Our Story?

All this time, I’d thought that our story was just that: our story. But it turns out you had your own story, and I had mine. Our stories might have overlapped for a while–long enough that they even looked like the same story. But they were different. ¬†And that made me realize this: everyone’s story is different, all the time. No one is ever really together, even if it looks for a while like they are.

from The Thing About Jellyfish by Ali Benjamin

Nguping Bapaknya Bocah: Tips Menghadapi Protes Bocah

Suatu petang, saat si bapak dan ibu hendak keluar untuk makan malam bersama, Heva (kelas 1 SD) melancarkan protesnya..

Heva: “Lhoo kok yang diajak umi doang? Curaang…”
Bapaknya: “Nggak boleh protes. Umi ngelahirin kamu. Emang kamu ngelahirin umi?”
Heva: “……..”

Bisa juga diganti dengan, “Papa ngasih kamu uang saku. Emang kamu ngasih papa?” dan semacamnya.

Semoga berhasil.

Nguping Bocah: Rahim Lungsuran Kakak

“Afna, kamu itu di perutnya umi kan bekasnya Rama, aku, sama Heva tau,”

–Yuna, diucapkan dengan nada meledek.

Adalah merupakan nasib seorang adik, terutama bungsu, untuk menerima lungsuran barang-barang bekas dari kakaknya. Mulai stroller bekas, mainan bekas, baju bekas, buku bekas, dan–oh tentu saja– ‘rahim bekas’.

Nggak papa kok, kan masih bagus.

Kembali pada Tuhan oleh Jalaluddin Rumi

Jika engkau belum mempunyai ilmu, hanyalah prasangka, maka milikilah prasangka yang baik tentang Tuhan.
Begitulah caranya.

Jika engkau hanya mampu merangkak, maka merangkaklah kepada-Nya.
Jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyu, maka tetaplah persembahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan
karena Tuhan dengan rahmat-Nya akan tetap menerima mata palsumu.
Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan, maka kurangilah menjadi sembilan puluh sembilan saja.
Begitulah caranya.

Wahai pejalan..
biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji
ayolah datang, dan datang lagi
karena Tuhan telah berfirman:
“Ketika engkau melambung ke angkasa dan terpuruk ke dalam jurang, ingatlah pada-Ku, karena Aku-lah jalan itu.”

"Kembalilah pada Tuhan oleh Jalaluddin Rumi" sebagaimana diposkan dalam grup WhatsApp oleh Kak Nazirah. Belum googling lebih dalam untuk memastikan keabsahan sumbernya. But let that aside, isn't this just.. beautiful?