

“Me too… Hiks. Beliau ga yakin juga sih tentang kemampuan saya. :(“

“Sedih banget kan mba rasanya. Saya selalu berusaha mengerti kalau dia juga punya kesibukan dan tanggung jawab besar di kantor. Tapi seharusnya nggak menyerahkan perkembangan anak 100% ke istri kan ya? Inginnya saya sih gapapa lah weekdays anak full sama saya, dan weekend anak harusnya berkegiatan dengan ayah.. Tapi ngga pernah terlaksana.”

“Suami liburnya hari Minggu aja. Itu pun nggak mau diganggu anak-anaknya. Pusing banget. Akhirnya sepakat kalau Minggu itu waktu keluarga, renang sama anak-anaknya. Awalnya ngga mau, tapi lama-lama mau juga hihihi… Kasihan kan anak-anak juga pengen main sama ayahnya.”

“Iya mba, hari libur kebanyakan tidur dia.. huhu.. :'(
Renang juga sering mba, tapi anakku ngga mau kalo sama ayahnya aja. Anakku juga pasti temper tantrum kalo sama ayahnya.”

“Iya eh mba. Anakku ga pernah mau ditidurin ayahnya..”

“Gapapa, sabar. Pelan-pelan aja mba.”

“Iya. At least bisa diajak mengubah kebiasaan buruk dulu lah..
Tapi beberapa bulan terakhir aku ga terlalu banyak ngomongin anak, karena dia baru naik jabatan. Dari wajah terlihat banyak pikiran. Jadi aku ga berani juga ngajak diskusi tentang anak.”

Haum.. Menghela nafas…..

Kalau kamu, apa yang kamu rasakan saat membaca percakapan di atas?

Pindah

Seperti yang dapat dibaca baca laman perihal, aku mulai menulis di blog ini sekitar lima tahun lalu. Namanya—Out of Cave—pun menggambarkan apa yang saat itu tengah aku hadapi. Aku keluar dari rumah, berpindah tempat tinggal, sendirian. Aku tidak tahu bagaimana orang lain menghadapi hal semacam ini, tapi bagiku rasanya sangat… ugh, tidak menyenangkan. Aku merasa seperti kehilangan nutrisi. Setiap saat terasa melelahkan. Kehadiran teman dan suasana ramai justru membuat sepi semakin menjalar-jalar.

Awalnya aku tinggal di asrama. Tidak sampai sebulan berdiam di kamar baru, aku harus berpindah ke kamar di gedung lain. Jaraknya agak jauh. Mengangkut barang-barang memang cukup melelahkan, tapi aku merasakan kelelahan yang lebih berat secara mental. Malam itu aku menangis.

Beberapa bulan berselang, aku bisa merasa nyaman dengan kamar itu. Sayangnya, perbaikan lorong membuat aku harus berpindah kamar lagi ke gedung lain. Angkut-angkut lagi.

Sekitar enam bulan kemudian aku memilih untuk keluar dari asrama dan menyewa kamar kost. Angkut-angkut lagi..

Dua bulan kemudian, karena terlalu mahal dan terlalu jauh dari kampus, aku memutuskan berpindah kost. Kali ini aku harus ‘memarkirkan’ dulu barang-barangku di tempat seorang teman. Ini karena hingga tanggal sewa di tempat lama berakhir aku belum juga menemukan kost baru. Maka untuk kali ini angkut-angkutnya dobel…

Kamar kost yang kedua kutinggali sekitar tiga tahun. Lalu aku berpindah lagi.

Kamar kost yang ketiga ternyata tidak kutinggali lama-lama. Kurang dari dua bulan, dan aku pun mengepak barang-barang untuk berpindah lagi …ke sini.

Setiap kali mengepak dan mengangkut barang, terlintas di kepalaku: Nanti mau punya suami yang kaya aja ya Allah biar langsung punya rumah di tempat yang nyaman, nggak perlu ngontrak-ngontrak dan pindah-pindah….

Hahahah. Tentu saja itu cuma lintasan pikiran usil. Sebenarnya, semakin sering aku berpindah, pikiran usil itu pun semakin meredup. Kelelahan fisiknya tetap nyata, tapi kelelahan mentalnya sudah tidak seberapa. Berpindah-pindah, aku yakin, adalah bentuk latihan adaptasi yang baik. Mungkin kamu orang yang sudah dari sononya jago beradaptasi. Mungkin berpindah tidak pernah jadi urusan berat buatmu. Tapi bagiku berpindah adalah hal buesar. Berpindah melatihku jadi lebih pemberani, lebih siap menghadapi perubahan, dan lebih banyak belajar. ‘Lebih’ dari yang dulu lho, bukan lebih dari kamu. :)

Di atas semua itu, berpindah selalu mengingatkanku bahwa dunia yang aku pijak sekarang ini sebenarnya juga tempat singgah. Cepat atau lambat lagi-lagi aku akan berpindah. Dan untuk yang satu itu mungkin perjalanannya akan lebih jauh dari yang sudah-sudah.

Nguping Bocah: Pengaruh Tren Cincin Akik terhadap Kesejahteraan Anak, Sebuah Studi Kasus

A: “Wahh seneng banget deh hari ini bisa keluar rumah.”

D: “Lho emangnya biasanya gimana?”

A: “Biasanya setiap hari..” (sambil menggilir kesepuluh jari seperti sedang berhitung) “.. di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah, di rumah. Kalau aku ajak keluar jawabannya selalu..” (sambil menggilir kesepuluh jari lagi) “.. ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit, ga ada duit.”

D: “Haha. Uangnya ditabung mungkin buat kamu sekolah.”

A: “Ayah tuh sebenarnya uangnya banyak. Tapi disimpen buat beli cincin.”