Nguping Bapaknya Bocah: Tips Menghadapi Protes Bocah

Suatu petang, saat si bapak dan ibu hendak keluar untuk makan malam bersama, Heva (kelas 1 SD) melancarkan protesnya..

Heva: “Lhoo kok yang diajak umi doang? Curaang…”
Bapaknya: “Nggak boleh protes. Umi ngelahirin kamu. Emang kamu ngelahirin umi?”
Heva: “……..”

Bisa juga diganti dengan, “Papa ngasih kamu uang saku. Emang kamu ngasih papa?” dan semacamnya.

Semoga berhasil.

Nguping Bocah: Rahim Lungsuran Kakak

“Afna, kamu itu di perutnya umi kan bekasnya Rama, aku, sama Heva tau,”

–Yuna, diucapkan dengan nada meledek.

Adalah merupakan nasib seorang adik, terutama bungsu, untuk menerima lungsuran barang-barang bekas dari kakaknya. Mulai stroller bekas, mainan bekas, baju bekas, buku bekas, dan–oh tentu saja– ‘rahim bekas’.

Nggak papa kok, kan masih bagus.

Kembali pada Tuhan oleh Jalaluddin Rumi

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya.

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya.
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyu, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan
karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata palsumu.
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya.

Wahai pejalan..
biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji
ayolah datang, dan datang lagi
karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa dan terpuruk ke dalam jurang, ingatlah pada-Ku, karena Aku-lah jalan itu.”

"Kembalilah pada Tuhan oleh Jalaluddin Rumi" sebagaimana diposkan dalamĀ grup WhatsApp oleh Kak Nazirah. Belum googling lebih dalam untuk memastikan keabsahan sumbernya. But let that aside, isn't this just.. beautiful?

The Word

Zuleika had a secret, every word
or phrase she spoke in secret ways referred

to her beloved Yusuf. If she said,
“The moon is out tonight,” she meant instead

to say she loved him. When she said, “Aloe”
or “Spice” or “bread,” her confidantes would know

that it was code for Yusuf; every phrase
a tribute to his beauty and his ways.

You could say, and by now you may have guessed,
that Zuleika lived a life that was obsessed

with Yusuf; she had turned the very gift
of speech to magic, making meanings drift

and making words say what they never meant.
The blandest phrases turned to sentiment

and thoughts and praises of Yusuf. When she cursed
aloud she meant she wanted time reversed

to once again the hour they last met
when parting made her words turn to regret.

His was the name that every morning burst
from her lips and quenched her every thirst

his name would warm Zuleika in the cold.
And just so, all believers should be told,

that when you seek salvation for your soul
you merge into the ocean of the whole

so lover and beloved are the same
your Zuleika is merely Yusuf’s name

and even though your linguist thinks it odd
all pronouncements are one–the word is “God.”

The syllable that permeates all things
exploding stars and songs the robin sings.

"The Word", A poem by Rumi, as translated by Farrukh Dhondy