Alkisah, di jendela WhatsApp…

M: [Sending a pic of someone starting grad school]
“Ga pingin kuliah maneh a?”

A: “Aku ‘belajar’ maneh kok.”

M: “Wuf.”

Keterangan gambar: Suatu sore, belanja bawang merah di warung dekat kosan, bungkusnya begini.

Advertisements

Terhadap Anak-anak

Kedua teks berikut sampai di ponselku dalam jam yang sama…

Percakapan antara teman A dan teman B

A: Ambek Vivin ae lo. Podo-podo psikologi, Suroboyo pisan. [Jo. Sama Vivin aja lho. Sama-sama psikologi, Surabaya juga.]
B: Mmoh. [Gak mau.]
A: Loh, opoo? [Loh, kenapa?]
B: Engkuk anakku mati kabeh. [Nanti anakku mati semua.]
A: Loh, kok isok? [Loh, kok bisa?]
B: Vivin lo gak seneng arek cilik. [Vivin lo gak suka anak kecil.]

Kata teman C kepadaku:

“Aku selalu mikir kamu bakal jadi ibu yang keren gitu lho. Bukan yang unyu-unyuin anak gitu, tapi cuek-cuek cool. Kayak ga akan membatasi, bebas aja mau ngapain asal mikir dan tanggung jawab. Terus bentuk kasih sayang kamu adalah ilmu, dengan cara ajak baca dan diskusi. Menurutku yah, hehe.”

Whah, entahlah yah. :’) Terima kasih teman A, B, C, mohon doanya agar aku bisa melimpahkan kasih sayang dan tidak membuat anak orang (berdua sih ya mz) jadi mati.